Senin, 25 Mei 2015

Sejuta Makna di Balik Tetesan Peluh Usaha

Bismillahirrohmanirrohim,
Sejenak kulepaskan segala beban yang ada di pikiranku. Mencoba dengan tenang kugerakkan jemari menelusuri huruf-huruf di keyboard. Kulayangkan pandanganku ke atas, berharap temukan sebuah inspirasi yang akan mengantarkan gerakan tanganku memenuhi lembar kerja kosong yang entah berapa lama terpampang di depan kedua bola mataku. Perlahan satu kata kuhadirkan di pojok kiri atas. Aku berharap dengan satu kata itu akan menghadirkan kata-kata yang masih berputar di benakku namun belum hendak memunculkan sosok indahnya. Kupandangi sejenak tulisan itu, hanya sepertiga dari deretan baris pertama. Kulihat lagi ke bawah, masih terbalut dengan warna putih bersih. Ya Allah, berapa kata lagi yang harus kuketik untuk menutupi lembaran tak bernoda ini? Rasanya hanya 0,000 sekian persen dari satu lembar word. Namun, tak ingin berhenti sampai di sini, kucoba hilangkan pikiran negatif itu, aku yakin bahwa optimis akan membuahkan keberhasilan. Yah, satu kata pertama itu yang kan memancing seribu bahkan sejuta kata-kata yang masih tersembunyi dibalik jemariku. Bimu’awanatillah, insya Allah.

Kembali aku teringat dengan kata-kata yang diucapkan oleh dosen mata kuliah Tafsir Bimbingan dan Konseling Islam di kelasku, B3 BKI (Senin, 27 April 2015). Terhitung 3 jam yang lalu, dosen yang kerap kali kami sapa Prof. Ali tersebut mengatakan: “Bersyukurlah jika kalian bertemu dengan orang yang memaksa kalian.” Sejenak aku mencoba mencari kebenaran dari kata-kata itu, mengingat-ingat kejadian yang pernah kualami dari masa kecilku. “Memang benar, berkat orang-orang yang memaksaku-lah aku bisa menjadi lebih baik. Tanpa ada yang memaksaku, aku pasti tetap diam di tempat, tidak bergeser satu langkahpun dari titik asal.” ungkapku dalam hati. Alhamdulillah, terimakasih Allah, Kau telah mengahadirkan mereka dalam hidupku, yang tak lain salah satunya adalah Prof. Dr. M. Ali Aziz, M.Ag yang terus memaksa kami untuk menulis, menulis dan terus menulis. Entah apapun yang akan kami tulis, tetaplah menulis. Demikian nasehatnya. Bukan hanya paksaan yang kami terima, tapi juga solusi dan motivasi bagaimana kami bisa terus bersemangat untuk menulis. “Kalian bisa!” ujarmya dengan yakin. Dari segala kata-kata motivasi juga cerita-cerita yang disampaikannya tentang manfaat menulis, baru saat ini-lah hati juga tanganku benar-benar tergerak untuk terus menulis. Ingin mulai hari ini kutekadkan dalam hati, “Tidak ada hariku tanpa menulis.” Bismillah.
Tiba-tiba aku teringat dengan kalimat yang pernah kutulis beberapa minggu yang lalu saat aku memiliki semangat untuk menulis, “Merupakan  kesia-siaan jika hari-hari terlewati tanpa ada istifadah. Membiarkan jutaan bahkan milyaran jam tanpa ada bekas yang mengantarkan diri menjadi yang lebih baik dan lebih berarti. Itulah yang kini baru kusadari. Waktu-waktu yang telah terjalani dahulu bagaikan mimpi yang hanya terekam sebagian di memori, atau bahkan tak ada seberapa persen darinya yang mampu kuingat. Karena “memori ingatan manusia terbatas”, itulah alasannya. Tak menginginkan hal itu terjadi kembali, dengan kertas ini ingin kucurahkan segala yang ingin kuungkapkan agar bisa mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah kualami, masalah-masalah yang kuhadapi, juga berjuta emosi yang hadir dalam hati. Aku berharap semoga torehan ini dapat membantu ingatanku yang terbatas untuk mengingat hari-hari yang telah kulewati. Semoga istiqomah, aamiin.”, tertulis 12 Maret 2015.
Mengingat saat aku menulis kata-kata itu, seakan niatku tak tergoyahkan lagi untuk menulis. Namun ternyata setelah hari-hari berikutnya berlalu, niat itu seolah-olah hilang tanpa bekas. Detik ini, aku tidak ingin hal itu terjadi kembali. Aku ingin memperbarui niatku untuk menulis. Segala alasan yang menyurutkan niat harus kukalahkan. Seperti halnya masalah yang sebelumnya menjadikan banyaknya kegiatan sebagai alasanku untuk berhenti menulis. Akhirnya masalah ini terjawab oleh kata-kata Prof. Ali, “Menulis itu bukan pilihan tapi kewajiban,” ujarnya. “Oh, iya.” ungkapku dalam hati. Aku baru menyadari ternyata yang membuat semangatku pasang surut untuk menulis adalah mindset-ku sendiri yang masih menganggap bahwa menulis itu pilihan. Sehingga apabila ada tugas maupun kegiatan lain yang menuntut pasti aku dahulukan dari pada menulis, yang akhirnya membuat waktuku untuk menulis menjadi tergantikan dengan tugas lainnya. Padahal keduanya sama-sama tugas yang harus aku kerjakan. Dan kini  aku berpikir, aku pasti bisa menyelesaikan keduanya tanpa harus meninggalkan salah satu. Itulah mindset yang harus aku ubah. Menulis bukanlah suatu pilihan tapi kewajiban yang harus aku lakukan. Semoga niatku untuk menulis ini tidak setengah-setengah. Aamiin.
Memang, menulis itu butuh kebiasaan. Setiap orang bisa menulis, namun tidak semua dari mereka yang bisa mengembangkan potensi itu. Yah, hanya yang mau membiasakan menulis-lah yang kan melejit dengan berbagai karyanya. Aku teringat satu motivasi Prof. Ali saat ada yang bertanya tentang cara belajar yang baik. “Sang Pencipta memang memberikan tingkat kecerdasan otak berbeda antara satu hamba-Nya dengan yang lain. Akan tetapi mereka mempunyai potensi kesuksesan yang sama tergantung siapa yang mau berusaha keras meraih kesuksesan itu. Jika kamu beralasan bahwa tidak bisa mendapatkan nilai lebih baik dari pada yang kamu anggap pintar karena ia otaknya lebih cerdas, kamu salah. Kamu juga bisa lebih darinya, tapi kamu butuh usaha yang jauh lebih besar. Kamu menyadari bahwa dia memiliki kecerdasan yang lebih, mengapa kamu lebih suka meniru cara belajarnya? Bagaimana bisa kamu menyainginya? Kamu harus berusaha lebih keras. Sebagai perumpamaan, ada kelinci dan kura-kura yang sama-sama ingin berlari sejauh 50m. Bisakah keduanya sampai? Bisa, bahkan hewan dengan kecepatan terendah sekalipun bisa, hanya saja perlu usaha yang lebih keras. Maka tidak ada seorang pun yang tidak bisa di dunia ini selama ia mau berusaha. Jangan takut kalah jika mereka lebih dahulu sampai, karena memang mereka mempunyai kemampuan lebih, dan itupun mudah bagi mereka. Maka bagi kamu, yakinlah bahwa kamu juga bisa melampaui pencapaian mereka meski usahamu harus berkali-kali lipat lebih dari mereka, dan itulah yang patut untuk diacungi jempol. Mereka biasa jika sukses sedangkan kamu luar biasa jika bisa seperti mereka bahkan melampauinya.” tegasnya. Dari kata-kata itulah kucoba meyakinkan diri bahwa aku juga bisa menjadi penulis. Meski kadang ragu masih saja hadir di benakku saat membaca tulisan teman-teman yang jauh lebih berkualitas dan bermakna dari pada milikku. Seakan-akan, penulis adalah posisi mustahil yang bisa aku tempati. Aku malu saat tulisanku dibaca oleh orang lain. Tapi ku coba pikir kembali, “Bagaimana tulisanku bisa berkembang kalau tidak ada yang memberikan komentar? Bagaimana mungkin seseorang bisa langsung menghasilkan tulisan tanpa komentar berupa kritikan? Mustahil, sepandai-pandai apapun menulis pasti ada yang perlu diperbaiki, lalu buat apa malu kalau dengan komentar itu tulisan menjadi lebih baik?”. Hmmm, di sinilah ku harus mulai untuk menampakkan tulisanku dan mengharapkan kritik dan saran guna memperbaikinya.
Mengenai tugas menulis sebanyak 50 lembar ini, sungguh merupakan tugas yang berat bagiku. Apalagi ditambah dengan pemberitahuan bahwa penulisan harus menggunakan spasi 1. Ya Allah, pertama kali mengetahui akan hal itu rasanya tubuh tak bertulang lagi, lemas tanpa daya. Aku teringat dengan tugas menulis di semester satu, yang hanya 10 lembar dengan spasi 1,5 tapi membuatku begitu terpikirkan olehnya. Yah, mungkin karena aku belum penah menghasilkan tulisan sebanyak ini. Aku tidak bisa lagi membayangkan apa yang akan kutuliskan dalam 50 lembar kerja (word) kosong ini. Terlalu banyak, hmmm. Namun, sekilas pikiran itu berbalik 360° saat pertama kali Prof. Ali menargetkan harus selesai 30 halaman. Dengan tanpa keyakinan, kucoba menyelesaikan tugas itu. Lima hari kufokuskan pikiranku untuk menggarapnya. Meski keluh kesah datang menghampiri namun kewajiban ini telah mengalahkan segala rasa pesimis dan malasku. Hingga akhirnya terbukti, di hari terakhir pengumpulan aku benar-benar bisa menyelesaikan sebuah tugas yang amat berat sekali menurutku. Memang, diriku butuh pemaksaan. Di sinilah aku membuktikan kata-kata Prof. Ali, “Kamu itu orang hebat. Kerahkan segala usahamu dan kamu pasti akan tahu betapa hebatnya dirimu. Aku tidak percaya kalau kamu hanya bisa seperti ini.” demikian ungkapnya. Maka, dengan terselesaikannya 30 lembar itu, kini kumulai yakin dengan 20 lembar selanjutnya. Jika ku mau, ku pasti bisa. Bismillah.
Berbagai rasa, senang, bergairah, gugup, cemas, takut dan berjuta rasa lainnya telah hinggap dalam perasaan ini saat melewati detik demi detik bersama Prof. Ali, Ustadz Yaqin serta teman-teman BKI B3 Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Banyaknya ilmu dan pengalaman yang kudapatkan dari waktu yang kulalui itu tentu takkan habis untuk kutulis. Di sinilah kucoba merangkai kata-kata mewakili apa yang kudapatkan serta yang kurasakan di kala itu, dimulai dari hari pertama perkuliahan hingga pertemuan-pertemuan berikutnya.

---------------------------------------------***--------------------------------------------

Lia Lutfiana Febriyanti, itulah namaku. Aku sering disapa dengan panggilan Lia, meski kadang tidak membuatku refleks untuk menengokkan kepala saat orang lain memanggilku, karena sedari kecil aku memang lebih akrab dipanggil Febi. Aku terlahir dari dua orang tua yang sangat menyayangiku. Berkat kasih sayang merekalah aku bisa hadir di tengah orang-orang hebat sekarang ini. Juga do’a yang tak hentinya mereka panjatkan membuat nikmat Allah selalu meliputiku. Alhamdulillah. Semoga Allah selalu meridhoi setiap langkah kaki mereka. Aamiin.
Senin, 02 Maret 2015, itulah hari pertama perkuliahan semester 2. Sebelum dimulai, serentak aku dan teman-teman melafadzkan do’a yang kami dapatkan dari pembelajaran di Genta English Course, Pare, Kediri sebulan yang lalu. Sebuah lantunan do’a yang indah dengan irama religiusnya.
اللهم اغفر لنا ذنوبنا ولوالدينا وارحمهما كما ربيانا صغارا
“Oh, our God. Forgive us and our parents. Bless them as they care us since baby”
رب اشرح لي صدري ويسر لي امري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي
“Ya Allah, give me relieved. Make easy with may matter. Get my tongue to be fluence and realize my word”
اللهم يا معلم ابراهيم علمنا ويا مفهم سليمان فهمنا. آمين....
Di hari itu Prof. Ali membuka mata kuliah Tafsir BKI dengan berbagai motivasi sebagai penyemangat awal, serta penjelasan tentang tugas yang akan menjadi tanggungjawab kelas kami (BKI B3) kedepannya. Tugas yang diberikan yaitu membuat makalah yang berisi ayat-ayat al-Qur’an tentang Bimbingan dan Konseling Islam. Pertama, Prof. Ali menjelaskan struktur penulisan makalah. Sebagaimana biasanya, makalah kali ini terdiri atas lembar judul, kata pengantar, daftar isi, pembahasan, penutup dan yang terakhir adalah daftar pustaka. Dalam hal ini Prof. Ali tidak menjelaskan secara menyeluruh. Beliau lebih menekankan pada pembahasan yang terdiri atas beberapa bab. Bab 1 membahas tentang dasar-dasar kewajiban dakwah yang terdiri atas beberapa sub bab, yakni kewajiban dakwah, metode dakwah dan mitra dakwah. Dari beberapa sub bab tersebut, yang menjadi pembahasan yakni ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan dengan sub bab. Demikian halnya dengan bab-bab selanjutnya yang membahas tentang potensi positif manusia, potensi negatif manusia dan seterusnya yang telah tertulis dalam lembaran silabus. Bagi tiap-tiap ayat terdiri dari munasabah, tafsir dan kesimpulan.
Bagian yang menjadi fokus kami pertama yakni tentang munasabah, terlihat dari beberapa teman yang menanyakan maksud munasabah tersebut. Demikian halnya denganku, meski kata itu tak asing lagi terdengar di telingaku, amun penjelasan yang pernah aku dapatkan belum sepenuhnya melekat dalam ingatanku. Aku masih membutuhkan ketrangan yang lebih memahamkan. Menanggapi pertanyaan teman-teman, Prof. Ali segera menjelaskan, diikuti antusias dari kami untuk mendengarkan dengan sunggung-sungguh. Setelah beliau menjelaskan dengan beberapa kalimat sebagai langkah awal memancing pemahaman kami, kemudian kami diminta untuk mempraktekannya langsung dengan membuka kitab al-Qur’an surat al-Baqarah. Prof. Ali memberikan pertanyaan, “Apa munasabah surat al-Baqarah ayat 3?” Dengan serentak, kami menjawab, “Munasabah ayat tersebut dengan ayat sebelumnya yaitu menjelaskan tentang maksud kata mutttaqin yang terdapat di ujung ayat ke 2 dari surat al-Baqarah.” Prof. Ali mengangguk dan mengatakan, “Itu adalah contoh munasabah yang paling mudah, untuk contoh munasabah yang agak sulit, coba buka surat Ali Imran ayat 109.” Dengan serius, aku dan teman-teman mencoba memahami munasabah ayat tersebut. Prof. Ali memberikan waktu kepada kami untuk berpikir. Akhirnya, tak lama kemudian ada seorang dari temanku yang menjawab, diikuti oleh beberapa teman lainnya. Prof. Ali membenarkan semua jawaban teman-teman, karena berdasarkan uraian beliau bahwa munasabah itu subjektif, terserah yang menafsirkan. Demikianlah hingga beberapa ayat sebagai latihan kami untuk mencari munasabah dalam sebuah ayat. Dan di akhir penjelasan, Prof. Ali menekankan tentang sistematika dalam penyampaian munasabah, yakni dengan awalan kalimat “Ayat sebelumnya yakni ayat..... menjelaskan tentang ...., maka pada ayat ini dijelaskan tentang.....” atau “Pada ayat ini yakni ayat.... menjelaskan tentang.... yang berhubungan dengan ayat sebelumnya yakni membahas tentang.....”, demikian jelas Prof. Ali.
Tak ingin menghabiskan pertemuan hari itu dengan hanya membahas munasabah, segera kami beralih membahas tentang tafsir, yang menjadi pokok mata kuliah. Prof. Ali membagi anggota kelas menjadi 3 kelompok yang terdiri dari 10 individu dari tiap kelompoknya. Perwakilan dari kami, yakni Faisal sebagai kosma kelas, membagi nama-nama yang akan menjadi bagian dari kelompok-kelompok tersebut. Begitu spektakuler, tak hanya 1 tafsir yang akan dipelajari akan tetapi 3 sekaligus. Jadi, tiap kelompok mendiskusikan tafsir yang berbeda. Berdasarkan kesepakatan, 3 referensi kitab tafsir yang akan menjadi acuan makalah kami nantinya yaitu Tafsir al-Munir, Tafsir al-Azhar dan Tafsir Ibnu Katsir. Seketika suasana ruang kelaspun berubah, yang tadinya hening menjadi agak ribut karena antusias kami yang dengan penuh harap mendaftarkan nama sebagai anggota kelompok 1, 2 atau 3.
Tanpa berpikir panjang, pertama kali yang terbesit dalam benakku ketika itu adalah kelompok 1 yang membahas Tafsir al-Munir. Bukan tanpa alasan tentunya. Setelah mendengar penjelasan dari Prof. Ali yang mengatakan bahwa Tafsir al-Munir menggunakan bahasa Arab, aku langsung tertarik. Ditambah dengan ajakan Sofi dan Sabila akhirnya namaku pun dicantumkan sebagai anggota kelompok 1. Alhamdulillah, inilah pertama kalinya aku membuat makalah berbahasa Arab. Yah, sebuah tantangan yang lama kutunggu. Tak cukup sampai di situ, seperti semester 1 Prof. Ali menargetkan tugas selesai dalam kurun waktu satu minggu. Wah, kaget sekali rasanya setelah mendengarkan permintaan Prof. Ali itu. Aku pun bertanya-tanya dalam hati, “Bisa gak ya?”. Aku ragu dengan banyaknya ayat al-Qur’an yang harus dicari tafsir dan munasabahnya, apalagi dengan bahasa Arab. Namun, dengan kata-katanya yang bijak dan penuh motivasi, Prof. Ali mampu mengubah pesimis kami menjadi optimis yang tinggi. “Saya yakin kalian bisa!”, ungkap Prof. Ali di akhir motivasinya.Amin.” jawabku.
Perkuliahan hari pertama mata kuliah Tasfsir BKI berhenti sampai di sini. Kami menutupnya dengan do’a seperti biasa yang dilantunkan ketika akan pulang. Demikianlah do’anya:
اللهم اجعل نفسي نفسا طيبة مطمئنة طائعة حافظة نؤمن بلقائك #
 ونقنع بعطائك ونرضى بقضائك ونخشك حق خشيتك لاحول ولا قوة الا بالله العلي العظيم
“Oh Allah, make my soul good, soft and ebiding lust, memorize lust, we are certain that we’ll meet you. And we submit sincerely everything you’ve given to me, we ae pleased with your disposes and we are afraid of you so much”
Setelah Prof. Ali meninggalkan ruang kelas, sebagai langkah awal ketua kelompok 1 yakni Faisal mengumpulkan anggotanya. Karena terdapat empat bab, akhirnya kelompok kami sepakat untuk membaginya menjadi empat kelompok, dan aku mendapat bab ke 3 bersama Sofi dan Sabila tentang potensi negatif manusia yang terdiri dari 20 ayat al-Qur’an. Untuk mencicil tugas yang banyak tersebut akhirnya aku dan teman-teman lainnya sepakat untuk langsung pergi ke perpustakaan selepas pembagian tadi. Dengan berbekal kertas silabus, aku bersama teman sekelompok mencoba mencari di Opec untuk menemukan letak Tafsir al-Munir. Setelah beberapa kata kami ketik sebagai password, akhirnya kami mengetahui tempatnya dan segera mencari. Satu persatu juz dari kitab Tafsir al-Munir dibuka untuk mencari ayat-ayat yang menjadi bagian kami. Kami catat letaknya dan kami tandai kitabnya untuk kami datangi esoknya. Demikianlah hingga akhirnya usaha kami pada hari pertama dicukupkan untuk dilanjutkan pada hari esok.

--------------

Seminggu berlalu, kini tiba pertemuan kedua mata kuliah Tafsir BKI. Seperti biasa, sebagai awal pembicaraan, Prof. Ali memberikan kata-kata motivasinya untuk membangkitkan semangat kami.  Kemudian beliau menagih tugas yang diberikan minggu lalu. Dengan penuh hormat, teman-teman yang mewakili tiap kelompok menyerahkan tugasnya kepada Prof. Ali dalam bentuk lembaran kertas yang belum dijilid, hanya dijepit dengan penjepit kertas yang besar karena banyaknya lembar. Dengan perlahan Prof. Ali membuka dan mengoreksi tugas kami. Wah…. Ternyata tugas kami banyak yang harus direvisi. Namun, Prof. Ali tetap memberikan semangat serta apresiasi kepada kami dan mengatakan bahwa dalam membuat buku tidak mungkin selesai sempurna hanya dengan sekali penge-print-an, buku bisa menjadi benar-benar sempurna tanpa ada salah satupun setidaknya setelah di-print selama 11 kali. Demikian ungkap Prof. Ali dengan menunjukkan satu bukunya yang masih dalam tahap pengeditan. Meski telah dikoreksi empat kali namun masih saja ada beberapa huruf yang salah. Dari cerita Prof. Ali tersebut, kami lebih semangat untuk melakukan revisi, sebagaimana yang sering diungkapkan beliau, “Hidup masih koma”. Tidak ada kata gagal selagi mau berusaha.
Tidak cukup dengan apresiasi, karena banyaknya kesalahan yang masih harus kami perbaiki, kemudian Prof. Ali kembali menjelaskan bagaimana cara penyusunan tugas yang dimaksud. Kesalahan terbesar pada hari pertama tersebut yakni tentang redaksi munasabah. Masih banyak kata-kata yang kurang cocok untuk digunakan dalam menjelaskan munasabah suatu ayat. Akhirnya Prof. Ali kembali menerangkan tentang hal itu dengan langsung praktek mencari munasabah. Prof. Ali menyebutkan satu ayat al-Qur’an kemudian meminta kami untuk mencari munasabah ayat tersebut dengan ayat sebelumnya. Alhamdulillah, di hari itu kami lebih mengerti tentang tata cara mencari juga menjelaskan munasabah. Di hari itu pula, bersama Prof. Ali kami dibimbing untuk mengulas satu persatu makalah dari ketiga kelompok, yakni munasabah dan kesimpulannya. Mengenai tafsir, beliau belum menyinggungnya karena yang perlu diulas yakni bagian yang merupakan hasil dari pemikiran kami sendiri, sedangkan tafsir hanya menyalin dari referensi aslinya.
Sebelum perkuliahan ditutup, Prof. Ali menyampaikan satu hal, yakni bahwa beliau tidak bisa hadir pada pertemuan kuliah yang ketiga (minggu depan) dikarenakan ada acara yang tidak bisa beliau tinggalkan. Jika ada dosen yang mengganti maka akan ada yang memandu diskusi kelas kami minggu depan, jika tidak maka kami diberi amanah untuk berdiskusi sendiri. Demikian akhir dari pertemuan kedua dalam kelas bersama Prof. Ali.

