Malam itu serasa es terbalut dalam keheningan. Aku terdiam di
bawah pohon yang seakan-akan sejak tadi terus memandangiku seraya berfikir apa
yang sedang kuperbuat. Memang bukan tanpa alasan kuhadirkan tubuhku menembus
kesunyian malam itu, aku teringat dengan kata-kata nenek beberapa tahun silam
yang mungkin entah berapa ribu kali ia lontarkan padaku
. “Kalau ingin masuk
surga, kamu harus jadi anak sholehah, dan kalau mau jadi anak sholehah, kamu
harus sholat, mengaji, dan menutup aurat”, kurang lebih demikianlah tuturnya.
Ya, mungkin hanya rangkaian kata
yang tak asing lagi didengar oleh telinga para anak di usia yang baru beranjak
sekitar enam tahun, namun dinasehatkan padaku yang telah menginjak usia dua belas
tahun. Dan kata-kata itu pulalah selaku saksi berubahnya sosok aku yang dulu
menjadi aku sekarang yang bisa dibilang berbalik hingga 360°. Masa kelamku
telah berubah menjadi masa tenang dan menentramkan.
Tujuh belas tahun yang lalu aku
dilahirkan di sebuah daerah yang memaksaku menjadi pribadi yang nakal. Pengaruh
lingkungan di kota besar dan minimnya bimbingan agama yang kudapatkan membuatku
hidup tak terarahkan. Masih kuingat saat siang dan malam hari ketika aku masih
berada di kota itu, waktuku hanya terlewati dengan hal-hal yang hampir tak
bernilai positif satupun. Aku jalan-jalan menyusuri kota bersama segrombolan
teman-temanku untuk main-main, shoping, makan-makan, bahkan di saat saku
kosong sekalipun. Hingga tak tanggung-tanggung hak orang lain yang menjadi
sasarannya. Selalu itulah yang mewarnai hari-hariku, di samping pembohong yang
menjadi identitas utamaku. Sama sekali tak kukenali apa itu agama. Sholat,
huruf hijaiyah, kerudung merupakan hal-hal yang sangat asing dalam kehidupanku
ketika itu. Hingga kurasa kedua orang tuaku mungkin telah lelah untuk
menasehatiku.
Melihat kelamnya hidupku, terhitung
sebelas tahun setelah kujalani hari-hariku di kota itu, kedua orang tuaku
memutuskan untuk membawaku kembali ke kampung halaman yang jauh dari
pemandangan gedung pencakar langit dan hal modern lainnya yang ada di kotaku.
Di sana aku tinggal bersama nenek, bibi dan seorang adikku. Sebuah pertimbangan
yang berat tentunya, mereka harus melepasku. Namun kusadari bahwa itu terbaik
untukku. Perpindahan itu jugalah yang menjadi akhir pertemuanku dengan mereka
hingga detik waktu sekarang ini. Aku belum pernah melihat mereka lagi, hanya
komunikasi lewat via telepon atau sms.
Suasana yang amat berbeda terasa saat
kupijakkan kembali kakiku di
kampung halamanku. Kupandangi anak-anak seumuranku yang berlalu lalang menuju
masjid untuk melakukan rutinitasnya mengaji. Pertanyaan yang pertama kali
muncul di benakku, “Apa yang mereka lakukan? Untuk apa?”. Kubawa pertanyaan itu
ke rumah tempat tinggalku. Kulihat lagi adikku yang memakai kain penutup
kepala. “Cantik, tapi untuk apa? Kan rambut berhak untuk diperlihatkan?”,
ujarku dalam hati.
Aku yang ketika itu berbusana tanpa
kerudung, memakai celana pendek, berpakaian seolah anak di kota besar pada
umumnya terlihat sangat heran dengan pemandangan itu. Hingga berhari-hari dan
berminggu-minggu aku tidak mengalami perubahan sedikitpun. Aku masih gemar memanjat pohon, berkumpul dengan
anak laki-laki, mencuri mangga tetangga, dan lainnya. Aku masih suka bergaul
dengan teman-teman yang berprinsip sama dengan pribadi asalku. Meski
orang-orang di sekitarku terutama nenek selalu menyuruhku untuk bergaul dengan
anak-anak yang baik, namun aku masih enggan berkumpul bersama mereka. Perubahan
menjadi sosok yang lebih baik sangat sulit aku lakukan. Meski kadang ada
keinginan hati untuk mencobanya, namun diriku masih menolak. Karena bagiku
perubahan itu terlalu cepat.
Tak lelah dengan nasehatnya yang
kerap kali ia ucapkan, nenek kali ini benar-benar menaruh harapan besarnya
padaku. Ia melihat dari wajahku yang nampak sudah mempunyai keinginan untuk
bisa seperti mereka. Ia