---------------

Senin, 23 April 2015, ada hal yang berbeda pada hari itu. Sosok yang biasanya terlihat tidak asing lagi di mata kami pada hari Senin di ruang D1.203 gedung A fakultas Dakwah dan Komunikasi, yakni Prof. Ali, kini sosok yang hadir di kelas adalah orang yang sebelumnya belum pernah kami lihat. Dengan memakai jas abu-abu dilapisi dengan jaket, orang tersebut berhasil menarik perhatian kami. Dialah dosen yang akan memandu kelas kami pada hari itu sebagai ganti atau wakil Prof. Ali yang sebelumnya telah memberitahu kepada kami bahwa beliau tidak bisa hadir.
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.”, ucapnya kepada kami. “Wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarokatuh”, jawab kami serentak. Suasana hening seketika, barulah tak lama kemudian kalimat-kalimat bahasa Arab keluar dari lisannya, yang menjelaskan bahwa beliau adalah dosen yang akan memandu diskusi kelas kami ketika itu sebagai ganti ketidakhadiran Prof. Ali. “Wah….”, ungkapku kagum dalam hati. Bahasa Arabnya begitu lancar seakan memang hari-harinya selalu berbahasa Arab.
Sebagai awal pertemuan kami dengan beliau, tentu yang pertama kali diharapkan adalah perkenalan. “Tak kenal maka ta’aruf”, ujar salah seorang mahasiswa yang berada di dalam kelas. Suasana kelas kini tampak kembali akrab seperti biasanya. Dengan menayangkan powerpoint untuk menjelaskan Curriculum Vitae dari dosen baru tersebut, kami begitu antusias menanggapinya. Hingga pada slide yang pertama tertulis nama Ainul Yaqin, demikianlah beliau memperkenalkan namanya. Tak berhenti sampai slide pertama, ternyata banyak sekali slide-slide berikutnya yang justru tambah menarik. Slide tersebut berisi riwayat pindidikan Ust. Yaqin yang dikemas dalam gambar-gambar saat beliau kuliah di Universitas al-Azhar Mesir. Pengalaman-pengalaman yang beliau ceritakan pada kami menjadi motivasi bagi kami, ditambah dengan ungkapan beliau tentang ibu yang menjadi jawaban istikhorohnya. Selama menempuh pendidikan di al-Azhar, satu kali pun beliau tidak pernah melakukan sholat istikhoroh karena tiap kali beliau membutuhkan jawaban dari dua hal yang beliau bingungkan, segera saja ia tanyakan kepada ibu. Apa yang menjadi keputusan ibu, itulah yang akan dia pilih. Namun, saat ibu mengatakan terserah, apa yang menjadi keyakinan beliau itulah yang menjadi keputusannya disamping meminta do’a dari ibu semoga itulah yang terbaik.
Setelah mengungkap riwayat hidup beliau, kini giliran beliau yang berkeinginan untuk mengenal kami. Satu persatu nama di absen disebutkan oleh beliau, diikuti dengan kami yang mengangkat tangan saat nama kami dipanggil serta menyebutkan asal daerah. Kaget terlihat diwajah Ust. Yaqin saat mengetahui beragamnya daerah asal kami yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Beliau sangat tertarik dan menikmati keberadaannya di tengah-tengah kami. Alhamdulillah.
Banyak cerita yang Ust. Yaqin sampaikan pada hari itu. Namun, tak lupa dengan amanah. utamanya untuk hadir di kelas kami yakni membimbing jalannya diskusi, langsung saja setelah perkenalan, beliau membuka diskusi kami dengan menanyakan format diskusi yang biasanya dilakukan bersama Prof. Ali. Kemudian kami berkumpul dengan kelompok masing-masing dan melaksanakan diskusi. Diskusi dilakukan dengan membacakan munasabah dan kesimpulan dari masing kelompok diikuti penjelasan dari Ust. Yaqin setelahnya. Meski baru hari pertama pertemuan, kami merasa nyaman dengan diskusi tersebut. Hingga akhirnya, di ujung pertemuan, Ust. Yaqin mengungkapkan kenyamanannya mengisi kelas kami. Beliau juga kami berharap agar hari itu bukan menjadi awal sekaligus akhir pertemuan, semoga ada waktu lain yang mempertemukan kami kembali.

---------------

Merupakan hal yang tak terduga pada pertemuan ke empat ini, Ust. Yaqin kembali masuk di kelas kami, disusul beberapa menit kemudian Prof. Ali datang. Subhanallah, harapan kami minggu lalu terjawab pada hari ini. Meski Prof. Ali hadir, Ust. Yaqin pun turut hadir. Sebagai pembuka, seperti biasa Prof. Ali memberikan beberapa kata motivasinya sembari menanyakan siapa di antara kami yang telah menulis segala yang terjadi dalam perkuliahan semester 2 ini. Ada beberapa dari kami yang mengangkat tangan, kemudian ditanya oleh Prof. Ali mengenai hal apa yang ia tulis. Demikian hingga beberapa teman yang mendapat giliran tunjukan tangan Prof. Ali dan dipersilahkan untuk menceritakan apa yang ditulisnya.
Setelah beberapa pertanyan tersebut, barulah Prof. Ali mempersilahkan Ust. Yaqin untuk meneruskan diskusi. Jadi, pada pertemuan ini Ust. Yaqin yang menjadi pembimbing diskusi kami. Prof. Ali meminta izin karena ada urusan lain yang tidak bisa beliau tinggalkan. Namun sebelum meninggalkan kelas, Prof. Ali mengumumkan bahwa minggu depan akan mulai dilaksanakan ulangan perminggu dan beliau memberikan tanggung jawabnya kepada Ust. Yaqin untuk membuat soal, yakni pernyataan benar atau salah. Setelah Ust. Yaqin memberikan kesanggupannya akhirnya Prof. Ali pamit untuk meninggalkan kelas disusul kami bersiap-siap mengubah posisi tempat duduk sebagaimana biasanya, yakni sesuai dengan kelompok masing-masing dan melaksanakan diskusi.

---------------

Minggu kelima, tanggal 30 Maret 2015. Hari ini adalah awal pertemuan yang paling menegangkan dari pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Sesuai kesepakatan minggu lalu, hari ini akan dilaksanakan ulangan yang pertama kalinya. Terlihat raut wajah yang gugup dari teman-teman, begitupun aku, yang ketika itu hampir terlambat karena tidak mengikuti kelas intensif sebab sakit maag yang kambuh ketika itu. Hampir saja aku memutuskan untuk tidak hadir, namun karena adanya ulangan dan sakit yang sudah agak sembuh, akhirnya aku memilih untuk masuk. Bergegas aku menuruni tangga asrama Khadijah binti Khuwailid menuju fakultas dakwah. Ternyata, setelah sampai di depan gedung dakwah, kulihat Nanang dan Fikri bergegas pula menuju ruang kelas kami, aku pun menyusul di belakangnya. Hingga saat kakiku menginjak lantai depan kelas, aku kaget karena Prof. Ali dan Ust. Yaqin telah hadir. Aku masuk kelas dengan melihat teman-teman yang telah hadir semua dengan sebagian dari mereka yang masih menggenggam kertas-kertas materi yang akan diujikan. Kemudian aku memilih bangku belakang di samping Murni yang masih kosong. Aku mencoba duduk dengan santai. Setelah kami semua hadir, perkuliahan pun dimulai dengan membaca do’a.
Sebelum soal dibacakan, terlebih dahulu Prof. Ali membahas tentang perbaikan tugas kami yang minggu lalu masih ada beberapa yang kurang atau salah. Satu dari masing-masing kelompok memperlihatkan file yang ada di laptop untuk dikoreksi oleh beliau. Kata-perkata yang masih ada kesalahan langsung diberi font warna merah. Prof. Ali menjelaskan sebagian dari kesalahan-kesalahan tersebut untuk diperbaiki minggu depannya. Demikian hingga akhirnya penjelasan dicukupkan oleh beliau dan dilanjutkan dengan ulangan. Sementara Prof. Ali masih mengoreksi tugas kami, beliau mempersilahkan Ust. Yaqin untuk membacakan soal. Beliau pun bangkit dari tempat duduk yang sebelumnya berada di sebelah Prof. Ali menuju ke depan deretan tempat duduk putri di sebelah selatan. Suasana yang sebelumnya kembali ramah, kali ini berubah tegang kembali. “Sudah siap?”, Tanya Ust. Yaqin. “Sudah”, teriak kami. meski sebenarnya kata itu terpaksa diucapkan sebagai jawaban untuk dmulainya pembacaan soal. “Kalau tidak kami jawab siap, kapan ulangan dimulai?”, ujarku dalam hati. Dengan penuh perhatian, satu persatu soal yang dibacakan beliau mendapat perhatian penuh dari kami. Hingga ada beberapa soal yang kami minta untuk diulang kembali karena terlalu cepat. Tak ingin seterusnya menjadi lebih ribut, Prof. Ali akhirnya menghentikan pembacaan soal sementara dan meminta kami untuk mengungkapkan apa yang menjadi kehendak kami. kami pun meminta agar pembacaan soal diulang dua kali serta agak lebih pelan dan jelas. Prof. Ali dan Ust. Yaqin menyetujui akan hal itu, Karena kami menyadari bahwa itulah kali pertama Ust. Yaqin membacakan soal ulangan sistem Prof. Ali.
Soal kembali dibacakan, kini suasana terlihat lebih kondusif. Kami mendengarkan dengan seksama tanpa ada yang meminta pengulangan. Dengan semangat pula, aku memberikan jawaban yang aku yakini, benar atu salah. Meski ada dua jawaban yang masih kuragukan, tapi ku putuskan untuk menjawab yang lebih kuyakini. Tak terasa empat puluh soal telah terbaca. Langsung saja Prof. Ali meminta kami untuk menukarkan lembar jawaban kami dengan teman yang berada di samping. Ketika itu Murni yang mengoreksi jawabanku karena dia berada di sampingku, demikian pula aku yang mengoreksi lembar jawabannya. Satu-persatu jawaban dibacakan oleh Ust. Yaqin, sedangkan kami sibuk menccokkan lembar jawaban teman yang kami pegang. Ketika sampai di no.10, Ust. Yaqin bertanya “Siapa yang mengoreksi jawaban yang belum salah?”. Ternyata ada tiga dari kami yang mengangkat tangan, termasuk Murni. Demikian pertanyaan yang sama dari Ust. Yaqin ketika sampai pada no. 20 dan 30. Tidak aku duga, ternyata yang masih mengangkat tangan ketika itu hanya Murni. “Wah....”, sorak teman-teman. Akhirnya, selesai pengkoreksian, Prof. Ali langsung menanyakan siapa yang mendapat nilai tertinggi. Dengan sedikit malu aku mengangkat tangan. Terlihat teman-teman dari bangku depanku hingga yang terdepan menatapku. Kemudian diikuti dengan sorakan teman-teman, Prof. Ali memintaku untuk maju ke depan kelas dan memberiku kesempatan untuk berfoto dengan beliau sekaligus pula dengan Ust. Yaqin. Aku berada di tengah-tengah beliau berdua. Prof. Ali berada di samping kiriku dengan mengangkat jempolnya, begitu juga Ust. Yaqin yang berada di samping kananku. Hmmm.... sebuah hadiah yang tak ternilai tentunya. Aku mendapatkan sebuah momen dimana aku bisa berfoto dengan dua orang hebat. Alhamdulillah. Setelah ulangan selesai, kelas diserahkan kepada Ust. Yaqin untuk melanjutkan diskusi kami, dan Prof. Ali pamit untuk meninggalkan kelas.



---------------

Semingu berlalu, kini tibalah ulangan yang kedua, yakni tentang Tafsir al-Azhar. Sebagaimana minggu sebelumnya, Prof. Ali dan Ust. Yaqin bersama-sama hadir di kelas kami. Namun kali ini aku tidak terlambat, karena paginya aku masuk kelas intensif. Kemudian Prof. Ali kembali megoreksi tugas kami seperti minggu lalu. Perwakilan atau ketua kelompok menyerahkan laptop-nya untuk langsung dikoreksi oleh Prof. Ali. Di samping Prof. Ali mengoreksi, langsung saja beliau meminta Ust. Yaqin untuk langsung memberikan pertanyaannya kepada kami. Setelah kami semua siap dengan satu lembar kertas jawaban dan polpen, soal pertama pun dibacakan. Tidak seperti hari pertama ulangan minggu lalu, kali ini Ust. Yaqin sudah lihai dalam membacakan soal, sesuai dengan yang kami inginkan. Sehingga tidak perlu lagi dibutuhkan pengulangan kecuali beberapa soal yang memang butuh pemahaman agak lama. Karena seperti yang dkatakan Ust. Yaqin sebelum membacakan soal, beliau mengungkapkan bahwa kali ini soal yang diberikan agak dipersulit daripada minggu lalu karena Prof. Ali dan Ust. Yaqin menyadari bahwa soal sebelumnya terlalu mudah bagi kami hingga ada yang mendapatkan nilai seratus. Maka kali ini Prof. Ali meminta Ust. Yaqin untuk menyiapkan soal yang agak lebih sulit agar setidaknya tidak ada yang mendapatkan nilai sempurna. Ust. Yaqin juga berjanji akan meminjamkan sebuah buku bagi siapa saja yang mendapatkan nilai minimal 90, karena menurut beliau untuk mendapatkan nilai tersebut sangat sulit. Namun, kami terus berusaha agar tetap mendapatkan nilai sebagus minggu lalu.
Setelah selesai pembacaan soal, kini tibalah saat pengkoreksian. Memang benar, terbukti ketika baru sampai pada sebagian dari jumlah keseluruhan soal, banyak dari kami yang menjawab dengan salah. Soal yang diberikan hampir keseluruhan menjebak. Teliti adalah kunci utamanya. Seperti minggu lalu, aku juga tidak menyangka bahwa hari ini aku mendapatkan nilai yang tertinggi lagi. Meski nilaiku turun 10 angka, tapi ternyata teman-teman juga turun bahkan dibawah nilai yang kudapatkan. Akhirnya, seperti minggu lalu pula, setelah nilai disampaikan satu-persatu kepada Ust. Yaqin untuk dicatat, kemudian Prof. Ali memanggil namaku untuk maju yang kedua kalinya ke depan kelas untuk berfoto dengan beliau berdua. Subhanallah, momen kedua yang sangat aku syukuri. 

 
Berdasarkan janji Ust. Yaqin sebelumnya. Aku pun dipinjamkan sebuah buku oleh beliau yang berjudul “10 Episode Teragung Raasulullah SAW”. Karena saat itu buku belum dibawa, maka keesokan harinya barulah diberikan melalui Sofi yang pada hari itu berjumpa lebih dahulu dengan beliau.
Ulangan kedua telah selesai. Kemudian, Ust. Yaqin melanjutkannya dengan diskusi. Karena minggu lalu belum sempat mempelajari tentang tafsir yang akan diujikan minggu depan, akhirnya Ust. Yaqin memutuskan untuk membahasnya agar ulangan minggu depan lebih siap karena sudah dipahami. Beliau pun meminta kelompok Tafsir Ibnu Katsir untuk mempresentasikan makalahnya di depan kelompok lain dengan tetap mendapatkan panduan dari beliau hingga selesai.

----------------

13 April 2015, perkuliahan yang tak berbeda dengan biasanya namun dimulai dengan ekspresi yang tak terduga dari Prof. Ali. Setelah kami melantunkan do’a sebagaimana yang biasa diucapkan, Prof. Ali meminta kami untuk mengulangnya kembali. Beliau mengungkapkan bahwa do’a kami terlalu lemas jika didengar. “Do’a adalah sebuah permohonan, jika diucapkan dengan lemas seolah-olah tanpa penuh harap, bagaimana Allah akan mengabulkan”, nasehat Prof. Ali. Kemudian kami pun mengulangnya kembali dengan nada yang serentak dan lebih semangat. Selesai berdo’a, Prof. Ali menanyakan perbandinagn antara do’a yang pertama dengan yang kedua. “Mana yang lebih bagus?”, tanya beliau. Tentu kami semua menjawab bahwa do’a yang kedua lebih enak didengar, apalagi sebagai do’a pembuka.
Setelah megoreksi do’a kami, lalu Prof. Ali memberikan kata-kata motivasinya. \Ditambah dengan pertanyaan beliau tentang tugas kami menulis. “Masih adakah kesulitan untuk menulis?”, tanya Prof. Ali kepada kami. Kemudian Prof. Ali menunjuk beberapa dari kami untuk mengungkapkan kesulitannya. Salah satunya adalah Syarif. Prof. Ali meminta Syarif untuk mencoba menceritakan tentang suasana maupun kejadian di dalam kelas ketika itu, sebagai pembuktian bahwa sebenarnya menulis itu tidak sulit. Syarif pun memulai ceritanya. Banyak dari kalimat yang dia ungkapkan secara umum, belum spesifik. Sebuah kejadian yang sebenarnya bisa dituliskan menjadi beberapa lembar kertas tapi hanya bisa menjadi sekilas cerita karena pengungkapan yang masih umum. Dari penjelasan Prof. Ali tersebut akhirnya kami bisa lebih memahami bagaimana retorika menulis hingga bisa menghasilkan tulisan yang begitu panjang hanya dari sebuah kejadian. Dan tentunya hal itu menjadikan kami lebih yakin untuk bisa mengerjakan tugas dari Prof. Ali untuk menulis sebanyak 50 lembar, yang sebelumnya masih kuragukan karena mengingat jumlah halaman yang begitu banyak, “Apa saja yang akan kutulis?”, pikirku dalam hati sebelumnya.
Setelah membahas tentang tulisan dan pemberian motivasi, kemudian hari itu diteruskan dengan pelaksanaan ulangan yang ketiga. Karena hasil minggu lalu yang kurang memuaskan dan ada beberapa dari kami yang mendapatkan nilai kurang dari lima puluh, maka Ust. Yaqin mengurangi standar soalnya. Dengan arti lain, soalnya dibuat lebih mudah daripada sebelumnya. Selesai mengerjakan soal yang didekte oleh Ust. Yaqin, kemudian tibalah waktunya pengkoreksian. Tidak seperti minggu sebelumnya, aku merasa ketika itu banyak keraguaan dalam menjawab soal, antara benar atau salah. Karena kebanyakan dari soal-soal yang pertama adalah jawaban salah, maka aku merasa terlalu jeli dalam mendengarkan soal, sehingga soal-soal pernyataan yang akhir kupikir juga salah karena ada beberapa kata yang meragukan. Akhirnya, setelah dikoreksi, aku pun mengetahui bahwa jawabanku banyak yang salah/ kurang tepat. Hari itu aku mendapatkan nilai yang terendah dari pada ulangan sebelum-sebelumnya. Ada beberapa teman juga yang merasa demikian, namun ada beberapa juga yang malah mendapatkan nilai yang lebih dari minggu lalu karena menurut mereka soal hari ini lebih mudah. Dan yang mendapatkan nilai tertinggi adalah Fikri dengan selisih yang cukup banyak dariku, yakni tujuh angka. Hmmmm.
Berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya, hari ini Prof. Ali memberi taanggapan tentang nilai-nilai kami minggu ini. Satu persatu dari kami ditanya penyebab mengapa hari ini kami mendapatkan nilai sedemikian. Berbagai alasan diungkapkan teman-teman. Ketika sampai di no.11, no. Absenku, aku ditanya oleh Prof. Ali mengapa hari ini aku mendapatkan nilai rendah. Aku pun menjawab, “Mungkin karena saya terkecoh dengan soal-soal awal yang kebanyakan salah, jadi itu menyebabkan saya terlalu teliti dan seolah-olah selalu mendapatkan kata-kata yang saya anggap sebagai jebakan agar dijawab benar, tapi ternyata itu memang benar.”, jelasku. “Oo.. berarti itu alasannya”, jawab Prof. Ali menanggapi alasanku. Kemudian beliau bertanya lagi, “Jadi hanya karena masalah itu? Bukan ada penyebab lain? Misalnya tentang psikologis?”. “Mungkin karena itu juga Prof.”, jawabku. Tak lama setelah itu, tiba-tiba Prof. Ali mengatakan suatu hal padaku. Beliau mengungkapkan bahwa aku terlalu sering berpikir negatif. “Kamu sebenarnya pintar, tapi karena pikiran negatifmu inilah yang menghambat kesuksesanmu”, ujar beliau. Aku pun mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh Prof. Ali. Kemudian beliau memberikan perumpamaan kepadaku. “Apabila ada seseorang yang biasanya selalu menyapamu, tapi pada hari itu dia diam saja dan tidak melihatmu, apa yang kamu pikirkan tentang orang itu?”. “Mungkin ada suatu hal yang menyebabkan dia berlaku aneh pada saya, bisa jadi dia marah pada saya Prof.”, jawabku. “Nah, itu. Salah satu contoh dari berpikir negatif. Mengapa kamu tidak berpikir bahwa bisa saja orang itu sedang mempunyai masalah sehingga tidak menyapamu.”, ujar Prof. Ali. Aku tersenyum, “Iya ya, berarti sering sekali aku mempunyai pikiran yang negatif. Mengapa aku tidak mempunyai pikiran positif seperti itu?”, ungkapku dalam hati. Kemudian Prof. Ali bertanya lagi, “Jika ada orang menutup pintu dengan keras, apa yang ada di pikiranmu tentang orang itu?”. “Mungkin dia marah Prof.”, jawabku. “Nah, itu. Coba kamu berpikir positif. Bisa saja angin di luar kencang sekali sehingga pintu tertutup dengan keras.”, kata Prof. Ali dengan senyumnya. Aku kembali tersenyum, dan berkata dalam hati. “Iya, ya.”. Aku menyetujui nasehat Prof. Ali. Setelah itu yang ada dibenakku adalah bahwa aku harus selalu bepikir positif. Kepada orang tua, teman, kepada siapapun. Entah bagaimana hal buruk yang menimpaku, berpikir positif itulah yang lebih baik. Meski hal negatif yang sebenarnya terjadi.
Tidak hanya ungkapan Prof. Ali padaku yang kuambil pelajaran. Segala yang disampaikan Prof. Ali kepada teman-teman yang lain juga bernilai besar sekali. Banyak pelajaran yang bisa aku ambil ketika itu. Subhanallah, jarang-jarang sekali Prof. Ali mengevalusi satu-persatu dari kami. Memang benar ungkap Prof. Ali, betapa beliau sayang kepada kami, mulai dari hal-hal yang kecil beliau perhatikan dan beliau tanyakan. Beliau juga mengungkapkan bahwa kita adalah keluarga. Orang-orang yang hadir di kelas ini adalah keluarga. Maka hendaknya kita bisa saling terbuka, tidak perlu ada yang malu. Di sini kita sama-sama belajar. Aku senang sekali saat mendengar hal itu. Aku belum pernah mendapati seorang dosen yang berlaku seperti Prof. Ali.
Setelah selesai bertanya tentang diri kami, kemudian Prof. Ali meminta fikri sebagai mahasiswa yang ketika itu mendapat nilai yang tertinggi untuk maju ke depan kelas dan berfoto dengan beliau dan Ust. Yaqin. Aku mengingat minggu yang lalu ketika aku yang berada diantara beliau. Aku pu bisa mengambil pelajaran dari hari ini. Mungkin ini adalah cara Allah untuk mengingatkanku. Jika aku tidak mendapatkan nilai yang lebih rendah dari minggu lalu, mungkin Prof. Ali tidak akan mengungkapkan kesalahan berpikir yang sering kali kulakukan. Tanpa ada hari itu aku tidak akan sadar dan mulai untuk berpikir positif. Subhanallah, betapa indahnya sekenario dari Sang, Khaliq, Yang Maha Mengetahui.
Selesai berfoto, kemudian Prof. Ali meninggalkan kelas, diteruskan dengan berdiskusi bersama dengan bimbingan Ust. Yaqin. Kali ini diskusi agak berbeda dengan minggu lalu. Diskusi dilaksanakan dengan format melingkar dan mengkosongi bagian tengahnya atau letter U bukan dengan membentuk lingkaran pada setiap kelompokknya. Kelompok Tafsir al-Munir, yakni kelompokku menghadap ke selatan, diikuti kelompok Tafsir al-Azhar menghadap ke utara dan terakhir kelompok Tafsir Ibnu Katsir menghadap ke selatan. Setelah kami siap, kemudian diskusi dimulai dengan sistem seperti biasanya. Salah satu dari kelompok yang ditunjuk oleh Ust. Yaqin membacakan ayat, disusul dengan munasabah dan kesimpulan kemudian mendapat penjelasan yang lebih lanjut oleh beliau.

----------------

Ada pemandangan yang berbeda dari ini, tanggal 19 April 2015. Tidak seperti hari biasanya, hari ini Ust. Yaqin tidak hadir bersama Prof. Ali. Ada sebuah acara di Jakarta yang harus beliau hadiri. Sebelum perkuliahan dimulai, kami semua membaca do’a seperti lagu biasanya. Namun, Ust. Yaqin tidak puas dengan do’a yang kami lantunkan. Maka beliau meminta kami untuk mengulangnya kembali. Begitu juga setelah do’a kedua yang baru sampai setengah, Ust. Yaqin meminta kami mengulangnya kembali. Kami pun mencoba berdo’a dengan lebih baik, karen atentunya kami merasa mungkin do’a kami kurang semangat atau ada hal lainnya. Setelah selesai berdo’a, barulah Ust. Yaqin menjelaskan mengapa beliau meminta kami untuk mengulang do’a, beliau mengungkapkan bahwa ada beberapa dari kami yang berdo’a tapi kurang serius. Ada yang membuka buku dan polpen, juga ada yang membuka HP. “Bagaimana Allah mau mengabulkan do’a kita sedangkan kita sendiri tidak serius?”, ungkap beliau. Kemudian Ust. Yaqin bercerita tentang pentingnya berdo’a dan dahsyatnya kekuatan do’a. Memang usaha itu penting, tapi kekuatan do’a itu jauh lebih besar dan lebih penting. Kemudian beliau menjelaskan apa yang dibawanya ketika itu. Yakni 3 minuman dengan merk yang berbeda. Siapapun yang mendapatkan nilai tertinggii hari ini akan diperkenankan untuk memilih minuman yang dikehendakinya. Dan dua minuman lainnya akan diberikan kepada siapa saja yang Ust. Yaqin kehendaki. Selesai itu, kemudian Ust. yaqin menyampaikan pesan dari Prof. Ali bahwa beliau hari ini tidak bisa hadir. “Nanti Prof. Ali akan menghubungi saya dan akan menyampaikan sesuatu untuk kalian, maka saya izin untuk membiarkan HP saya berdering. Jika yang menelepon adalah Prof. Ali, saya akan mengangkatnya, jika tidak maka tidak saya angkat.”, ujar beliau. “Iya ustadz”, jawab kami serentak.
Sembari menunggu telepon dari Prof. Ali, langsung saja Ust. Yaqin memulai perkuliahan dengan ulangan yang keempat. Kami segera menyiapkan pelpen dan kertas untuk menjawab soal, kemudian memberinya nama dan NIM sebagaiman biasa. Namun, letak tempat duduk kami berbeda dari biasanya, yakni sama dengan format diskusi sebelumnya (letter U). Hari itu aku mendapat tempat duduk paling tengah menghadap langsung ke Ust. Yaqin yang berada di depan. Di samping kananku Fiska dan di samping kiriku Fikri. Setelah kami siap, Ust. Yaqin mulai membacakan soal yang pertama, diikuti soal-soal selanjutnya hingga sampai pada no.10. Tiba-tiba sebelum dilanjutkan ke soal berikutnya, HP beliau berdering. Tertulis nama Prof. Ali. Kemudian Ust. Yaqin mengangkatnya, dan me-loudspeaker agar kami semua bisa mendengarkan. Namun, karena suara belum juga bisa didengar oleh kami semua, kemudian Ust. Yaqin meminta kami untuk lebih mendekat. HP beliau diletakkan ditengah-tengah kami agar semua bisa mendengarkan dengan jelas apa yang disampaikan oleh Prof. Ali.

Selesai berbincang dengan Prof. Ali lewat telepon, kemudian ulangan kembali dilanjutkan. Kami kembali konsentrasi  sehingga suasana di kelas kembali hening penuh dengan perhatian kepada pernyataan yang disampaikan oleh Ust. Yaqin. Soal ke 11 hingga 40 akhirnya selesai dibacakan oleh beliau. Langsung saja setelah itu tiba waktu pengkoreksian. Kali ini kertas jawabanku dibawa oleh Fiska dan aku membawa kertas jawaban Fikri. Dengan jujur dan seksama kami mencocokkan jawaban yang benar. Alhamdulillah, nilaiku lebih baik daripada minggu lalu. Nilaiku naik 10 angka. Dan ternyata setelah nilai kami semua dibacakan dan dicatat oleh Ust. Yaqin, nilaikulah yang paling terbesar. Kemudian, sebagaimana yang disampaikan di awal tentang apresiasi untuk yang mendapatkan nilai  tertinggi hari itu, Ust. Yaqin memintaku untuk memilih di antara minuman yang tersedia di atas meja. Teman-teman memberikan sorakan kepadaku seolah mereka yang hendak memilihkanku. Dengan tanpa berpikir panjang akhirnya aku memilih minuman yang ketika itu berada di tengah, yaitu teh dengan merk Fresh Tea. Ust. Yaqin kemudian menyerahkannya padaku. Aku pun menerimanya. Karena hari itu adalah tanggal 1 Rajab dan sebagian besar bahkan hampir keseluruhan dari kami berpuasa maka langsung saja aku simpan minuman tersebut di dalam tas. Setelah satu minuman telah diberikan kepadaku, kemudian salah satu minuman yang tersisa diberikan oleh Ust. Yaqin kepada Syarif yang ketika itu mendapatkan nilai yang lebih rendah dari pada lainnya. “Ini minuman yang termahal dari pada lainnya”, ucap Ust. Yaqin saat menyerahkannya kepada Syarif. Dengan senyum, ia pun menerimanya.
Diskusi mulai dilaksanakan. Aku pertama kali ditunjuk oleh Ust. Yaqin untuk membacakan ayat pertama sebagai pembuka diskusi. Karena napasku pendek, aku pun berhenti untuk membuat waqaf dan mengulanginya. Aku memdapatkan pelajaran berharga ketika itu. Ternyata saat mengulang tidak boleh dimulai dengan huruf jar dan dharaf. Sedangkan aku tadi mengulangnya dimulai dari dharaf. “Ooo, begitu”, ungkapku dalam hati. Kemudian Ust. Yaqin menjelaskan tentang beberapa waqaf yang boleh berhenti dan diulang mulai dari dharaf. Intinya, membaca al-Qur’an hendaklah mengetahui maksud dan artinya. Dengan demikian, kesalahan untuk memulai bacaan ketika memulai setelah waqaf tidak akan terjadi. Membaca al-Qur’an juga lebih enak apabila memahami maksudnya.
Kemudian, diskusi dilanjutkan kembali. Banyak sekali catatanku pada hati itu. Poin pertama kau mencatat. “Ana ‘abdul mun’im wa laa ‘abdun ni’am” yang artinya “Aku adalah hamba dari Sang Pemberi Nikmat bukan hambanya kenikmatan. Subahanallah, dengan kalimat ini kita bisa mengambil pelajaran yang besar. Hendaklah kita menyadari, kadang kala kita selalu menginginkan nikmat, nikmat dan nk’mat, seolah-olah kita menghamba pada kenikmatan. Padahal harus kita luruskan bahwa dibalik nikmat itu ada Dzat yang memberi/ menghadirkannya, dialah Allah yang harusnya wajib untuk kita menghamba pada-Nya. Berlimpah ruah nikmat itu tidak penting selama kita selalu bersama Allah. Kemudian Ust. Yaqin mengakhiri pembahasan nikmat dengan kata-katanya, “Ketidakberdayaan kita untuk bersyukur, itulah hakikatnya syukur”. Bersyukur kepada Allah iku bagaikan seorang yang termiskin hendak bersyukur kepada yang paling kaya. “Kaifa yasykurul faqiirul ghiniyya? Laa yastathi’”, kata beliau. Bagaimana bersyukurnya orang yang termiskin pada yang terkaya? Tidak mungkin bisa. Orang miskin hanya bisa terus meminta dan mengggantung kepada yang kaya, sedangkan yang kaya terus saja memberikan apa yang dia miliki kepada yang miskin. “Lain syakartum la aziidannakum”, jika kalian bersyukur, maka pasti benar-benar akan Ku tambahkan (nikmat-Ku) bagimu. Di sana terdapat dua huruf taukid, yaitu lam dan nun, yang menandakan bahwa benar-benar Allah akan menambah nikmat kepada hamba-Nya yang selalu bersyukur apabila ia diberi nikmat.
Dalam ilmu tasawuf, Allahu wajibul wujud wal insan jaizul wujud, karena Allah adalah al-awwalu wal akhiru, sedangkan manusia wujudun minal ‘adam. Allah hakikatnya memanglah ada, sedangkan manusia itu ada karena diadakan, dari sebelumnya tidak ada (‘adam). Hakikat manusia adalah tidak ada. “Kullu syaiin haalikun illa wajhahu”, tiap sesuatu itu akan rusan/ musnah kecuali Dzat-Nya (Allah). Wakullu haalik huwa jaaizul wujud, dan tiap-tiap yang rusak itu jaizul wujud (hakikatnya tidak ada). Ust. Yaqin juga menjelaskan bahwa inti dari segala ciptaan Allah adalah Nabi Muhammad Saw, karena Nabi Muhammad Saw langsung mendapatkan nur dari Allah. Nabi Muhammad Saw telah diangkat menjadi Nabi dan Rasul ketika roh Nabi Adam ditiupkan/ disatukan ke jasadnya. Sebagaimana kita tau bahwa saat Nabi Adam menikah dan mengucapkan ijab qabul dengan mahar dua kalimat syahadat, yang pada syahadat kedua adalah persaksian bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah/ Rasul Allah.
Kemudian kita membahas tentang istiqomah. Ust. Yaqin menceritakan tentang seseorang yang ingin masuk islam dan bertanya kepada Rasulullah, beliau pun menjawab “Qul amantu billah tsumma istaqim”, katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah (dalam iman). Dari kalimat ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa istiqomah itu adalah sebuah perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus/ kontinyu. Setelah itu kita membahas tentang permusuhan, Ust. Yaqin mengatakan, “Jika mencintai saja masih menyisakan rasa sakit dan luka, apalagi memusuhi. Jika kita menyibukkan cinta saja sudah sibuk, untuk apa menyibukkan diri dengan permusuhan”. Maksudnya, permusuhan itu tidaklah ada gunanya. Bahkan malah menimbulkan rasa sakit dalam hati. Umpama saja ada seseorang yang benci kepada orang lain, sedangkan orang yang dibenci tidak menaruh rasa benci padanya. Maka pasti hanya orang yang benci lah yang mendapati rasa sakit pada hatinya. Atau apabila ada dua orang yang saling bermusuhan, pasti keduanya juga merasa sakit akibat rasa benci yang ada di hatinya.
Ada yang mengatakan, “Dosa yang dilakukan dengan sadar itu mudah diistighfari, bagaimana dengan dosa yang tidak kita sadari?”. Maksudnya, saat kita melakukan dosa, pasti mudah bagi kita untuk beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas dosa yang yang dengan sadar telah kita lakukan. Lalu bagaimana dengan dosa yang tidak kita sadari? Bagaimana kita beristighfar apabila kita saja tidak mengetahui/ menyadari bahwa kita telah melakukan dosa.
Kemudian Ust. Yaqin bertanya tentang perbedaan antara israf dan mubadzir. Siapa yana bisa menjawab akan mendapkan 1 botol minuman yang tersisa. Ada beberapa teman yang mencoba menjawab namun tidak ada di antara mereka yang benar. Kemudian beliau mengatakan, “Ya sudah, nanati bisa browsing atau cari di mana pun, kalau ketemu langsung hubungi saya”. “Iya ustadz”, jawab kami.
Setelah itu, Ust. Yaqin bertanya lagi. Sekarang tentang rahasia dari firman Allah dalam surat al-Insyirah: “Fainna ma’al ‘usri yusra. Inna ma’al ‘usri yusra”. Kalimat ini diulang dua kali dalam satu ayat bahkan berdampingan. “Siapa dari kalian yang mengetahui rahasia dibalik firman Allah ini? Yang bisa maka satu minuman yang tersisa ini akan saya berikan”, ucap beliau. Dengan yakin Rifki mengangkat tangannya dan menjawab. “Ada dua rahasia yang saya ketahui. Pertama, kata al-‘usru (kesulitan) ditulis dengan kata ma’rifat (sudah jelas) sedangkan kata yusran (kemudahan) ditulis dengan kata nakirah (belum jelas). Ini memberi tanda bahwa kebanyakan dari manusia itu sering mengetahui kesulitan dan tidak mengetahui adanya kemudahan. Dengan bentuk ma’rifat dan nakirah tersebut, bisa diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya kesulitan hanya 1, karena menggunakan ism ma’rifat, yakni khusus 1 yang telah diketahui. Sedangkan kemudahan itu banyak, karena menggunakan ism nakirah, yakni umum karena belum diketahui, jadi berarti banyak.”. “Subahanallah”, ungkap teman-teman.
Dengan senyum, Ust. Yaqin membenarkan dan langsung menyerahkan 1 botol minuman yang tersisa. Kemudian beliau bertanya bagaiman Rifki mengetahui rahasia itu. Rifki menjawab bahwa ia mengetahuinya saat mengikuti sebuah kegiatan di Malang, ketika itu narasumber menjelaskan tentang hal yang tadi diungkapkan oleh Rifki.
Kemudian, ketika tafsir sampai pada surat Thaha, Ust. Yaqin bercerita saat Umar bin Khattab masuk islam. ketika itu ia dengan kemarahannya ingin membenuh Rasulullah Saw karena banyak dari orang Quraisy yang masuk islam secara diam-diam. Dengan jantan ia mengatakan, “Lebih baik aku membunuh Muhammad dan seketika itu bunuhlah aku, maka yang akan terbunuh hanya ada satu dari setiap golongan, dari pada peperangan yang akan menewaskan banyak orang”. Ketika ia sampai di tengah perjalanannya, ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah an-Nuhas. Dia adalah teman dari Umar bin Khattab dalam kekafiran namun sebenarnya adalah muslim yang menyembunyikan keislamannya. Nu’aim berkata padanya, “Apa yang hendak kau lakukan?”. “Aku hendak membunuh Muhammad. Tanpa sepengetahuanku golonganku diam-diam memeluk agama Muhammmad.”. “Wahai Umar, mengapa kau lebih dulu memperhatikan golonganmu sedangkan keluargamu sendiri diam-diam juga telah memeluk agama Muhammad.”, jawab Nu’aim. Dengan kagetnya Umar bertanya, “Siapa?”. “Fatimah, adikmu”, jawab Nu’aim. Emosi Umar benar-benar meluap. Tujuan yang sebenarnya hendak ke rumah Rasulullah, ia palingkan ke rumah adiknya. Tatkala itu ia mendengar dari luar rumah suara seseorang yang sedang melantunkan sebuah ayat. Langsung saja Umar masuk ke dalam Rumah. “Hai Fatimah, apa yang sedang kau baca?”, tanya Umar dengan wajahnya yang merah. Dengan kaget Fatimah menjawab, “Bukan apa-apa wahai Umar”. Umar bertanya untuk yang kedua kalinya dengan nada yang lebih keras. Kemudian dengan lantang dan penuh keyakinan Fatimah menjawab, “Aku telah memeluk agama Islam dan yang aku baca tadi adalah al-Qur’an, kitab yang turunkan untuk umat Nabi Muhammad.”. “Tinggalkan agama Muhammad”, kata Umar seraya menampar pipi adiknya. Langsung dengan sigap Umar merampas al-Qur’an di tangan Fatimah. Tidak disadari, ia tertarik untuk membacanya. Ayat per-ayat dari surat Thaha ia baca dengan penuh penghayatan. Sebagai seorang ahli sastra pada masa itu, ia mengetahui benar bahwa itu bukanlah karya manusia biasa. Seorang manusia tidak akan pernah bisa membuat sastra seindah itu, apalagi Muhammad yang ummiy. Kemudian dengan penuh keyakinan, ia mendatangi Muhammad, bukan untuk membunuhnya tapi hendak mengikrarkan diri sebagai pemeluk Islam. Subhanallah, sebuah kejadian yang jauh di luar akal. Inilah bukti bahwa hidayah Allah turun kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Ini pula bukti Allah atas pengkabulan do’a Nabi Muhammad yang menginginkan agar Umat masuk Islam yang kelak akan menjadi pembela tangguh dari agama Islam. maka, dua nikmat terbesar yang patut kita syukuri adalah nikmat iman islam dan nikmat menjadi umat Nabi Muhammad Saw.

----------------

Seminggu yang lalu, terhitung mulai hari ini tanggal 02 Mei 2015. Hari itu Prof. Ali secara panjang membahas tentang menulis. Beliau menanyakan kabar tugas menulis dari beliau. Satu per-satu dari kami ditanya. “Sudah dapat berapa lembar?”, tanya Prof. Ali. Jawaban beragam kami sampaikan. Ada yang mengatakan baru dapat tiga lembar, sembilah lembar, sembilan belas lembar, ada pula yang menjawab telah menulis sebanyak 39 lembar. Dia adalah Nursabila. Kami mengungkapkan kekaguman dengan irama tepuk tangan untuknya saat Sabila memberitahukan hal itu.
Karena banyak dari kami yang baru mendapatkan beberapa lembar saja, bahkan ada yang belum menulis sama sekali, Prof. Ali pun segera menanyakan apa yang menjadi kendalanya. Kami menjawab dengan keluhannya masing-masing. Ada yang mengatakan malas, susah memulai, susah mengakhiri, susah menyambungkannya dengan cerita selanjutnya, ada pula yang mengatakan susah merangkai kata. Satu persatu permasalahan kami dijawab oleh Prof. Ali. Beliau memberikan kami selembar kertas cara menulis kreatif. Bagaimana agar mudah menuliskan sebuah kejadian yang bisa menghasilkan beberapa lembar. Dalam sekali saja mendefinisikan suatu benda, kita bisa menuliskannya hingga menjadi kalimat yang panjang, bahkan sangat panjang. Caranya adalah dengan menceritakan benda tersebut dari segala sisi dengan panduan 5W+1H. Apa yang terjadi? Siapa pelaku peristiwa tersebut? Atau siapa yang menjalaninya? Siapa yang menjadi korban peristiwa itu? apakah dia orang yang terkenal? Siapa saja yang terlibat pada peristiwa itu? bagaimana gaya orang itu dalam berbicara, bertindak atau bersikap? Sebutkan ciri fisik, pakaian, latar belakang pendidikan, sosial dan sebagainya. Bisa juga disebutkan siapa dalang peristiwa itu. Setelah apa dan siapa disebutkan, selanjutnya adalah mengenai tempat. Di mana peristiwa itu terjadi? Berapa jarak tempat itu dari tempat lain yang lebih dikenal? Jika kesulitan memperkirakan jarak, gunakan perbandingan waktu pejalan kaki ke tempat itu. sebutkan pula ciri-ciri tempat itu yang meliputi luasnya, kondisi alam dan adat-istiadat masyarakatnya! Kemudian mengenai waktu. Kapan peristiwa itu terjadi? Tunjukkan aktualnya jika itu berita. Kejadian apa yang bersamaan dengan peristiwa itu? apa yang dilakukan kebanyakan orang pada saat itu? sebutkan keadaan cuaca, suasana masyarakat dan sebagainya pada saat itu! Apa yang menjadi sebab peristiwa itu? faktor alam atau manusia? Bagaimana pendapat orang atau penulis tentang penyebab peristiwa itu? bagaiman kronologi peristiwa itu? Sebutkan respons orang-orang yang terlibat pada peristiwa itu! Bagaimana komentar, keluhan, ekspresi wajah mereka? Bagaimana kelanjutannya? Ini memancing pembaca untuk membaca edisi berikutnya.
Selain berpedoman pada 5W+1H, penggunaan kalimat juga perlu diperhatikan. Prof. Ali menjelaskan beberapa darinya. Di antaranya, gunakanlah kalimat langsung. Misalnya, Reni mengatakan, “Saya amat lapar.” “Mengapa saya lakukan kebodohan itu?”, sesal Khatimah. “Cit..cit..,” suara burung dalam sangkar itu. gunakan juga kalimat tidak langsung. Misalnya, Reni mengatakan, ia amat lapar. Khatimah menyesal karena melakukan tindakan yang menunjukkan kebodohannya. Burung dalam sangkar itu berkicau dengan merdu. Selain itu, bisa juga menggunakan kalimat konkrit (tidak abstrak) tentang ukuran tempat, ciri orang dan keadaan alam secara jelas. Misalnya: berapa meter persegi ruangan itu, berapa tinggi, berapa berat badannya, berapa km jauhnya dan sebagainya. Bisa juga dengan membandingkan dengan hal yang sudah dikenal orang. Misalnya, “Lapangan itu seluas dua kali lapangan sepak bola.” “Uang korupsi 100 milyar sama dengan uang seratus ribu yang ditumpuk setinggi gedung berlantai 80.” Hindari pula pengulangan kata tentang subyek, predikat atau objek kalimat. Untuk menghindarinya, penyebutan nama orang bisa diganti dengan menyebutkan ciri-ciri, identitas, hobi, latar belakang pendidikan dan sebagainya dari orang tersebut. Misalnya, “Pria yang lahir di Surabaya itu menjabat tangan saya dengan erat..” “Wanita dengan tinggi badan 180 cm itu mengeluhkan transportasi Surabaya.” Hal ini juga berguna untuk menyebutkan biodata yang bersangkutan secara bertahap. Hendaklah tulisan itu hidup dan penuh imajinasi. Maka, belajarlah banyak dari karya orang lain untuk perbandingan dan memperoleh kekayaan bahasa dan gaya penulisannya.
Saat penjelasan yang dipaparkan oleh Prof. Ali, aku menuliskan kalimat dalam buku, seperti ini: “I must write. Everytime when i don’t have activities to spend it. Write anything in your brain. Just write. Don’t spend your time useless or just for sleeping. Don’t say that you are busy. You can. If you look writer, is not he/ she busy? He/ she is also busy, moreover he/she is far busier than you. But he/ she can write. Why can’t you?. Everyone can because of habit. So, make writing in yout habit and you will be a writer.
Prof. Ali kemudian menceritakan tentang kedahsyatan sebuah kata-kata. Suatu hari akan diadakan ujian dalam kelas. Sebelum ujian dimulai, guru menceritakan kepada murid yang akan menghadapi ujian bahwasanya ujian yang sama dilaksanakan pada tahun sebelumnya dan tidak ada satupun yang lulus. “Maka berusahalah dengan keras!”, nasehat guru itu. Setelah membritahukan hal tersebut, langsung saja ujian dimulai. Namun, ada salah satu murid yang terlambat tidak mendengar nasehat dan cerita dengan percaya dirinya mengerjakan soal. Sedangkan murid-murid lain yang mendengar cerita tersebut, mentalnya seketika berubah ciut. Yang ada di benak merea adalah takut tidak lulus. Setelah ujian selesai dilakukan, apa yang terjadi? Tidak ada satu murid pun yang lulus dalam kelas itu kecuali satu murid yang datang terlambat. Begitulah, betapa dahsyatnya efek sebuah kata-kata. “Mental can down because of a word”, tulisanku dalam buku. “Maka janganlah menulis itu dibuat beban, tulis saja apa yang ingin kamu tulis. Jangan sekali menghapus tulisan yang telah tertulis. Bagaimana kamu bisa menghasilkan tulisan kalau tiap tulisan yang kamu nilai kurang cocok saja langsung seketika itu dihapus atau dicoret. Tulis saja tanpa menanggapi dulu apa yang telah kamu tulis. Entah nyambung atu tidak nyambung lanjutkan saja. Kemudian barulah setelah seminggu kamu koreksi”, jelas Prof. Ali dengan mencontohkannya menulis di atas tembok.
Kemudian, sesekali di sela-sela pembicaraannya Prof. Ali mengingatkan kembali agar kami mencatat poin-poin penting yang telah disampaikan beliau. Ada salah satu dari kami yang menceritakan permasalahannya. Ia mengatakan bahwa ia menarget dirinya untuk membaca buku, bahkan seringkali ia terus saja belajar meski terasa lapar. Kemudian Prof. Ali berkata, “Lebih baik kamu bodoh tapi hidup dari pada kamu pintar tapi mati”. Ada lagi yang bercerita tentang kendalanya menulis. Ia berkata bahwa selalu saja ia mengantuk ketika baru saja menulis. Kemudian Prof. Ali mengatakan, “Ngantuk jangan kamu besar-besarkan. Bukan hanya kamu yang merasa ngantuk. Coba tanya teman-temanmu, apa mereka juga ngantuk? Tentu saja. Jadi berusahalah untuk menahan kantukmu itu. Sedikit-sedikit pasti bisa”. Kemudian Prof. Ali menambahkan, “Kamu pintar, tapi tidak bisa mengekspresikan kepintaranmu buat apa?”. Aku berpikir dalam tentang kata-kata itu.
Setelah Prof. Ali memberikan banyak motivasi tentang menulis, kemudian dilanjutkan dengan ulangan yang kelima. Ada yang berbeda denganku saat itu. Aku merasa kurang siap. Aku pun menjawab soal dengan banyak sekali keraguan. Hingga akhirnya saat pengkoreksian, yang ketika itu Prof. Ali menginginkan kami sendiri sebagai yang mengerjakan soal untuk mengoreksi, aku mendapatkan nilai yang lebih rendah daripada minggu lalu, bahkan nilai yang terendah dari minggu-minggu sebelumnya. Ust. Yaqin spontan bertanya, “Kenapa Lia? Saat soalnya mudah tapi kenapa nilainya tambah turun?”. Aku hanya diam dan tersenyum. Setelah nilai dari teman-teman distorkan, ternyata nilai terendah dari teman-teman pada hari itu hanya selisih lima angka di bawahku. Kemudian aku bertanya pada diriku sendiri, mencoba mengingat-ngingat apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun mempunyai dugaan. Apakah ini karena aku tidak meminta do’a restu kepada kedua orang tuaku, sebagaimana yang selalu kulakukan saat akan ujian atau hal-hal tertentu lainnya? Ya Allah, padahal ketika itu aku meminta do’a kepada mereka. Namun bukan saat akan ulangan mata kuliah Tafsir BKI, tapi sebelum Ulangan Tengah Semester intensif bahasa Arab. Setelah UTS tersebut, aku ingin kembali meminta do’a kepada mereka untuk ulangan selanjutnya tapi tidak jadi aku lakukan. “Hmmm...”, gumamku dalam hati. Kinilah baru kusadari betapa pentingnya do’a kedua orang tua, bukan hanya sebuah rutinitas semata.
Setelah sampai pada no.absen yang terakhir, kemudian Prof. Ali meminta yang mendapatkan nilai tertinggi untuk mengangkat tangan. Ternyata ada lima orang. Prof. Ali meminta Ust. Yaqin untuk membuatkan mereka so’al. Siapa yang berhasil menjawabnya, otomatis dialah yang mendapatkan tambahan nilai sehingga menjadi nilai yang tertinggi. Setelah diberikan beberapa pertanyaan, tidak satupun di antara mereka yang menjawab dengan benar. Barulah pertanyaan yang ketiga, berhasil dijawab oleh Jajang. Maka dialah yang mendapatkan nilai ulangan tertinggi pada hari itu. Sekarang, giliran yang mendapatkan nilai terendah. Ada 3 orang yang mendapatkan nilai sama. Ust. Yaqin pun memberinya pertanyaan. Yang berhasil menjawab akan mendapatkan tambahan nilai sehingga tidak menjadi nilai yang terendah. Setelah dua kali pertanyaan, akhirnya ditemukan dua orang yang mendapatkan nilai tambahan.
Setelah diketahui siapa yang mendapatkan nilai tertinggi pada ulangan hari itu, Prof. Ali memanggilku karena minggu lalu mendapatkan nilai tertinggi juga, namun belum sempat foto bersama beliau. Kemudian aku pun maju ke depan dan foto bersama mereka. aku dan Jajang di tengah-tengah beliau berdua. Ust. Yaqin berada di sebelah kanan Jajang dan Prof. Ali berada di sebelah kiriku. Selesai foto, Prof. Ali menunjukkan sebuah buku saku yang baru saja ditulisnya, yang berjudul “al-Aayaat al-Qur’aaniyyah fii an-Nur wa as-Syifa’ li al-Quluub”. Beliau menyusun ayat-ayat al-Qur’an yang mempunyai keutamaan-keutamaan dalam hal nur (cahaya) dan obat hati. Kemudian Prof. Ali bertanya kepada kami, “Siapa yang sering kali mendapatkan nilai tertinggi?”. Teman-teman menjawab, “Febi”. Ada juga yang mengatakan, “Lia”. Aku pun mengangkat tanganku kemudian maju ke depan kelas dan seketika itu Prof. Ali bangkit dari tempat duduknya dan memberikan buku tersebut padaku. Alhamdulillah. Sebuah nikmat besar bagiku. Apalagi mendengar tambahan dari Prof. Ali, beliau mengatakan bahwa aku adalah mahasiswa satu-satunya yang mendapatkan buku itu. Trimakasih Allah. Tak henti-hentinya nikmat yang Engkau berikan.




Saat jam telah menunjukkan pukul sepuluh pagi, kemudian Prof. Ali pamit untuk keluar dan kuliah diteruskan dengan diskusi yang dibimbing oleh Ust. Yaqin. Dalam diskusi tersebut, beliau mengatakan bagaimana perhatiannya Prof. Ali ketika mendengarkan ceramah setelah sholat dhuhur di masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya. Meski dalam hal ilmu Prof. Ali sudah mumpuni, dalam bahasa jawanya, namun dengan seksama beliau memperhatikan sebagaimana beliau benar-benar butuh sekali terhadap ilmu yang disampaikan oleh penceramah tersebut. Kemudian aku mencatat dalam bukuku, “If you wanna be a good writer, be a good reader first. And if you wanna be a good speaker, be a good listener/ audience first”.
Give thanks to Allah in every your activities. If you don’t do it, actually you have been an arrogant person”. Bersyukurlah kepada Allah di setiap aktivitas yang kamu lakukan, dimanapun dan kapanpun. Jika hal itu tidak kamu lakukan, maka kamu adalah orang yang sombong. Mengapa? Karena segala yang ada dalam hidup kita itu merupakan anugrah dari Sang Maha Kuasa. Tanpa anugrahnya, kita tidak akan bisa melakukan apapun, bahkan takkan bisa hidup. “Keep in pray!”, teruslah berdo’a.
Kemudian ada salah satu dari kami yang bertanya. “Ustadz, dzikir yang sebaiknya kami perbanyak itu alhamdulillah atau astaghfirullah?”. Ust. Yaqin menjawab, “Dzikir itu tergantung kenyamanan orang yang mengucapkannya. Sebagai contoh, khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq lebih mengutamakan berdzikir laa ilaaha illa Allah, karena ia merupakan salah satu assabiqunal awwalun yang baru saja menemukan Tuhannya. Maka yang dia ucapkan selalu kalimat tauhid. Umar bin Khattab lebih mengutamakan dzikir Allahu Akbar, karena dia merupakan orang yang sangat tegas, pemberani, perkasa dan jago bergulat, namun dibalik keperkasaannya itu ia mengakui bahwa ada satu Dzat yang Maha Besar. Ia tidak apa-apanya dibanding Dzat tersebut. Dialah Allah. Utsman bin Affan selalu berdzikir alhamdulillah dikarenakan banyak sekali nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya. Ia adalah orang yang sangat dermawan juga pemalu, bahkan malaikatpun malu padanya. Sehingga ia mendapat julukan Dzun Nurain karena menikahi dua putri Rasulullah Saw.. Kemudian Ali bin Abi Thalib, ia gemar sekali berdzikir subhanallah karena banyak sekali  keutamaan yang ada dalam dirinya, sehingga ia selalu menyucikan Allah. Ia adalah sepupu Rasulullah yang sangat cerdas, ia termasuk golongan assabiqunal awwalun yang termuda. Ia juga berhasil menikahi putri Rasulullah yang selalu suci, karena semasa hidupnya ia tidak pernah haid, dialah Fatimah Az-zahra.
Menbahas tentang Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-zahra, Ust. Yaqin ingat tentang tentang kisah cinta antara keduanya. Kemudian beliau menceritakannya kepada kami. Ust. Yaqin mengungkapkan bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa Ali bin Abi Thalib menaruh hatinya pada Fatimah. Bahkan syaitan pun tidak mengetahui. Maka suatu hari Ali bin Abi Thalib berkelana untuk mencari harta sebagai mahar saat menyunting Fatimah. Meski kadang hatinya minder karena banyak juga pria yang dipandangnya lebih baik daripada dirinya juga menginginkan untuk menjadi suami dari putri Rasulullah tersebut, namun ia tetap gigih dalam usahanya menjadi menantu Rasulullah. Akhirnya di perantauannya tersebut ia mendengar kabar bahwa Rasulullah menolak pinangan orang-orang yang dikhawatirkannya, maka ia pun kembali setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan keyakinan hatinya, ia pun meminang Fatimah dengan mahar baju perang. Fatimah juga Rasulullah Saw. pun menerima pinangan Ali. Dan di malam pertama pernikahannya, Fatimah mengatakan suatu hal kepada Ali. “Aku ingin memberitahukan suatu hal padamu wahai Ali. Aku hanya mencintai seseorang sejak pertama kali kumelihatnya.”. Ali menjawab, “Lalu mengapa kau menerima pinanganku wahai Fatimah, sedangkan kau hanya mencintai orang itu.”. Dengan senyum Fatimah menjawab, “Seseorang itu tiada lain adalah kau wahai Ali.”. “Subhanallah....” teman-teman bersorak bersama-sama. Kemudian Ust. Yaqin mengatakan, “Sebaik-baik orang yang mencintai adalah yang menyimpannya dalam hati, bukan seperti pemuda sekarang ini yang malah mengumbar-umbar perasaannya, padahal belum tentu itu cinta yang dirasakannya.”
“Sesuatu yang luar biasa akan menjadi biasa jika berulang”, kata Ust. Yaqin. Atau dengan kata lain. ”Biasakanlah, maka akan terasa mudah”. Memang benar, kadang paksaan itu penting. “Attarbiyatu awwaluha at-takalluf tsumma jaa-at atta-alluf”, pengajaran itu diawali dengan paksaan, barulah setelah itu akan datang kelembutan/ kemudahan. Berbeda dengan masuknya sesorang pada suatu agama. Allah berfirman: “Laa ikrooha fid diin”, tidak ada paksaan dalam memeluk suatu agama. Keagungan ayat ini diapit oleh dua ayat yang dimulai dengan kata Allah. Itu menunjukkan bahwa ayat ini mengandung nilai yang amat berharga. “Bukan main-main”, tutur Ust. Yaqin.
Kemudian bahasan kami beralih masalah poligami. Tidak sedikit para lelaki sekarang yang menggembor-nggemborkan tentang bolehnya poligami, bahkan sebuah sunnah Nabi. Padahal jika dilihat dari sejarah Nabi Muhammad yang melakukan poligami, semata-mata dilakukannya bukan karena nafsu, tapi karena tuntutan yang mengharuskannya untuk menikah lagi agar bisa melindungi perempuan yang dinikahi tersebut. Jika kita menengok sejarah, dua perempuan yang dinikahi Nabi bukan atas dasar paksaan keadaan adalah Siti Khadijah dan Siti Aisyah. Maka kalimat yang benar tentang poligami bukanlah merupakan sunnah Rasul yang menjadi solusi tapi solusi yang menjadi sunnah Rasul. Keinginan para lelaki sekarang untuk poligami juga dikuatkan dengan alasan banyaknya jumlah perempuan sekarang dibandingkan laki-laki. Padahal jika kita pikirkan kembali, hasil pikiran tersebut terlalu menyeluruh. Memang benar, jumlah perempuan lebih banyak sekarang ini, namun masih banyak perempuan maupun laki-laki yang belum mempunyai pasangan. Dengan itu bisa diambil kesimpulan bahwa meski semakin tinggi perbandingan antara jumalah perempuan dengan laki-laki, tidak bisa divonis bahwa tidak ada perempuan yang kehabisan pasangan. Pasti di jarak terdekat sekalipun selalu ada laki-laki yang belum mempunyai pasangan. Maka poligami hendaklah dilakukan oleh seseorang yang benar-benar melakukannya bukan karena nafsu, tetapi untuk menyelamatkan atau melindungi perempuan yang dinikahinya.

----------------

Saat aku sedih karena banyaknya masalah yang kuhadapi, aku teringat dengan kata-kata dari Prof. Ali. Pernah aku merasa seolah-olah menjadi hamba Allah yang paling menderita. Padahal, saat aku melihat keluar, banyak sekali di antara mereka yang di luar sana merasakan ujian yang lebih besar dariku, bahkan masalahku tidak ada apa-apanya dibanding yang mereka alami. Namun mereka bisa tersenyum. Prof. Ali pernah mengatakan: ”Sedih itu bisa menurunkan potensi kesuksesanmu”. Masalah itu bukan alasan untuk menjadikan diri selalu sedih meratapi keberadaannya. Masalah adalah sebuah ujian yang harus kita hadapi dengan kesabaran. Jika kita mampu maka selesaikanlah, jika tidak maka bertawakkallah pada Yang Maha Kuasa. Bisa saja dengan adanya masalah itu kita diminta Allah untuk selalu mendekatkan diri padanya. Aku teringat pada sebuah cerita. Ada seorang hamba Allah yang diuji oleh Allah dengan ujian sangat berat. Hamba itu terus bersabar dan terus berdo’a, memasrahkan diri di setiap sujudnya. Namun cobaan itu terus saja diberikan Allah padanya. Bukan karena Allah benci dan murka kepada hamba-Nya tersebut, tapi karena apa? Karena Allah benar-benar cinta padanya. Allah senang saat hamba tersebut mengadu dan memohon pertolongan pada-Nya. Maka banyaknya masalah yang ada di hidup kita sekarang, hadapi saja. Kita punya Tuhan, Allah. “Selama Allah masih menjadi Tuhan, semua akan baik-baik saja”, kata ustadzku dulu di pondok.
Apa yang ada dalam diri kita sekarang, syukurilah. Jangan sampai kita termasuk hamba yang kufur terhadap nikmat-Nya. Meski kita belum bisa menjadi yang kita inginkan, berusahalah. “Apapun kamu, siapapun kamu, aku bangga denganmu”, kata Prof. Ali. Ingatlah “Al-ajru biqodril masyaqqoh”, balasan itu tergantung usaha (kesulitan). Lakukanlah segala sesuatu yang ada dengan sebaik-baiknya, itu lebih baik dari pada terus mengharapkan sesuatu yang tinggi tanpa melakukan usaha yang terbaik. “Man rodhiya biqodo-illah rodhiya Allahu ‘anhu”, barang siapa yang ridho dengan segala ketetapan Allah, Allah akan meridhoinya.

----------------

Aku teringat dengan kata-kata pertama kali Prof. Ali masuk ke kelas kami. Beliau meminta kami untuk menuliskan satu kalimat, sebesar mungkin. “Hari ini saya tidak seperti kemarin. Hari ini saya jauh lebih baik dari pada kemarin”. Dengan kata-kata itu, apa yang kami lakukan sekarang tidak boleh sama dengan kemarin, harus lebih baik. Jika kemarin dilakukan kurang semangat maka sekarang harus semangat. Jika kurang sungguh-sungguh maka sekarang harus sungguh-sungguh. Dan apabila kemarin telah semangat dan sungguh-sungguh, sekarang harus lebih daripada itu.
Kemudian Prof. Ali menambahkan, “Hidup ini seperti menaiki sepeda. Kamu harus terus bergerak, jika kamu berhenti bergerak maka kamu akan jatuh”. Kita tidak boleh diam di tempat. Lakukanlah apa yang sebaiknya kita harus lakukan.
“Jika ukuran kebaikan dinilai dari materi, maka hanya orang kaya yang menjadi orang baik”. Padahal, semua manusia di dunia ini memiliki potensi kebaikan. Maka kebaikan tidaklah selalu dan tidaklah pula seharusnya dinilai dari materi.
Aku teringat lagi dengan kata-kata Prof. Ali saat beliau menanyakan Mizan merk polpen yang dipegang tanpa melihatnya kembali. Mizan pun tidak tahu. Kemudian beliau meminta Mizan untuk melihatnya dan ketika itu barulah Mizan menyadari merk polpennya sendiri kemudian menjawab pertanyaan Prof. Ali. “Kadang orang tidak tahu apa yang ada dalam dirinya meskipun bertahun-tahun ada dan dekat dalam dirinya”, kata beliau. “Iya ya?”, aku membenarkannya. Kadang kita tidak tahu akan potensi yang kita miliki padahal potensi tersebut telah melekat dalam diri kita sejak lama.
Membahas tentang potensi, Prof. Ali pernah mengatakan, “Kamu diberi ilmu bukanlah untuk dirimu sendiri tapi juga untuk orang lain. Jika kamu memiliki ilmu tapi masih terus saja diam, maka apa yang akan kamu berikan pada orang lain? Berbagi ilmu itu bukan hanya dengan perkataan. Kalau menurutmu berbagi ilmu dengan ungkapan kata-kata itu sulit, maka menulislah. “Tulisanmu, latihan mengekspresikan dirimu. Membahagiakan orang lain tidak mesti dengan kata-kata, menulislah”, ucap Prof. Ali. Yang perlu diingat adalah “ukhrijat li annas”. Kita diciptakan untuk orang lain.

-------------------

Tepatnya pada tanggal 29 April 2015, setelah Ulangan Tengah Semester mata kuliah Pemahaman Individu, dengan suara lantang ketua angkatan kami Jajang Supriatna menyampaikan sebuah pengumuman. Meski suasana yang begitu gaduh karena kebanyakan dari kami yang akan keluar kelas, ia berdiri di depan kelas sambil menatap wajahnya ke layar HP, membaca sms yang isinya “Saya putuskan bahwa hari Senin depan harus sudah menyetorkan tulisan sebanyak 30 lembar”. “Allah............”, hatiku rasanya tertimba batu yang rasanya berat sekali. Tidak hanya hati, badanku terasa lemas tak berdaya. Kulangkashkan kakiku menuruni anak tangga sebelah utara Fakultas Dakwah dan Komunikasi gedung A menuju Gang Dosen untuk membeli makanan. Meski nasehat dan motivasi Prof. Ali telah membuatku yakin bahwa aku pasti bisa menulis sebanyak 50 lembar dengan spasi 1, namun rasanya hari itu terlalu mendadak. Aku terbayang dengan sisa 5 hari dengan jumlah halaman sebanyak 50 lembar. Itu artinya, aku harus menulis setiap harinya sepuluh lembar. Sebagai anak yang belum mempunyai bakat menulis, itu merupakan sebuah hal yang sangat amat berat bagiku. Aku membayangkan setelah ini hariku tidak akan terbuang satu jam pun kecuali untuk istirahat dan tidur, sisanya adalah untuk kuliah, kegiatan lain dan tentunya menulis. Jalan yang kutempuh saat menuju Gang Dosen dan membeli makanan terasa tanpa tujuan. Aku hanya berjalan tanpa memikirkan satu hal pun selain “Bisakan aku? Hanya dalam waktu lima hari menulis sebanyak 50 lembar? Apa yang akan aku tulis? Apalagi aku yang saat ini belum mempunyai tulisan selembar pun?”. Aku takut diliputi rasa cemas yang tak karuan.
Setelah mendapatkan apa yang kucari, aku pun segera kembali ke Pesmi dan makan siang. Kucoba lepaskan segala beban yang ada di otakku juga hatiku. Aku mengambil laptop dari lemari yang bertempat di depan tempat tidurku dan kuletakkan di atas meja. Kubuka perlahan dan masih saja otakku dicemaskan dengan pikiran-pikiran tadi. Aku diam sejenak, memikirkan kata apa yang hendak dulu akan kutulis. Akhirnya kedua tangan kuletakkan di atas keyboard dan mulai mengetik apa yang ada di otakku, “Bismillahirrohmanirrohim”. Aku terhenti sampai di sana, kembali berpikir kata selanjutnya yang akan kuisikan dalam lembaran itu. Kemudian terlebih dahulu ku-klik toolbar tempat mengatur font huruf dan ukuran. Kuatur satu persatu, tak lupa toolbar untuk memilih spasi 1. Kalimat pertama, coba aku ketik, diteruskan beberapa kalimat selanjutnya. Aku terus mengetik tanpa mengoreksi terlebih dahulu. Sebentar kuberhenti, berpikir, sebentar kuketik lagi. Sesekali kulihat jam yang berada di pojok sebelah kanan bawah laptopku. Aku kaget. Aku belum mendapatkan satu lembar tetapi sudah menghabiskan waktu hampir satu jam. Langsung aku berpikir, “Bagaimana aku bisa menyelesaikan tulisan ini? Akankah tiap hari aktivitasku akan selalu di depan laptop dengan tangan yang terus mengetik sedangkan pikiranku terbang melayang mencari sesuatu yang hendak kutulis? Jika kuberikan waktu dua jam untuk satu lembarnya berarti 10x2 jam setiap harinya?”. Subhanallah. Akhirnya ketika itu kucukupkan diri untuk mengetik dan hanya menghasilkan satu halaman karena otakku yang sudah tidak kuat lagi. Kuakui sebenarnya aku bisa melakukannya tapi karena ketika itu aku terlalu shock dan terus saja memikirkan hal buruk yang akan terjadi maka aku pun memutuskan untuk tidak melanjutkannya terlebih dahulu. Aku butuh istirahat dan pikiran yang fresh untuk memulainya kembali.
Tak terasa aku tertidur. Hingga beberapa waktu kemudian kulihat HP yang berada di sampingku bergetar. Tertulis nama ibu. Aku pun mengangkatnya. Hampir satu jam aku berbincang-bincang dengan ibu. Aku menceritakan segala hal yang memberatkan pikiranku ketika itu. Aku juga mengatakan padanya kalau aku ingin pulang. Ibu menjawab, “Nak pengen mantuk nggeh mantuk”. Kalau mau pulang, pulang saja, katanya. “Nggeh bu”, jawabku. Masih dalam sambungan telepon, di akhir perbincangan tak lupa ibu menanyakan keadaanku yang sejak kemarin mengatakan kurang enak badan. Ibu kembali mengingatkanku untuk makan teratur, minum obat dan sebagainya. Karena memang akhir-akhir ini penyakit maag-ku sering kambuh. Apalagi ditambah pusing yang tak tau kenapa juga turut mengganggu aktivitasku terakhir ini.
Selesai menelepon, aku berpikir kembali. “Pulang gak ya?”, tanyaku pada diri sendiri. Kalau aku pulang, bagaimanana dengan tugasku sebanyak ini? Apalagi senin juga ulangan terakhir. Kalau aku di rumah, pasti selalu ada alasan untuk ku tidak mengerjakannya. Kalau tidak pulang, tapi aku ingin pulang. Sudah satu bulan aku belum menginjakkan kaki di desaku, Karangdowo, Sumberrejo, Bojonegoro. Tak lama kemudian Hpku bergetar lagi. Tertulis nama temanku. Ia mengatakan bahwa besok adalah deadline pengumpulan cerpen. Aku diharuskan untuk menulis. “Ya Allah........”, rasanya pikiranku tambah menumpuk dengan tugas mana yang akan kukerjakan terlebih dahulu. Kukatakan padanya kalau aku tidak bisa mengumpulkan cerpen besok, kalau memang benar-benar harus besok maka aku akan mencari pengganti temanku lain untuk membuatnya. Namun dia membalas, “Tidak apa-apa kalau misalnya terlambat, tapi jangan lama-lama ya”. Akhirnya aku menerimanya dan akan mengerjakannya setelah aku selesai menulis tiga puluh lembar ini. Karena terlalu berat jika aku memikirkan dua tugas sekaligus.
 Aku mengambil Hpku. Kubuka menu sms dan kutuliskan, “Jadi pulang mbak?”. Kukirim sms itu ke salah satu teman yang kemarin mengajakku pulang. Tak beberapa kemudian Hpku berdering. Dia membalas smsku. “Jadi, kapan?”, jawabnya ditambah dengan pertanyaan baru. Aku berpikir ulang lsudah separagi. Aku benar-benar ingin pulang. Akhirnya aku pun memutuskan untuk membalasnya “Jum’at pagi ya”. “Iya”, jawabnya. Setelah itu pun keputusanku bulat untuk pulang. Ditambah lagi dorongan dari teman-teman sekamarku karena mereka semua pulang minggu ini. Maka malam jum’at kali ini aku sendiri di dalam kamar. Aku habiskan malamku untuk mengetik hingga tengah malam. Setelah mataku sudah tidak kuat lagi akhirnya kuputuskan untuk tidur dan kulanjutkan besok lagi.

----------------

Jum’at, tanggal 01 Mei 2015 pukul 06.00 aku masih dalam posisi yang sama, duduk di atas kursi kayu menatapi laptop dan terus saja menggerakkan jemariku di atas papan-papan tombol. Disaksikan oleh sang surya yang saat itu berusaha menampakkan sinarnya seraya meyapaku dibalik cendela kamar.  Kucurahkan segala yang ada di benakku dan berharap saat itu aku menghasilkan beribu deretan kata. Kuingin saat di rumah nanti tugas yang kali ini menjadi alasanku untuk  menunda kepulanganku sudah setengah selesai. Sesaat aku teringat dengan ulanganku besok senin. Tentunya aku tidak mungkin pulang sebelum mempunyai materinya. Akhirnya kucukupkan jari-jariku yang sejak tadi mengetik dan segera mengunjungi kamar Nadia untuk meminta file. “Assalamu’alaikum”, ucapku di depan pintu. “Wa’alaikumussalam”, jawabnya. Kubuka pintu dan kudapati teman se-lantai-ku di Pesantren Mahasiswi itu sedang melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan sejak tadi, ya mengetik. Tak perlu basa-basi aku segera menyerahkan flashdisk di tanganku padanya untuk meminta file seraya bertanya, “Sudah dapat berapa lembar Nad?”. “Baru satu lembar”, jawabnya. “Wah... baru satu lembar saja tidak terlihat satu wajah risau pun dari pancaran mukanya, tenang. Tapi kenapa aku yang sudah lebih banyak darinya masih merasa kurang yakin bisa menyelesaikan? Hmm... tapi memang sih, dia sudah bisa dibilang ahli kalau soal menulis. Tak perlu dipertanyakan lagi itu. Ya sudahlah, tidak ada alasan bagiku untuk menyerah.” Ungkapku dalam hati dengan panjangnya. Masih belum sadar dengan apa yang ku lamunkan, tiba-tiba ia menyerahkan flashdisk-ku. “Sudah?”, tanyaku agak kaget. Dengan khasnya, ia hanya memberi isyarat satu anggukan membenarkan pertanyaanku. Langsung saja kuucapkan terimakasih dan berlalau dari kamarnya dengan cepat menuju kamarku. Satu persatu margin kuedit dan mulai kupilah materi-materi yang akan menjadi bahan soal besok Senin. Kurang lebih hampir setengah jam dengan nikmatnya kujalani aktivitas itu. Memang, itulah salah satu hal yang paling aku gemari. Rasanya tidak puas kalau membiarkan sedikit saja ketidakrapian pada tampilan word yang akan aku print. Setelah semua telah kuanggap layak untuk dicetak, aku pun men-copy-nya ke flashdisk. Karena waktu semakin dekat dengan jam 8 dimana janjianku dengan teman untuk pulang, aku pun segera berkemas dan pergi ke kamar musyrifah di lantai empat untuk nge-print. Kemudian aku kembali ke kamar sebentar. Setelah semuanya siap, aku kembali ke kamar musyrifah untuk mengambil file yang aku print dan langsung pulang karena telah ditunggu temanku.
Sebelum aku naik mobil pick-up, aku dan temanku terlebih dahulu pergi ke Bank BTN dalam kampus. Aku mengambil beberapa uang yang ada di sana untuk ongkosku pulang. Kulewati jalanan yang becek bekas hujan semalam. Setelah aku mengambil uang lewat mesin ATM, aku segera menuju jalan raya. Beberapa menit kemudian aku melihat mobil pick-up warna biru yang mendekatiku dari arah utara. Aku pun segera naik dan kemudian mobil berjalan mengantarkanku menuju terminal Bungurasih.
Karena aku naik mobil pick-up, maka aku tidak langsung turun ke terminal. Aku turun di tepi jalan dan harus menyeberang melewati jembatan penyeberangan jalan terlebih dahulu untuk sampai ke terminal. Di jembatan, kulihat ada beberapa pengemis tua yang duduk di sana menunggu para orang dermawan memberikan sedikit hartanya. Salah satu dari mereka sedang asyik membaca koran. “Hemmm”, gumamku dalam hati. “Meski ia menjadi pengemis, tapi masih saja berkeinginan hati untuk tetap mengetahui perkembangan pemerintahan. Bagaimana denganku yang kini menjadi seorang mahasiswa?”, aku masih mempertanyakan diriku sendiri. Setelah kuturuni jembatan, aku langsung masuk ke gerbang terminal yang cukup jauh dari tempat berhentinya bus kota. Di tengah perjalanan aku melihat bus Bojonegoro yang melintas berbeda jalur dengan arah kuberjalan. Terlihat di jendela bus para penumpang yang telah memenuhi kursi. Aku pun terus berjalan memasuki area terminal hingga kutemukan tulisan “Bojonegoro” di plank atas bus.
Ternyata, tidak ada lagi bus dengan tujuan Bojonegoro di sana. Aku hanya melihat banyak orang yang juga menunggu datangnya bus. Tiba-tiba aku merasakan perutku keroncongan, mungkin karena aku belum sarapan pagi tadi. Sambil menunggu bus datang, aku pun membeli satu porsi makanan yang dijual disekitarku. Inginku makan langsung, tapi karena takut jika tiba-tiba bus datang, jadi aku hanya memegang makanan itu sambil berdiri di tepi parkiran bus. Hingga beberapa menit aku hanya berdiri menunggu bis. Akhirnya aku putuskan untuk makan terlebih dahulu. Belum separuh aku makan, tiba-tiba bus datang. Dengan segera aku menyudahi makananku dan ikut berdesakan naik bus. Alhamdulillah, aku mendapatkan kursi untuk duduk. Setelah itu kulanjutkan makanku. Selesai makan aku membuka kertas materi untuk ulangan Tafsir BKI besok Senin. Aku coba menahan rasa kantukku dan terus membaca hingga tanpa sadar akhirnya polpenku jatuh dan aku pun tertidur. Sampai di tengah perjalanan aku baru menyadarinya. Kemudian aku lanjutkan membaca sampai tiba waktunya aku untuk turun.
Turun dari bus, aku melihat dari kejauhan seseorang yang tidak asing lagi di mataku, ibu. Dengan sepeda motor yang biasa dinaiki itu, aku dijemput menggunakannya. Perlahan  aku naik di belakang ibu. Kemudian dikendarainya sepeda motor itu dengan kecepatan sedang. Hanya seperempat jam aku telah sampai di depan rumah. Bapak, adik, nenek, kakek, paman dan bibi telah menungguku di sana. Meski hanya penyambutan sederhana, yakni senyuman dan jawaban salam serta kecupan tangan mereka, namun rasa bahagia karena bisa berkumpul bersama mereka merupakan kebahagiaan yang tiada harganya. Aku masuk rumah seolah tamu yang amat mereka mulyakan. Aku ditawari makan, minum, jajan dan lainnya. “Beginilah kalau orang yang jarang ada di rumah”, kataku dalam hati dengan senyum khasku.
Ku lalui dua hariku di rumah dengan banyak istirahat, karena memang kondisi badanku yang kurang baik. Kuceritakan pengalaman-pengalamanku di Surabaya kepada ibu dan adikku juga kepada temanku yang ketika itu bermain ke rumah. Aku bercerita tentang keadaanku di Surabaya yang sangat aku syukuri. Berkali-kali aku bilang bahwa aku beruntung sekali berada di Kota Pahlawan ini, tepatnya di kampus UIN Sunan Ampel Surabaya. Di sini aku mengetahui banyak hal dan bertemu dengan orang-orang yang hebat. Semua teman-temanku ramah dan bersahabat. Meski kita berbeda asal, namun perbedan itu justru yang lebih membuat kita semakin akrab. Kita bisa bertukar pengalaman dan ilmu dari berbagai daerah yang berbeda. Subhanallah, indahnya bersaudara dan berbagi.
Di rumah, aku meneruskan tugas menulisku hingga mendapatkan 28 halaman. Lembaran terakhir kusisakan untuk di Surabaya setelah aku sampai di sana. Dan kini, setelah aku sampai, aku mulai mengetik. Aku teringat saat naik bus beberapa jam yang lalu ketika akan ke Surabaya. Aku melihat orang-orang yang berada di dalam bus dan orang –orang di luar bus yang terlihat dari balik jendela. Kulihat mereka mempunyai tujuan yang berbeda. Posisiku yang saat itu berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk, tentu mempunyai pikiran yang berbeda dengan mereka yang mendapatkan tempat duduk dan mereka yang tidak naik bus. Subhanallah, aku melihat kekuasaan Allah ketika itu. Dalam satu kejadian, dalam ruang dan waktu yang sama tapi mempunyai hikmah yang berbeda-beda bagi setiap yang mengalaminya.

---------------------------------------------***--------------------------------------------

Senin, 04 Mei 2015 di ruang D1.203.
Tanganku seakan menggenggam secuil es batu. Dingin sekali. Entah cemas, gugup, takut atau hanya sekedar efek dari AC yang berada tak jauh dari tempat dudukku. Tapi yang pasti aku sedang menunggu kedatangan seseorang yang kan meneliti hasil tulisanku 30 lembar itu. Jantung pun semakin berdegup kencang saat kulihat pintu di depan pandanganku dengan sendirinya terbuka, disusul seorang pria dengan wajah tak asing lagi. Namun ternyata bukan dialah penyebab bimbangku. Dialah Ust. Yaqin. Aku agak sedikit lega, dan akhirnya benar-benar lega saat ada pemberitahuan bahwa Prof. Ali tidak masuk hari itu. Sebenarnya kerugian juga jika beliau tidak hadir, karena pasti akan banyak ilmu yang seharusnya bisa aku dapatkan. Tapi karena begitu cemasnya maka rasa itu tiba-tiba sirna saat yang kutakutkan tidak akan terjadi. Aku sendiri bingung dengan yang kurasakan. Mengapa aku harus takut? Padahal aku sudah menyelesaikan 30 lembar dengan tepat waktu sesuai yang diperintahkan. Mungkin aku terlalu takut dengan komentar yang akan diberikan. “Wah.. sungguh salah pikiranku ini.”, ungkapku sekarang.
Baralih dari pikiran itu, kini saatnya adalah menimba imu dari Sang Ustadz lulusan dari Kairo, Mesir. Meski sudah beberapa bulan ilmunya ditularkan pada kami, namun masih terus saja hal-hal baru selalu bisa dipetik darinya. Dan meskipun mata kuliah Tafsir Bimbingan dan Konseling Islam telah selesai sekaligus ujian-ujiannya, hal itu tidak menjadi alasan untuk memberhentikan kegiatan belajar bersama kami. Subhanallah, alhamdulillah.

---------------

Sabtu, 09 Mei 2015.
Kubuka mataku perlahan. Dinginnya udara malam telah mengusik ketenangan tidurku. Kupandangi sekitar, tak asing bagiku. Yah, suasana yang sama sebelum aku terlelap. Tumpukan kertas putih yang bertuliskan ayat-ayat al-Qur’an masih berada di atas tanganku. Ternyata baru kusadari, aku ketiduran. Segera kuraih HP yang tak jauh dari jangkauanku. Pukul 01.47. Aku kaget. Langsung dengan sekuat tenaga kuangkat tubuhku melawan keinginan diri untuk kembali terlentang. Kutahan mataku yang masih mengantuk untuk memandangi tulisan di kertas putih itu. Meski buram, namun perlahan akhirnya jelas. Kulanjutkan sebentar hafalanku tadi malam, mencoba mengingat ayat yang telah kumasukkan dalam memoriku. Saat kurasa cukup mengulang hafalanku, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi yang berada 10 meter dari pintu kamarku. Kutengok kanan, kiri, tak bersuara, sepi. Tanpa menunggu orang lain menemani, aku langsung menyucikan tubuhku untuk menghadap Sang Ilahi.
Beberapa jam telah berlalu, saatnya waktu yang kutunggu hadir di depan mata. Yah,  asalan mengapa aku dari semalam sibuk dengan kertas putih yang selalu berada di genggamanku. Hari ini adalah UAS tahsinul Qur’an. Dari seluruh ayat al-Qur’an tentang BKI yang telah dipelajari selama satu semester, akan ditentukan beberapa yang harus dihafalkan. Tidak hanya sekedar menghafal, tartil Qur’an juga dinilai. Maka pada UAS ini, diharapkan untuk mengahfalkan ayat-ayat yang berjumlah 50 lebih dan mempersiapkan tartil terbagus ketika menyetorkannya.
Sesuai kesepakatan jauh-jauh hari sebelum ditentukannya hari ini dan menganut pada usulan Prof. Ali, ujian tidak dilaksanakan di Kampus tetapi di Pondoknya Ustadz Yaqin. Wah, sebuah keputusan yang menggembirakan tentunya. Bukan hanya suasana baru yang akan kami nikmati tapi juga kekakraban yang lebih hangat untuk lebih mengenal asisten dosen yang selalu sabar dalam menularkan ilmunya pada kami. Bayangan dalam imajinasi yang kuat hadir dibenakku saat pemberitahuan itu. Bagaimana suasana religious di dalamnya? Bagaimana bentuk bangunannya? Bagaimana cara menempuh jalan ke sana? Berbagai pertanyaan hinggap menyelimuti bayanganku, dan tentunya pertanyaan terakhir adalah bagaimana ujian dilaksanakan? Ayat mana yang akan diujikan padaku? Dan beebagai pertanyaan lainnya. Dari segala pertanyaan yang muncul dalam benakku akhirnya akan terjawablah beberapa jam ke depan. Kuambil tas yang saat itu berada di sampingku, dengan hati-hati kumasukkan modul yang menjadi bahan hafalanku. Setelah semuanya siap, kulangkahkan kaki keluar dari kamarku dan menghampiri teman-teman. Terlihat jarum jam tanganku menunjuk pada angka tujuh. Segera kuturuni satu persatu anak tangga dari lantai tiga menuju lantai dasar. Tak terpikirkan berapa jumlah anak tangga yang telah kulalui, terus saja kaki ini melaju dengan sedikit gugup sembari terus mengulang hafalanku agar selalu melekat dalam otak. Belum sampai di lantai dasar, kulihat sosok yang tak asing lagi bagiku sedang duduk dengan seriusnya di dekat jendela ruang TV. Dengan gamis khasnya, aku bisa dengan mudahnya mengenali satu temanku itu meski dari balik badannya, yah Nisa namanya. Gadis keturunan Kalimantan Jawa ini dengan sedikit gugup mencoba mengulang kembali hafalannya. Aku pun segera masuk dan menghampirinya. Tanpa memanggil nama, aku langsung saja berdiri di samping kursi tempatnya duduk karena tak ingin memutus ayat al-Qur’an yang sedang dilantunkannya, juga tak ingin membuatnya kaget dengan sapaanku. Setelah ia berhenti, spontan aku bertanya “Udah hafal semua mbak?”. “Belum lancar, Febi”, jawabnya. “Ayo, nghafalkan bareng.” Ajaknya kemudian. “He’em.” Aku menganggunk. Sambil menunggu teman-teman lain yang masih bersiap-siap, aku dengan Nisa terus saja memperbaiki hafalan kita.
Beberapa menit berlalu, terdengar tak jauh dari tempatku berada sebuah teriakan yang familiar di telingaku memanggil semua nama teman satu persatu. Hampir setiap akan adanya kegiatan selalu ada suara demikian. Hingga tak heran lagi para mahasantri selain kelasku turut hafal nama-nama kami karena seringnya terdengar. Apalagi suara yang menggema dari lantai dasar hingga lantai lima. “Tria, Sofi, Zahra, Bila, Fikah, Ega, Murni, Febi, Ima, Nadia!” teriak salah satu suara. Disambut dengan suara lain, “Fiska, Norma, Nisa, Yuyu’, Iva, Rina, Dinda!”. Wah, satu asrama Khadijah binti Khuwailid ini rasanya terpenuhi dengan ramainya suara anak B3 BKI. Satu persatu nama yang tersebut kemudian menuruni tangga menuju ke pintu keluar asrama. Aku yang saat itu tengah berada di lantai 2 depan tangga turut mengikuti mereka. “Ayo berangkat mbak.” ajakku kepada Nisa. “Iya, duluan aja.” jawabnya dengan senyum indah di bibirnya. “Aku tunggu di bawah ya.” Ucapku dengan suara agak keras sambil berlalu meninggalkan ruangan menuju lantai bawah.
Kulihat teman-teman sedang bergiliran mengambil sepatu yang tertata di loker masing-masing, dan kemudian disusul olehku. Bersama-sama kami keluar dari pintu asrama dan standby di depannya sambil menunggu beberapa teman lain yang masih dalam persiapannya. Begitu semuanya sudah berkumpul, langsung saja let’s go!.
Langkah kaki kami berhenti di halaman masjid. Kutengok kanan kiri mencari teman laki-laki namun belum ada satu pun yang menampakkan batang hidungnya. Barulah sebentar kemudian, dari kejauhan terlihat mereka mulai berdatangan meski belum semua. Kami terus saja berada di sana hingga terdengar mobil pick up yang akan mengantarkan kami lewat dari arah barat. “Itu dia!” teriakku. Semua mata tertuju pada satu angkot warna kuning di arah ujung jari telunjukku, diikuti satu angkot lagi dibelakangnya. Dengan heran, dalam hati aku bertanya, “Kenapa angkotnya malah terus berjalan ke timur? Sedangkan aku dan teman-teman sudah standby di barat, huh”, keluhku. Aku pun langsung melangkahkan kaki di belakang teman-teman menghampiri mobil tersebut. Kira-kira dua puluh meter dari tempatku berdiri. Segera aku masuk ke dalam mobil dan memposisikan duduk dengan tenang, begitu juga dengan yang lainnya. Karena jumlah putri yang jauh lebih banyak dari pada putra, mobil yang aku tumpangi sudah tak mampu menampung dua putri lagi, penuh. Suasana pun menjadi gaduh saat hampir semuanya mengeluh, ditambah dengan beberapa yang berusaha mencari solusi dan mengungkapkan argumennya. “Sudah penuhlah, mana bisa masuk lagi? Panas ni...” teriak salah satu orang temanku. “Diamlah, aku coba itung ini. Dua cewek ikut di mobil cowok aja lah.” kata seseorang mencoba mendamaikan. “Yah, benar itu. siapa yang mau?”. “Ga’mau lah. Sudah pewe ni.” Ungkap Rina. “Aku, aku”, Murni dan Dinda mengajukan diri. “Sip, masuk sana.” teriak teman-teman.
Meski agak berseteru sebentar, namun suasana kembali kondusif. Semuanya telah duduk dengan tenang. Tanpa menuggu apa-apa lagi, langsung saja dua mobil pick up warna kuning melaju dengan pasti menuju pintu gerbang. Terlihat di balik jendela banyak mahasiswa lain yang tidak satu tujuan turut memandangi kami. Kami? Atau hanya mobil yang kami tumpangi? Entahlah.
Empat roda dengan melaju dengan kencangnya ke arah selatan setelah keluar dari gerbang utama. Bayanganku tiba-tiba melayang saat melihat gerbang warna hijau itu. yah, aku ingat ketika pertama kali mataku tertuju padanya. “Indah, kokoh.” ungkapku. Dan kini kakiku sudah tak terhitung lagi entah berapa kali melewatinya. Bayanganku tentang gerbang itu perlahan buram seiring memudarnya pandanganku. Mobil telah membawaku jauh meninggalkan UINSA, kampus tempatku berproses. Tiba-tiba aku kaget saat badanku tak bergerak lagi. Kidapati ternyata mobil berhenti di depan Alfa Mart. Ada beberapa teman yang membeli sejumlah makanan dan minuman sekedar untuk mengisi perut di mobil menemani obrolan kami. Setelah semuanya kembali, perjalanan pun dilanjutkan.
Hampir setengah jam aku belum saja turun. Jalan-jalan yang kulewati terlihat asing di mataku. Yah, memang mata ini belum pernah berjumpa karena hanya sekitar kampus yang biasa kujelajahi. Namun, dengan pemandangan baru itu rasanya hati dan pikiran kembali fresh, segala beban di otak memikirkan ujian yang akan kulaksanakan nanti sejenak hilang.
Yang ditunggu-tunggu akhirnya hadir di depan mata. Terlihat bangunan yang lumayan besar berdiri kokoh di sampingku. Kulihat gerbang yang berada di belakangku, di atasnya tertulis “An-Nur”. “Pasti itulah nama pondoknya.” kataku dalam hati. Kemudian satu persatu turun dari mobil dan berdiri mengagumi tempat yang sejak tadi masih dalam bayangan semu. Semua mata kemudian tertuju pada Ustadz Yakin yang terlihat keluar dari pintu hendak menyambut dan mempersilahkan masuk. Tanpa berpikir panjang lagi teman-teman putra berjalan dibelakangnya diikuti yang putri termasuk aku.
Suasana pertama yang terlukis di otakku adalah religius yang tinggi. Langkah pertama kakiku menginjak bangunan itu aku langsung melihat ukiran-ukiran dan lukisan-lukisan kaligrafi arab berisi kalimat Tuhan. Subhanallah. Lama kumemandang hingga tak tanpa sadar aku tertinggal oleh teman-teman yang berjalan dekat di depanku. Aku pun segera meninggalkan pandanganku dan beranjak menaiki anak tangga. Aku mengikuti langkah kaki mereka yang berada sebelumku menuju tempat dilaksanakannya ujian. “Silahkan masuk.” ucap Ust. Yaqin mempersilahkan. Tak tanggung-tanggung lagi kami bersama masuk melewati pintu kayu yang terbuka hanya dengan menggesernya ke kanan. Dengan menghadap ke utara, kami berjajar menjadi beberapa shaf. Kanan anak putra dan kiri anak putri. Dan aku pun mengambil barisan terdepan.
Rasanya jantung semakin berdebar dengan kencangnya. Diikuti suara teman-teman yang sibuk sendiri-sendiri untuk memperlancar hafalannya. Suasana gaduh pun tak terkontrol lagi. Maka dengan tegas Ust. Yaqin mencoba menghentikan muroja’ah kami dan mengajak untuk segera dimulai. Kemudian beliau memerintahkan untuk membaca ayat-ayat yang akan diujikan dari awal hingga selesai secara bersama-sama.
Ayat demi ayat kami lantunkan. Awal yang baik ternyata belum tentu berakhir dengan baik pula. Mulai dari pertengahan hingga akhir rasanya ayat yang kami baca tak semerdu awal, tidak serentak bahkan terkesan dibuat main-main. Ust. Yaqin tak berkomentar apapun. Barulah saat semua ayat terbaca beliau mengungkapkan kekecewaannya. Dengan kepala tertunduk, hati yang takut, juga perasaan yang malu kurasakan. Bukan hanya malu kepada beliau namun kepada Sang Pencipta tentunya. Apalagi saat Ust. Yaqin mengatakan, “Kalian sadar apa yang sedang kalian baca? Itu firman Allah, bukan sekedar bacaan. Tidak ada rasa mengagungkankah kalian?. Kami hanya terdiam hingga tak ada satu suara pun selain suara beliau. “Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk kalian, jangan pernah sekali-kali diulang lagi”. tambahnya.
Suasana tegang berlalu. Ust. Yaqin dengan sifat sabarnya memaklumi kami yang tadi berbuat kesalahan. Langsung saja ujian segera dimulai. Tanpa diurut absensi, juga tanpa tunjukan, satu persatu dari kami dipersilahkan untuk maju bagi yang sudah siap. Aku mengambil giliran ke empat dari tiga puluh teman yang mengikuti ujian. Dengan sedikit gugup kuhampiri bangku Ust. yaqin di depanku sejauh kurang lebih satu meter. Aku mendapatkan empat ayat yang harus dihafalkan. Alhamdulillah, satu persatu ayat mampu kuhafal meski ada beberapa yang agak terhenti karena gugupnya berada langsung di depan penguji. “Hmmm, serasa waktu ujian lisan di pondok.” ungkapku dalam hati.
Karena tergolong maju paling depan, waktuku pun tersisa banyak setelah itu karena menunggu semua teman maju satu persatu. Sembari menanti itu, aku segera mengambil mushaf dari dalam tas dan muroja’ah hafalanku. Aku mengambil tempat yang agak pojok agar aku tak mengganggu teman-teman tentunya.
Tak terasa waku bergulir begitu cepat, hingga semua telah mengambil gilirannya. Ust. Yaqin kemudian meminta kami untuk menulis pesan kesan kepada beliau lewat selembar kertas. Langsung saja kuambil binder dari dalam tasku dan meminjam polpen karena saat itu polpenku tidak bisa digunakan. Aku duduk agak menjauh dari teman-teman, berusaha mencari keadaan tenang di belakang pojok. Kutuliskan di sana kalimat-kalimat yang hanya kutujukan untuk satu dosenku itu. Belum sampai selesai, Munir sudah meminta kertas yang ada di tangaku untuk segera dikumpulkan. Akhirnya dengan tuisan yang hanya sebagian halaman langsung kukumpulka, disusul oleh teman lainnya yang sebenarnya masih ingin menulis lebih kesan lebih banyak lagi.
Ruangan kembali terdengar agak rebut, obrolan di sana sini seakan campur dan berkumpul menjadi satu suara. Barulah beberapa waktu kemudian suasana bila langsung dikondusifkan saat salah seorang dari teman kami mengusulkan untuk berfoto bersama. Semua langsung menanggapi baik usulan itu. Dengan antusias, semuanya segera memposisikan diri secara teratur. Kali ini giliran anak putri berfoto lebih dahulu bersama Ust. Yaqin, sedangkan anak putra antri menunggu di belakang kamera. Setelah berkali-kali jepretan, kemudian anak putri turut gabung di depan barisan putra. Kami berfoto bersama meski ada sedikit kesulitan saat memposisikan kamera karena tidak ada satupun yang mau menjadi fotografer. Akhirnya HP milik Norma menjadi solusi tepatnya. Alhamdulillah, dua hingga tiga kali potretan dirasa cukup.



Tibalah waktunya sholah dhuhur. Bergegas Ust. Yaqin menyarankan untuk sholat berjama’ah setelah itu baru diperkenankan pulang. Kami pun meng-iyakan. Bersama-sama aku dan teman-teman menuruni anak tangga menuju pintu keluar. Terlihat di lantai dua, ruangan yang ketika pertama klai masuk kubilang sangat indah dan religius, ternyata itulah masjid tempat bersujud kepada Sang Ilahi. Setelah meletakkan tas di barisan belakang, kami bersama-sama antri untuk mengambil air wudhu. Sempat lama sekali saat antri karena air di lantai dasar mati. Aku pun mendatangi tempat wudhu lain setelah ada seseorang bapak-bapak memberitahu keberadaan tempatnya. Aku dan beberapa teman putri yang lain bergantian berwudhu karena memang hanya ada dua kran. Kami juga bergantian untuk saling menjaga pintu berusaha menutupi teman yang sedang berwudhu karena tempat yang terbuka dengan lubang masuk tanpa pintu. Ditambah lagi dengan banyaknya anak putra penghuni asli pondok tersebut yang ketika itu turut antri di depan tempat wudhu yang kami tutupi itu, dikhawatirkan ada aurat yang terlihat oleh mereka. Setelah semuanya sudah berwudhu, langkah kaki kami langsung menuju masjid dan siap untuk sholat berjama’ah.
Irama merdu lantunan ayat al-Qur’an yang dibacakan oleh Ust. Yaqin sebagai imam membuat hati semakin tenang. Rasanya tak ingin hanya sholat dhuhur itu yang diimami oleh beliau. Namun, karena keadaan yang tidak memungkinkan maka akhirnya selesai sholat kami langsung memutuskan untuk pulang. Dua mobil pick up yang sebelumnya mengantarkan kami ternyata sudah standby di tempat parkir. Terlihat pula dua supir yang tengah berdiri di sampingnya.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, aku dan teman-teman segera memasuki mobil dengan berpamitan dengan Ust. Yaqin terlebih dahulu. Lambaian tangan kami kepada beliau saat mobil telah menggerakkan rodanya menggambarkan keinginan untuk bisa kembali ke tempat itu jika ada kesempatan lain. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk berkunjung kembali, aamiin.

----------------

Senin, 11 Mei 2015. Hari ini, bukan lagi ruang D1.203 yang menjadi tempatku menimba ilmu. Kami menyebutnya Ruang Sidang Bimbingan dan Konseling Islam. Masih dalam satu gedung, namun ruang itu terletak agak jauh dari kelasku aslinya. Dengan menuruni anak tangga sejauh sepuluh meter dari pintu kelas kemudian terus berjalan ke timur kira-kira lima belas meter, maka sampailah.
Sebagaimana janji Prof. Ali beberapa minggu yang lalu, hari ini akan didatangkan seseorang yang berkebangsaan Mesir untuk berbagi ilmunya kepada kami. Senang sekali rasanya, Allah menghadirkan diriku pada hari itu. Alhamdulillah. Dengan memakai kemeja merah dan celana hitam dilapisi dengan jas CSSMoRA (The Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) bagi yang putra dan rok hitam berkerudung merah serta memakai jas pula bagi yang putri, kami berusaha menyambut dengan rapi kedatangan beliau, Syekh Ibrahim Muhammad Ibrahim al-Hasany al-Azhary al-Mishry.
 Sebelum Syekh hadir, dipandu oleh Ust. Agus, dosen kami sekaligus Kepala Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam juga pembimbing mahasiswa PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) kami bersama-sama melafadzkan sholawat:
الله الله.... ربنا الله.... الله الله..... الهنا الله.... تبنا الى الله ورجعنا الى الله وندمنا على ما فعلنا....
Demikianlah sholawat yang selalu dilantunkan saat berkumpul bersama. Hati terasa bergetar saat lisan mengucapkannya ditambah dengan irama yang sangat merasuk dalam kalbu.
Tak beberapa lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu lagi datang dari balik pintu. Tidak sendirian, beliau ditemani oleh seorang istri dan ketiga anaknya, dua putri yang berumur sekitar 3 dan 6 tahun dan seorang putra sekitar 13 tahun. Kami mengiringi kedatangan mereka dengan lantunan sholawat pula:
طلع البدر علينا     #  من ثنية الوداع
وجب الشكر علينا  #  ما دعا لله داع
ايها المبعوث فينا   #  جئت بالأمر المطاع
انت غوثنا جميعا   #  يا مجمل الطباع
Kulihat senyum terpancar dibibir mereka, menandakan bahwa mereka senang dengan penyambutan kami. Alhamdulillah. Langsung saja beliau dipersilahkan menduduki kursi yang telah disiapkan di depan, sedangkan keluarga berada di kursi samping kiri tak jauh dari beliau. Selepas itu, langsung saja acara dibuka oleh Faisal dan Nisa sebagai MC. Dengan tiga bahasa, mereka membuka acara dengan sangat memukau. Nada khas mereka juga menambah antusias dari kami sebagai pendengar, terlihat dari sorak sorai para mahasiswa dan dosen yang hadir saat itu. Apalagi saat keduanya bersama-sama membacakan nama acara yang terpampang di banner depan:
الحلقة العلمية
"التربية والتعليم في اندونيسيا والجمهورية مصر العربية واحوال الأمة الإسلامية
 مع فضيلة الشيخ ابراهيم محمد ابراهيم الحسني الأزهري المصري"

Selesai pemukaan, yang berisikan lantunan ayat suci al-Qur’an, sambutan oleh Kepala Prodi Bimbingan dan Konseling Islam, dan penutup kemudian Faisal dan Nisa kembali ke tempat semula. Barulah acara yang ditunggu-tunggu segera dimulai. Ust. Yaqin mengambil posisi duduknya di sebelah kanan Syekh untuk memandu jalannya acara tersebut.
Banyak sekali pengetahuan baru yang disampaikan oleh Syekh. Namun tidak semua yang bisa kucatat, mungkin karena aku terpukau dengan cara penyampaian beliau yang berbahasa Arab, yang di sela-i dengan sedikit bahasa Indonesia. Aku mngambil beberapa poin penting sekaligus gambaran besar dari apa yang disampaikan oleh beliau, berikut ini:

1.    Keadaan umat Islam sekarang: Pada zaman sekarang ini banyak pergerakan umat Islam yang meng-atasnamakan jihad. Tidak sedikit dari umat Islam sendiri yang menjadi korban atas ambisi mereka yang menganggap bahwa Islam harus disebarkan dengan berjihad seperti yang mereka gemborkan. Salah satu dari pergerakan itu adalah ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Mereka telah salah dalam menafsirkan ayat al-Qur’an yang berbunyi:
قال تعالى: واللّذين جاهدوا فينا لنهدينّهم سبلنا....(الأية)
Kata “Jaahaduu” yang terdapat dalam firman Allah tersebut ditafsirkan sebagai jihad seperti yang dilakukan mereka. Padahal tafsir yang shohih adalah bahwa yang dimaksud yakni jihad melawan hawa nafsu.
2.    Di antara kejahatan ISIS:
a.       Membakar pilot Yordania
b.      Memenggal 20 orang Nasrani di perbatasan Mesir, dll.
3.    Pergerakan umat Islam semisal ISIS dan lainnya bukanlah dinamakan jihad, apalagi telah menyebabkan hadirnya berbagai kerusakan dan fitnah-fitnah di dunia, serta melenyapkan nyawa para saudara muslim sendiri. Padahal, Nabi Muhammad SAW. melarang umatnya ketika berperang untuk memotong pepohonan, membunuh wanita, anak kecil, orang tua, bangunan-bangunan yang bermanfaat dan lain-lain. Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Nabi. Dalam salah satu hadis Nabi juga disebutkan " القاتل والمقتول فى النار "  (Orang yang membunuh maupun dibunuh sama-sama akan masuk neraka).
4.    Orang Islam tidak boleh membunuh orang Yahudi dan Nasrani, karena sejatinya ketiganya memiliki satu ajaran pokok yang sama. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi Muhammad semasa hidupnya, ia selalu bergaul dengan mereka layaknya saudara sendiri. Meski dikatakan bahwa Yahudi dan Nasrani pada zaman Nabi berbeda dengan sekarang, namun perintah Rasulullah dan apa yang tercantum dalam al-Qur’an telah jelas bahwa kata Yahudi dan Nasrani adalah umum, bukan untuk Yahudi dan Nasrani di masa Rasulullah saja. Maka, meskipun ada perbedaan tapi esensinya tetap sama. Mereka adalah keturunan Yahudi dan Nasrani dahulu, dan orang islam harus bergaul dengan mereka sebagaimana Rasulullah, tidak boleh memeranginya.
5.    Umat Nabi Muhammad SAW. adalah umat yang istimewa karena di akhirat akan menjadi saksi penyampaian risalah Nabi-Nabi terdahulu.
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Nabi Nuh a.s. ditanya oleh Allah SWT. “Hai Nuh, Sudahkah kau sampaikan wahyu dari-Ku kepada umatmu?. “Sudah wahai Tuhanku”, jawab Nabi Nuh. Allah lalu bertanya kepada umat Nabi Nuh. “Sudahkan Nuh menyampaikan wahyu dari-Ku kepada kalian?”. “Belum ya Allah”. Karena dua jawaban yang berbeda kemudian Allah berfirman kepada Nabi Nuh. “Hai Nuh, umatmu tidak merasa bahwa kau telah menyampaikan wahyu-Ku. Sekarang tunjukkan bukti bahwa kau telah menyampaikannya!”. Nabi Nuh menjawab, “Wahai Tuhanku, Muhammad dan umatnya yang akan menjadi saksi atas penyampaian risalahku”.
6.    Pada malam isra’ dan mi’raj, Nabi Muhammad SAW. mempunyai tiga permohonan (do’a) kepada Allah. Nabi memohon agar Allah:
a.       Memenangkan umat Islam di setiap peperangan
b.      Menjadikan umatnya sebagai penduduk mayoritas di surga
c.       Tidak menghadirkan konflik di antara umat Islam.
Dari ketiga do’a tersebut, doa yang pertama dan kedua dikabulkan oleh Allah SWT, sedangkan yang ketiga tidak.
7.    Penyakit umat islam sekarang adalah perpecahan dan konflik. Keduanya merupakan sunnatullah. Terjadinya konflik dimulai ketika terbunuhnya Khalifah Umar bin Khatthab oleh Abu Lu’luah. Penyakit tersebut bisa diatasi dengan beberapa obat, di antaranya:
a.       Menyebarkan mahabbah
b.      Satu tujuan dalam menyebarkan Islam
c.       Mengikuti kelompok yang paling banyak
d.      Kalau tidak bisa, hendaklah diam di dalam rumah sampai datangnya pertolongan dari Allah.
e.       Memahami al-Qur’an dan as-Sunnah secara benar-benar oleh para guru yang mempunyai sanad sampai pada Rasulullah.
f.       Jauhi segala sesuatu yang menimbulkan permusuhan.
8.    Makkah dan Ka’bah adalah kiblatnya umat Islam ketika shalat, Mesir (al-Azhar) adalah kiblatnya umat Islam dalam hal keilmuan dan Indonesia adalah kiblatnya umat islam dalam hal adab dan tata krama.
9.    Sebagai mahasiswa, hendaklah bersungguh-sungguh dalam belajar mulai dari sekarang agar nantinya menjadi orang hebat yang setiap nasehat kita akan dipertimbangkan oleh orang lain karena sekarang kita masih belum mempunyai pengaruh besar terhadap pergerakan Islam.
Selesai penyampaian materi oleh narasumber, tibalah saatnya sesi tanya jawab. Satu persatu dari audien mengangkat tangannya. Agar lebih mudah, tiap pertanyaan yang diajukan oleh satu penanya langsung saja dijawab dan setelah itu baru giliran penanya berikutnya. Dengan agak gugup aku pun mencoba mengangkat tangan. Akhirnya Ust. Yaqin menunjukku dan mempersilahkan untuk bertanya. Wah, rasanya benar-benar gugup waktu itu. Apalagi tiba-tiba dari arah kiriku terdengar suara Ust. Agus berteriak. “Beri applause untuk Lia!”. Semua yang hadir pun menyambung tepuk tangan beliau. Aku pun segera mengambil mixrofon yang ada di depanku dan bertanya:
كما عرفنا أن اليهود والنصرى الآن يختلفون من اليهود والنصرى الذين عاشون في زمن رسول الله. هل علينا أن نعامل اي نعاشر كما في معاشرة النبي معهم في زمانه؟
“Sebuah pertanyaan yang bagus.” ungkap Syekh. Kemudian beliau menjelaskan bahwa ayat-ayat tentang Yahudi dan Nasrani yang tercantum dalam al-Qur’an telah jelas bahwa kata Yahudi dan Nasrani adalah umum, bukan untuk Yahudi dan Nasrani di masa Rasulullah saja. Maka, meskipun ada perbedaan tapi esensinya tetap sama. Mereka adalah keturunan Yahudi dan Nasrani dahulu, dan orang islam harus bergaul dengan mereka sebagaimana Rasulullah semasa hidupnya yang mempergauli mereka layaknya saudara sendiri. Orang Islam tidak boleh memeranginya. Karena sejatinya ketiganya mempunyai ajaran pokok yang sama.
Terdengar adzan dhuhur berkumandang. Karena acara juga sudah mencapai detik akhir, akhirnya dicukupkan. Bergegas kami maju ke depan untuk meminta foto dengan beliau dan keluarganya. Warna merah-merah seakan mewarnai ruang sidang ketika itu. Tak mau ketinggalan, meski Ust. Thohir saat itu berbaju batik dengan dominan motif warna hijau, beliau antusias untuk ikut berfoto. Ust. Agus dengan bercandanya seolah melarang beliau untuk ikut berfoto. Suasana bertambah seru karena semuanya pun ikut tertawa, tak terkecuali Syekh.



Setelah foto-foto dianggap cukup, Syekh dan keluarga langsung keluar dan kembali ke Ruang Dosen tak jauh dari Ruang Sidang, hanya berjarak sekitar lima meter saja. Namun, kami tidak langsung pulang, karena harus mengembalikan ruangan seperti semula, bersih dan rapi. Ditambah dengan Ust. Agus yang menginginkan kami untuk membeli makan siang oleh dua orang dan lainnya menunggu untuk dimakan bersama-sama. 

Menunggu datangnya nasi, kami bersama-sama melanjutkan untuk bersih-bersih. Tiba-tiba ada sebuah kejadian yang membuat semua sangat panik. Kurni, salah satu teman kami yang berperan besar dalam berlangsungnya acara itu tiba-tiba sakit perut dan jatuh dari kursi yang didudukinya. Sontak semuanya kaget dan segera membawanya ke luar menuju Ruang Jurusan. Ia ditempatkan di kursi busa panjang berlapis kain merah. Di sana, terus saja ia muntah dan meronta kesakitan di bagian perutnya. Banyak yang mengindikasikan bahwa ia dari semalam belum makan. Akhirnya hal itu pun dibenarkan oleh Kurni sendiri dengan anggukannya. Innalillah.
Dari balik pintu Ruang Jurusan, terlihat Ust. Agus berjalan dari Ruang Dosen untuk melihat keadaan Kurni. Dengan agak panik beliaupun menyuruh teman-teman lain membawanya ke klinik kampus. Namun Kurni menolak. Ia tetap bersikeras untuk tetap beranjak dari tempatnya. “Gak papa.” ucapnya. Kami pun tidak bisa membujuk Kurni. Semoga memang benar-benar tidak apa-apa dan cepat sembuh dari sakitnya. Aamiin.
Aku kembali ke Ruang Sidang. Disusul beberapa temanku dari belakang. Setelah menunggu beberapa saat, datanglah dua orang yang diutus oleh Ust. Agus membeli makanan. Dua kresek merah besar ia bawa ke dalam ruangan. Satu berisi nasi bungkus dan satunya berisi krupuk. Sebanyak 30 orang dibagi satu persatu oleh mereka. “Wah, sedapnyeee.” ungkap Rina setelah membukanya. Kami pun bersama-sama menyantap makanan itu dengan dimulai do’a bersama-sama terlebih dahulu. Agar mengefesienkan waktu, juga agar suasana tidak hening, kami membuat obrolan bersama Ust. Yaqin. Banyak hal yang menjadi tema bahasan ketika itu, termasuk evaluasi pelaksanaan acara hari itu. Alhamdulillah, acara kali ini terbilang lancar tanpa kendala. Suasana pun ikut mendukung berjalannya acara ini dengan baik.

----------------

Senin, 18 Mei 2015. Hari ini aku kembali mendapatkan banyak pelajaran yang berharga dari Prof. Ali. Dosen yang amat aku kagumi—juga semua mahasiswa di kelasku—itu memulainya dengan membahas satu firman Allah dalam surat ar-Rahman yang berbunyi “fabiayyi aalaa-i robbikumaa tukadzdzibaani”. Ayat yang tak asing lagi didengar oleh seluruh umat muslim—karena keberadaannya yang disebutkan lebih dari 30 kali dalam satu surat sehingga memakan sekitar 50% dari jumlah keseluruhan surat—itu memiliki banyak sekali rahasia yang tersimpan di dalamnya. Salah satunya adalah pesan kepada manusia untuk tidak bosan dalam menyampaikan nasehat. “Tiada bosan memberi pesan”, demikian Prof. menyebutnya. Begitu melimpahnya nikmat yang dianugerahkan oleh Sang Maha Pemberi Rizki, namun banyak manusia yang tidak bersyukur kepada-Nya. Sebagaimana penjelasan tambahan dari Ust. Yaqin, “Banyaknya ayat tersebut menunjukkan banyaknya nikmat Allah dan banyak pula dari hamba-Nya yang tidak bersyukur”. Maka dengan ayat ini Allah memberi peringatan kepada manusia. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang telah kamu dustakan?”, firman-Nya berulang kali. hal ini dapat diambil kesimpulan bahwasanya dalam pembentukan pribadi seseorang tidaklah cukup hanya dengan satu kali perintah. “Padahal itu pesan dari Tuhan kepada Makhluk-Nya, bagaimana dengan sesama makhluk? Pasti membutuhkan lebih banyak pengulangan.”, tambah Prof. kemudian. Subhanallah, Maha benar Allah atas segala firman-Nya.
Tak lama setelah itu, dengan tatapan mata khasnya dibalik kaca mata, Prof. Ali menanyakan tentang tulisan. Sontak hati terasa bagai disambar petir secara tiba-tiba. Bagaimana tidak, aku sama sekali belum menambah tulisan yang ditargetkan dua minggu yang lalu. “Hmmm, selalu hujan jantung yang mewarnaiku saat tiba waktu seperti ini”, kataku dalam hati. Karena waktu yang terbatas, kurang lebih hanya dua jam setengah, langsung saja seperti yang telah dikatakan Kurniawan sebelumnya,   hari ini satu persatu tulisan akan diperiksa. Kupandangi teman-teman yang berada di sisi kanan, kiri dan belakangku, terlihat beberapa dari mereka khusyu’ di depan laptopnya, sedangkan sebagian yang lain wajahnya agak risau karena tidak membawa laptop tentunya. Aku mencoba menebak-nebak apa yang ada di hati mereka. Seolah-olah aku mendengar, “Alhamdulillah, aku nggak bawa laptop, jadi tulisanku nggak akan dibaca.” Aku menengklengkan kepalaku kembali, dan mendengar lagi, “Wah, kenapa aku gak bawa. Padahal aku ingin menunjukkannya pada Prof. Ali.”
Tanpa brlama-lama lagi, karena saat itu juga perkuliahan dibatasi hingga jam sembilan, Prof. Ali segera memberikan kesempatan kepada kami untuk maju ke depan menunjukkan hasil tulisannya. Hingga beberapa kali, anjuran beliau untuk berani maju ke depan tidak ada yang meresposns. Kami terlalu takut akan buruknya tulisan kami. Dengan tegas, Prof. Ali pun menuturkan, “Hampir satu tahun saya terus memandu kalian, memberikan motivasi untuk berani tampil di depan. Rugi saya kalau hanya didengarkan tapi sama sekali tidak dipraktekkan. Apalagi saat ini hanya sekedar membacakan hasil tulisannya. Perlu dicatat besar-besar bahwa minder itu kafir. Minder berarti tidak mensyukuri nikmat Allah. Lalu apa yang kalian takutkan? Takut salah? Takut orang lain mengetahui keburukan kalian? Lha wong itu diri kalian, kenapa harus ditutup-tutupi, tunjukkan saja yang sebenarnya. Toh, mereka juga sama seperti kalian. Kalau ingin tahu dan ingin bisa, tidak ada alasan untuk malu, minder ataupun lainnya.” Aku terdiam tertunduk malu, merasa salah dengan apa yang aku perbuat. Tapi saat itu memang aku tak bisa maju, padahal ingin sekali. Hari itu aku tidak membawa laptop, laptopku kutinggalkan di kamar dengan batrei lemah. Aku belum sempat men-charge-nya karena tidak sempat lagi. Sebenarnya banyak pula dari kami yang balik ke asrama untuk mengambil laptopnya sebelum datang Prof. Ali, namun aku tidak ikut karena keadaan fakultas yang saat itu sedang mati lampu. “Huh, menyesalnya.... mengapa tidak aku charge tadi sebelum berangkat,” keluhku.
Kesempatan terbaik itu pun akhirnya diambil oleh Fiska, yang saat itu duduk di sampingku. Meski sebelumnya ragu, setelah aku dan Zahra memberikan support padanya untuk maju, kemudian ia pun mempercepat langkahnya. Terlihat dari raut wajahnya, dengan agak gugup dan cemas ia menghampiri Prof. Ali. Apresiasi yang sangat besar ditunjukkan oleh beliau kepadanya. “Beri tepuk tangan untuk anak hebat ini!” ungkap Prof. Ali. Semuanya pun memberikan tepuk tangannya. Kemudian beliau mempersilahkan Fiska untuk duduk di samping beliau. Dekat sekali, hingga semua mata seolah terharu dan hati serasa menyesal karena tidak mengambil kesempatan itu. Prof. Ali juga berjanji akan memberikan sebuah buku karyanya kepada Fiska yang hingga saat ini masih dalam tahap penulisan. Wah, iri hati rasanya. Ditambah lagi dengan permintaan Prof. Ali untuk mengambil gambar bersama Fiska dan Ust. Yaqin yang berada di sebelah kanannya.
Setelah memberikan berbagai apresiasi itu, kemudian Prof. Ali meminta Fiska untuk membaca tulisannya. Berbagai masukan ia berikan kepadanya juga kepada kami semua. “Ingat, jangan pernah ada kata pengulangan. tulisan akan bosan dibaca jika isinya disajikan dengan kata yang diulang-ulang”, ucap beliau.
Cukup dengan Fiska, kemudian Prof. Ali memberikan kesempatan lagi kepada yang lainnya. Dengan semangat satu persatu dari kamu maju ke depan dan duudk di samping beliau. Karena waktu terbatas, maka hanya empat orang yang mendapatkan kesempatan itu. namun, tidak seberuntung pertama, mereka yang maju hanya duduk di sebelah beliau tanpa dijanjikan buku dan foto bersama. Yah, tentunya itu hadiah khusus bagi yang berani mengambil tempat pertama. Fiska mengatakan, “Aku mengambil emas di hadapan banyak orang.”
Prof. Ali memberikan kata-katanya kembali, “Penulis pemula sering kali menertawakan tulisannya sendiri, tapi tidak apa-apa. Itu adalah proses”. Memang benar, aku sering kali tertawa saat membaca ulang kalimat yang pernah kutulis beberapa hari yang lalu. Terasa malu dan tanpa sadar bertanya, “Ko’ bisa seperti ini ya tulisanku?”.
Tak berhenti dengan kata itu, Prof. Ali dengan seriusnya mengatakan, “Saya tidak ikhlas meluluskan kamu jika belum menjadi penulis besar.” Deg, aku seketika kagum dengan kata itu. Baru kali ini aku mendapati seorang dosen yang begitu besar keinginannya menjadikan mahasiswanya orang hebat. Namun, tentunya akan lebih banyak tugas yang diberikan oleh beliau termasuk tugas menulis 50 halaman ini. Prof. Ali menambahkan lagi, “Jangan menunggu sampai kelapa jatuh dari pohonnya, tapi panjatlah untuk meraih kelapa itu meski tangan dan kakimu lecet. Kelapa yang bersantan itu jauh lebih berguna dari pada kepala yang tak pernah berdzikir.” Subhanallah, sebuah kata-kata yang bijak dan penuh motivasi.
Perkuliahan di hari itu akhirnya dicukupkan. Prof. Ali mengingatkan kembali bahwa perkuliahan sebenarnya sudah selesai karena jadwal hadir kuliah sudah terpenuhi. Namun beliau tidak ingin membiarkan kami begitu saja tanpa ada jam kuliah sebelum tugas menulis diselesaikan. Sebagai gantinya, Prof. Ali menginginkan Ust. Yaqin untuk tetap meneruskan kajiannya pada hari Sabtu jam setengah 8 pagi. Semuanya pun menyetujui dengan senang hati.
----------------

Pertama kali kuberjumpa dengan Ust. Yaqin, dan dari segala cerita-cerita yang disampaikan tentang siroh nabawiyah membuatku tahu bahwa ynag tengah berada di depanku adalah sosok pengagum besar Nabi Muhammad SAW. Dengan begitu semangat dan gairah terbesarnya ia ceritakan tentang segala yangada dibenaknya tentang Nabi kita tersebut. Hingga di segala momen pertemuan kami dengan beliau selalu terselip cerita tentang Rasulullah. Subhanallah.
Begitu juga dengan kajian kami pada hari Sabtu. Dengan beralaskan tikar dari banner maupun lantai di serambi masjid, tak tanggung-tanggung Ust. Yaqin menularkan ilmu yang dimilikinya. Tujuan awal terlaksananya kajian ini adalah untuk menambah pengetahuan dalam berbahasa Arab karena beliau mengetahui banyak dari kami yang butuh tambahan ilmu tentang itu, terutama dalam praktiknya. Akan tetapi dalam pelaksanaannya menjadi sebuah kajian rutin yang tidak hanya mempelajari tentang bahasa Arab tapi juga siroh nabawiyah.

Kajian pertama beliau isi dengan mendikte sebuah kalimat berbahasa Arab. Dari tulisan itu dapat diketahui tingkat kemahiran bahasa Arabnya, juga kepekaan dalam menulis Arab. Setelah dilaksanankannya tes tersebut, kemudian dilanjutkan dengan berbagai cerita Rasulullah. Dengan kitab berjudul “Siroh Nabawiyah” yang dibawanya, Ust. Yaqin dengan greget yang besar membacakannya kepada kami. Kami pun menyambutnya dengan antusias yang besar pula. Kitab yang besampul warna hijau itu membahas secara lengkap kepribadian Nabi Muhammad SAW. beserta kisah kehidupannya. Mulai dari bentuk rambut, jenggot, cara berjalan dan hal-hal rinci lainnya pun diceritakan. Begitu tertarik sekali aku mendengarnya, serasa seperti bertemu dengan Rasulullah langsung.
Beberapa pertemuan selanjutnya, tanggal 16 Mei 2015 yang bertempat di serambi masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya bagian selatan. Bertepatan dengan isra’ mi’raj Nabi tanggal 27 Rajab 1436 H, Ust. Yaqin tidak memberikan materi tentang bahasa Arab. Beliau memfokuskan untuk memberikan pengetahuan tentang isra’ mi’raj. Sebelumnya, ia membaca sebuah kutipan dari penulis buku yang saat itu tengah dipegang Mizan. “....Bahwa bantal dan keringat tidak akan pernah senadi.” Mendengar kata-kata itu, semuanya terdiam, terlihat tidak ada satu pun yang paham. Kemudian beliau pun menjelaskan, bantal itu diibaratkan sebuah keadaan di mana sesorang yang hanya tertidur tanpa usaha sedangkan keringat adalah usaha yang sungguh-sungguh. Tentu antara bantal dan keringat tidak akan pernah menyatu/ berjalan beriringan. Orang yang malas tidak akan pernah sukses. Sebaliknya orang yang terus berusaha, dialah yang akan sukses. Keduanya bertolak belakang. “Oh.. begitu...” ungkapku dalam benakku.
Kemudian Ust. Yaqin menceritakan tentang peristiwa isra’ mi’raj. Apa hikmah dibalik pertemuan Rasulullah dengan para Nabi terdahulu di setiap tingkatan langit? Satu persatu dijelaskan oleh beliau.
Langit pertama, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam. Mengapa? Karena setelah terjadinya peristiwa isra’ mi’raj, Rasulullah akan diusir oleh kafir Quraisy sebagaiman Nabi Adam diusir dari surga karena melanggar larangan Allah. Langit kedua, Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa. Mengapa? Karena setelah itu Rasulullah akan di kejar-kejar dan dibunuh oleh Kaum Kafir Quraisy pula sebagaimana Nabi ‘Isa oleh kaumnya dahulu. Yang ketiga adalah Nabi Yusuf. Mengapa? Karena Nabi Yusuf disambut dan disayangi oleh banyak orang termasuk raja dan istrinya setelah ia diselamatkan dari sumur tua yang menelannya atas ulah saudara-saudaranya, sebagaimana Rasulullah kelak, ia akan disambut dan disayangi oleh penduduk Madinah setelah terjadinya hijrah. Langit yang keempat, Rasulullah bertemu dengan Nabi Idris yang terkenal dengan pengetahuannya yang sangat luas. Di sinilah Rasulullah juga terkenal dengan ilmunya yang sangat tinggi. Langit ke lima, Rasulullah bertemu dengan Nabi Harun. Mengapa? Karena Nabi Harun terkenal dengan gaya bicaranya yang bagus sehingga menjadi juru bicara Nabi Musa saat menyampaikan risalah kepada kaumnya. Maka Rasulullah pun terkenal dengan afshohul fushoha’, terfasih dari segala yang terfasih. Rasulullah terkenal dengan estetika/ retorika bahasanya yang sangat bagus pula saat berdakwah kepada kaumnya, hingga banyak sekali yang kagum dan tertarik dengan tata bicara Rasulullah SAW. langit yang keenam, Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa. Apa alasannya? Karena Nabi Musa adalah Nabi yang paling kuat di antara Nabi lainnya. Dengan sekali tampar, ia telah menewaskan orang yang kuat sekalipun. Namun, kekuatan Nabi Musa ternyata terkalahkan oleh Rasulullah. Terlihat saat terjadinya isra’ mi’raj tersebut, Rasulullah mampu melihat Dzat Allah, sedangkan Nabi Musa hanya melihat cahaya Allah saja sudah tidak mampu dan tergeletak pingsan. Ketika perang pun, Rasulullah selalu berada di barisan terdepan memandu para sahabatnya. Meski terkena luka yang terbilang parah, Rasulullah tetap dengan kuatnya maju terus melawan para pemberontak. Kemudian langit yang terakhir, Rasulullah bertemu dengan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim terkenal dengan dzurriyah sholihah. Sebagaimana banyaknya do’a yang menyebutkan keinginan agar keluarganya menjadi seperti keluarga Nabi Ibrahim. Begitu juga Rasulullah, keluarga beliau adalah keluarga yang sholih sholihah, hingga sekarang keturunan beliau terkenal dengan budi baiknya. Subhanallah. Maka apabila kita menjumpai orang yang katanya atau mengaku sebagai keturunan Rasulullah yang kurang baik akhlaknya, perlu ditanyakan itu benar atau tidaknya.
Membahas tentang dzurriyyah sholihah,  kemudian Ust. Yaqin teringat dengan do’a yang selalu dipanjatkan oleh ayahnya. Tidak ada sholat ayahnya melainkan setelahnya membaca do’a ini:
رب هب لي من الصالحين رب اجعل لي وذريتي مقيم الصلاة ربنا تقبل دعاءنا
Bersambung pada Sabtu minggu berikutnya, Ust. Yaqin membahas tentang nasab Rasulullah yang berjumlah 22 orang sebelum Nabi Ibrahim. Rasulullah SAW. bersabda:
انا ابن ذبيحتين (Aku anak dari dua orang yang disembelih)
Berbicara tentang hadits Nabi ini, Ust. Yaqin mencoba bertanya kepada kami apa yang dimaksud dengan ibn dzabihatain. Aku pun terdiam karena ini baru pertama kali terdengar di telingaku. Kemudian satu orang di pojok kiri dari sudut mataku mengacungkan tangannya, dialah Munir. Satu temanku ini memang selalu nyambung saat membahas tentang sejarah. Mungkin dia memang suka membaca sejarah, terutama sejarah Nabi SAW. Dengan segera Munir menjawab, “Yang dimaksud yakni Ismail dan Abdullah ibn ‘Abdul Mutholib”. Ust. Yaqin pun bertanya kembali tentang perbedaan adanya penyembelihan keduanya. Munir pun menjawab lagi, “Kalau Nabi Ismail, ia disembelih karena adanya mimpi ayahnya yakni Nabi Ibrahim yang mendapatkan perintah dari Allah untuk menyembelihnya, sedangkan ‘Abdullah disembelih karena adanya janji yang dilontarkan oleh ayahnya yakni Abdul Mutholib. Ia berjanji jika anaknya genap sepuluh maka salah satu dari mereka akan disembelih. Agar penentuan menjadi adil, akhirnya dibuatlah sebuah pengundian di mana salah satu nama yang keluar maka ia-lah yang harus bersedia untuk disembelih. Dari sepuluh pengundian, ternyata semua nama yang keluar adalah nama Abdullah. Namun, hampir semua dari keluarga Bani Hasyim tidak setuju akan hal itu maka ditebuslah janji Abdul Mutholib untuk menyembelih Abdullah dengan disembelihnya 100 unta. Maka Abdullah ayah Nabi Muhammad SAW. pun tidak jadi untuk disembelih.
Kemudian Ust. Yaqin melanjutkan ceritanya tentang sejarah Rasulullah saat disusui oleh Halimah binti Abi Du’aib yang lebih dikenal dengan nama Halimah Sa’diyah karena berasal dari Bani Sa’ad. Memang sebuah kebiasaan orang Arab tatkala anak kecil tidak disusui langsung oleh ibunya sendiri. Mereka lebih memilih untuk menyusukannya kepada orang pedesaan yang diakuinya lebih alami, ditambah dengan bahasanya yang lebih halus. Maka dengan menitipkannya kepada orang desa maka diharapkan anaknya akan menjadi anak yang baik budi pekertinya dan lembut tutur katanya. Dan saat mencapai umur sekitar 6 tahun, barulah anak tersebut dikembalikan kepada orang tuanya.
Tak seperti bayi-bayi lainnya yang diperebutkan oleh para calon penyusu, bayi Rasulullah ditolak mentah-mentah oleh mereka. Alasannya adalah karena Rasulullah anak yatim dan diindikasikan bahwa keluarganya tidak akan mampu membayar upah kepada mereka. Maka dengan keikhlasan hati Halimah Sa’diyah, ia menjadi wanita satu-satunya yang mau menerima Rasulullah untuk disusuinya.
Berbagai keberkahan didapatkan oleh Halimah sejak pertama kali menimang Rasulullah di atas kedua tangannya. Unta dan kambing miliknya seketika berubah menjadi gemuk padahal tanah di daerah tersebut sedang tandus. Sehingga unta yang dikendarainya pun menyalip unta para penyusu yang dahulunya menolak untuk menyusui Rasulullah. Terlihat raut wajah yang menyesal dari mereka, apalagi mengetahui banyaknya hal yang didapatkan oleh Halimah berkat menyusui bayi kecil Rasulullah.
Rasulullah hidup bersama Halimah selama lima tahun. Beberapa waktu sebelum ia mngembalikan Rasulullah kepada keluarganya, ada sebuah kejadian yang membuat Halimah sangat panik. Teman-teman sepermainan Rasulullah yang ketika itu melihatnya, segera memberi kabar Halimah bahwa Muhammad meninggal. Dengan sangat khawatir Halimah menghampiri tempat di amna Rasulullah berada. Ternyata ia menemukannya dalam keadaan yang baik-baik saja. Kemudian dipeluknya erat-erat anak kesayangannya itu. Halimah tidak mengetahui hal yang tengah terjadi di kala itu. Sejarah menceritakan bahwasanya pada saat itu Nabi telah didatangi dan dibawa oleh dua malaikat yakni Jibril dan Mika’il. Kedua malaikat itu membelah dada Rasulullah dan mensucikannya. Demikian pula pada saat peristiwa iara’ mi’raj, Rasulullah dicuci hatinya sebelum bertemu dengan Allag SWT. di Sidratul Muntaha. Subahanallah.
Demikian sepenggal cerita yang disampaikan oleh Ust. Yaqin. Karena hari sudah panas, akhirnya pertemuan dicukupkan. Semangkuk bakso menjadi penutup perjumpaan kami di hari itu. 
Terimakasih Ust. Yaqin, kau telah banyak berbagi ilmu dan pengalaman untuk kami. Perhatianmu mengungkapkan bahwa engkau adalah sosok kakak juga pengajar yang baik. Terimakasih.


----------------


Jum’at, 30 Mei 2015.
Secercah harapanku hampir sirna tatkala jari manis tak sejalan dengan pikirku. Ratusan kata yang sejak tadi kurangkai, hanya dengan satu klik kolom yang bertuliskan “Don’t save” seketika lenyap bagai debu yang tersiram hujan. Ya Allah, serasa otakku tak mampu lagi menguntai kata-kata pengganti. Haruskah kuakhiri semua ini?
Hampir kukehilangan ide untuk kembali merangkai kata yang telah terhapus oleh tanganku sendiri. Rasa sesal masih tersisa dalam hati. Kumerasa tak mampu lagi mengganti kata-kata yang telah terhapus dengan yang lebih indah. Rasa kantuk dan pusing membuatku semakin pasrah dengan gagalku. Tangan dan otakku tak tergerak lagi untuk kembali menulis. Akhrinya kucoba menenangkan diri, berharap sebuah semangat kan hadir dalam diriku kembali. Kuraih handphone di sampingku. “Ibu?”, ketikku dalam lembar pesan dan segera kukirimkan ke ibu. Tak lama HP-ku berdering. Ibu meneleponku. Senangnya, aku pun mengangkat panggilan itu tanpa berpikir panjang lagi.
Bagai stimulus yang sangat mujarrab saat kudengar nasehat darinya, sang pelipur laraku, ibu. Tak henti-hentinya semangat diberikan untukku. Meski mata ini tak langsung melihat, namun hati turut merasakan hadirnya. Tutur katanya seakan menarik semangat yang melayang entah kemana kembali melekat dalam diriku. Alhamdulillah, terimakasih ibu. Kaulah penyemangat hidupku.

----------------

Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag, sebuah nama yang tak asing lagi terdengar, tak hanya  di UIN Sunan Ampel Surabaya, tapi telah mendunia. Dengan motto hidupnya “Ingin membahagiakan 1 milyar orang”, dalam aplikasinya jauh melebihi yang ditargetkan. Tak terhitung lagi orang yang telah dibuat bahagia olehnya. Dengan dakwahnya, lantunannya (ayat-ayat al-Qur’an), sosok inspiratifnya, goresan penanya bahkan segala yang ada dalam hidupnya selalu memberikan pelajaran berharga bagi yang mau mengambilnya. Maka tentulah sebuah kebahagiaan yang tak terlukiskan saat diriku ditakdirkan bisa menimba ilmu langsung darinya. Tak hanya bertatap muka sebagaimana dosen dengan mahasiswanya, akan tetapi di berbagai kesempatan aku merasa semakin dekat dengannya. Atas permintaannya sendiri, berkali-kali kudiberikan apresiasi untuk berfoto bersanding dengannya dan secara khusus menerima beberapa buku hasil karyanya. Alhamdulillah.
  Teringat saat ku pertama kali bertatap muka dengannya. Kata-kata yang terucap dari lisannya begitu bijak, indah, membuat takjub siapapun yang mendengarnya. Bukan hanya karena retorika bahasa yang merasuk hati, tapi isi dibalik untaian katanya yang membuat hati serasa bergetar dan reflek membenarkannya. “Oh, iya ya.” selalu ungkapan itulah yang muncul di bibirku saat menanggapi pernyataannya.
Tak terasa dua semester telah berlalu. Hari di mana aku bisa menimba ilmu banyak darinya di ruang kuliah kini hanya tersisa bayangan dalam ingatan. Meski selalu rasa cemas dan khawatir yang muncul saat akan hadir di kelas mata kuliahnya, namun berbagai rasa itulah yang membuatku semakin rindu dan haus akan motivasinya. Pikiranku kadang merasa tertekan dengan tugas yang diberikan olehnya, akan tetapi hasil yang kuperoleh selalu meyakinkanku akan tantangan selanjutnya. Dengannyalah kini kumulai yakin dengan potensi yang melekat dalam diriku. Potensi yang sejak dulu masih saja kuragukan, padahal berkali-kali telah dibuktikannya.
Sungguh berbeda sebelum dan sesudah kuberjumpa dengannya. Satu masalah yang sering membuatku takut karena sulit untuk menyampaikan ilmu dengan untaian kata, tapi kini aku lebih tenang karena bisa berbagi lewat goresan pena. “Menulis, menulis, menulis, menulis dan menulis.” demikian ujarnya. Dengan tuntutan yang diberikan padaku mulai semester satu itulah yang kini membuatku semakin nyaman dengan menulis. Meski awalnya berat, bahkan sangat berat tapi perlahan rasa itu berbalik bahkan membuatku ketagihan. Aku teringat dengan beberapa hasil tulisanku beberapa saat yang lalu. Cerita pendek yang berjudul “Mentari Sepeninggal Senja” dan “Tulisan Siapa?”, keduanya aku tulis karena dituntut oleh tugas yang harus segera deadline. Meski jadi (membuahkan hasil), akan tetapi kini aku malah dibuatnya tertawa saat membacanya kembali. Susunan kata dan retorika bahasa yang terlihat benar-benar pemula. Begitu juga dengan hasil tulisanku di awal penulisan tugas ini, berbeda sekali dengan yang akhir. Dengan seringnya menulis dan membaca hasil karya teman ini barulah aku lebih mengerti tentang pengolahan kalimat dan menambah perbendaharaan kata. Alhamdulillah, semoga pengetahuan itu terus bertambah seiring banyaknya hasil tulisan dan bacaan.
Terimakasih ya Rab, Kau telah mengizinkanku hadir di tempat dan waktu yang sama bersama Prof. Ali, dosen sekaligus motivator, konselor dan inspirator hidupku. Terimakasih Prof., darimu aku mengerti banyak hal, aku semakin percaya akan potensi yang ada dalam diriku, aku semakin paham dengan keberadaanku di dunia ini. Terimakasih atas berbagai nasehat dan motivasimu, juga berbagai apresiasi yang telah kau berikan untukku. Semoga yang kudapatkan darimu menjadikanku semakin yakin dan terpacu untuk meraih kesuksesan sepertimu bahkan melampauimu. Semoga Allah senantiasa selalu memberikan limpahan karunianya untukmu, agar orang-orang di luar sana bisa merasakan hal yang tak jauh berbeda denganku. Dan semoga setiap langkahmu selalu diliputi oleh ridho-Nya. Aamiin.




71 komentar:

  1. Lia ,,,,
    penulisannya bagus lia, tingkat kan lagi dan tetap semangat,,,
    good job sobat,,
    dan juga jangan lupa, kalo bisa pengulangan kata, tanda titik dan koma nya di lihat,,,

    BalasHapus
  2. . ini temen ane nihhh.... temen gokill anee.... mantap, tulisan sampean dah bagus... tpi EYD .. Ojo lali

    BalasHapus
  3. Tulisannya sudah bahus hanya saja hrus banyak perhatikan pengejaan kata" nya lagi dan tanda" baca

    BalasHapus
  4. Trimakasih. Semoga bisa menjadi perbaikan untuk saya. :)

    BalasHapus
  5. Bagus dek... perbnyak latihan menulis lagi yah... (y)

    BalasHapus
  6. judul yang langsung membuat hati tertarik

    BalasHapus
  7. tulisannya menarik, membuat pembaca tidak bosan menikmati setiap alur katanya... semoga tulisannya bermanfaat.. terus berkarya plend!

    BalasHapus
  8. Tulisannya sdhh bguss....tetapi satu saran dari saya ...yaitu jangan terlalu cepat puas.... harus lebih banyak menulis lagi .....guru kita saja yg tulisannya sdh sampai keluar negeri masi tetap menulis....apalagi kita yg sebagai pemula....;)

    BalasHapus
  9. apik ws an siap terbit ui :)

    BalasHapus
  10. semangat melanjutkan tulisannya lagi ya :)

    BalasHapus
  11. hallo febii.....

    siiphh dah tulisannya sudah,,
    kembangkan lagi yah karyamu. ok.

    BalasHapus
  12. (y) sipp,, baguss tulisan.nya mbk veb..
    tp alangkah lebih baguss.nya kalo ditambah gambar atau apa gitu yg lebih berwarna,, hehe
    biar yg baca lebih tertarik gitu.. ;)

    @Alpin_

    BalasHapus
  13. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  14. menarik banget aku bingung mau komentar apa yang jelas ada satu kata yang seharusnya kamu tulis akan tapi hanya kan. gtou aja koment balik yah

    BalasHapus
  15. Plok plok plok 5 jempol buat dek febi. 😁
    Alurnya pas! Kayanya bakat nulis novel.

    BalasHapus
  16. tuh kan,, benar dugaan bila. semua orang bisa menulis. apalagi kalau udah bisa bikin cerpen inspiratif kayak mba febi. udah pinter, cantik, gak sombong,, sholelah deh... tetap berbagi yah adek hhe

    BalasHapus
  17. wih... rapi eg... manteb blog e...

    BalasHapus
  18. mbak tulisannya bagus., semangat yaa.,

    BalasHapus
  19. Wah..org cerdas ini punya bakat jd penulis hebat....
    Jd org besar yh..minimal di Bojonegoro....

    BalasHapus
  20. Wah..org cerdas ini punya bakat jd penulis hebat....
    Jd org besar yh..minimal di Bojonegoro....

    BalasHapus
  21. kesan-kesanmu memang selalu menjadi inspirasi bagi kita :)

    BalasHapus
  22. aduh... feby, tulisannya gak secalm orangnya, tulisannya keren banget.. menginspirasi orang-orang.. good job febi..!!

    BalasHapus
  23. Tidak sia-sia saya berlama-lama membaca blog ini, benar-benar sangat inspiratif. Struktur kata yang tersusun begitu rapi namun tetap tidak terkesan kaku. Hebat!

    BalasHapus
  24. Terima kasih feb, sudah menginspirasi....

    Dikembangkan ya....

    BalasHapus
  25. Tong kosong nyaring bunyinya, kebalikan dari pribahasa tersebut yang bisa menggambarkan pribadi seorang Lia/Veby. Tidak sedikitpun dia terpengaruh dengan lingkungan yang sangat memekakkan telinga. Peraih nilai tertinggi dua kali berturut-turut dan tulisan yang mengalir bagaikan air menjadi bukti bahwa diam bukan berarti hampa. Ada banyak hal yang musti aku dan mereka pelajari dari seorang Veby yang begitu menginspirasi dan memotivasi lewat goresan penanya. Semoga kami cepat mencapai apa yang telah kamu capai, tetap ingat EYD dan tetap semangat berkarya. Ayo sukses bersama.

    BalasHapus
  26. Bagus, Lia. Saya yakin tulisan Lia inilah yang dimaksud dan dinginkan Prof. Ali. Saya gak nyangka minuman yang saya beri ternyata Lia foto. Insya Allah kalau saya punya rejeki, saya akan kasih Lia hadiah lagi jika Lia bisa jawab pertanyaan saya. Keep writing ya? Membaca, membaca, dan membaca, lalu menulis. Sering baca karya sastra ya? agar semakin renyah dan enak dibaca, supaya tulisan Lia semakin cantik, asyik, ciamik, apik, dan menarik. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Ustadz. Saya juga gak nyangka ternyata ada bakat menulis juga, yang baru saya sadari setelah dapat tugas menulis dari Prof. Ali ini.

      Begitu sayang jika membiarkan sebuah pemberian yang berharga tanpa diabadikan. Terimakasih. :) Saya tunggu pertanyaannya Ustadz. Hehe

      Hapus
  27. perhatiakan tulisan titik dan koma nya.

    BalasHapus
  28. tulisannya bagus mbak bi, sangat menginspirasi bagi pemula sperti saya :v (y) good job, nice writing

    BalasHapus
  29. Untuk redaksi dan isi materi tulisan sudah bagus. Tapi untuk menjadi penulis tidak hanya butuh kecerdasan dan pintar. Istiqomah adalah yang utama. Ingat juga, bahwa semua anugerah yang sampean dapat adalah untuk menyembuhkan yang sakit jiwanya, menolong yang lemah sosial-kapitalnya, menghibur yang menderita batin dan ruhnya. Selamat Berproses dek!

    BalasHapus
  30. Potensi menulis anda sangta bagus trus ditingkatkan

    BalasHapus
  31. Trus smangat hasilnya pasti bagus

    BalasHapus
  32. lanjutkan feb, sudah ada peningkatan

    BalasHapus
  33. febii... tetap semangat yah menulisnya, jangan bsan2. ok

    BalasHapus
  34. lejitkan namau dengan karyamu

    BalasHapus
  35. jangan pernah putus semangat ok.

    BalasHapus
  36. terakhir jangan lupa komen balik. oke

    BalasHapus
  37. Amazing student....sharelah ilmumuu

    BalasHapus
  38. Jgn lupa..komen blog ku jg yah

    BalasHapus
  39. truslah asah kmampuanmu ! ttep smngat,..

    BalasHapus
  40. bagus banget,, , seakan membaca karya asma nadia. .

    BalasHapus
  41. Tlisanx udh bgus, pnempatan titik & koma juga udah lmayan pas...

    BalasHapus
  42. perwajahan blognya sudah bagus

    BalasHapus
  43. bagus feb tulisannya..... semangat terus yah menulisnya..... jangan patah semangat...

    BalasHapus
  44. lawan kemalasan mu agar kamu bisa menjadi yg terbaik okeh.....????

    BalasHapus
  45. Subhanallah ,,,,saya tidak menyangka orang yang pintar MTK tapi bisa menulis sebagus ini,,,saya harap menulisnya tetap dipertahankan dan jika perlu ditingkatkan ya,,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Nang... itupun tak luput karena motivasi darimu.

      Hapus
  46. mantap ,,,lebih ditingkatkan ketelitiannya,,,subaya lebih enak membacanya,,,,

    BalasHapus
  47. Terimakasih teman2, kritik dan kalian sangat bermanfaat untukku..

    BalasHapus
  48. Terimakasih teman2, kritik dan saran kalian sangat bermanfaat untukku..

    BalasHapus
  49. Febi... karyanya selalu menggambarkan bahwa ia berbadan kecil tapi, karyanya selalu keren keren.... terus berkarya mba feb !!

    BalasHapus
  50. Semangat lagi menulisnya.. ditunggu terbitannya..

    BalasHapus
  51. hidup masih koma artinya kita masih bisa perbaiki ini semua dengan terus menulis.

    BalasHapus
  52. go........go.......go........ terus menulis lagi.

    BalasHapus
  53. Tulisan yang sangat inspiratif... intelektualist namun mudah difahami
    lebih perhatikan lagi tanda baca>>> good job

    BalasHapus
  54. untuk selanjutnya tingal mempercantik perwajahan blog feb :)

    BalasHapus
  55. Keren ukh
    pengulangan kata masih mendominasi
    Semangat kakak!!!

    BalasHapus
  56. Remarkable! Tulisannya keren lia, sistematis penyusunan katanya udah dapat, cuma ada sedikit masukan nih, untuk penggunaan kata "nya" agar diminimalisir lagi, selain itu untuk pembendaharaan kata juga masih kurang, jangan terus menerus pakai kalimat umum, coba tarik istilah-istilah yang lebih variatif sehingga bisa membuat pembaca makin tertarik untuk membaca habis ceritamu.
    Kau memiliki potensi besar, tapi tampaknya belum dapat kau optimalkan, keluarkan!
    Kegagalan yang paling besar adalah kegagalan karena tidak berani untuk mencoba.
    Sukses! Aku tunggu karya dan pencapain besarmu.

    BalasHapus
  57. Makasih banyak Jadul untuk masukannya..
    Aku akan perbaiki lagi :)

    BalasHapus
  58. the main point is the process to get our success :D
    good job n good luck, continue your skill at writing :)

    BalasHapus
  59. febi unyu unyu... bukunya ditunggu yah !! tulisannya memotivasi

    BalasHapus
  60. semoga pengalamanmu menjadikanmu lebih baik dan berilmu serta lebih bersyukur dengan apa yang kamu dapat :)

    BalasHapus
  61. seamnagt febi nulisnya... semua akn ada hasilnya, kita bareng" berjuang .,... Ganbatte!!

    BalasHapus
  62. smanagat... tulisannya tambah hari tambah bagus

    BalasHapus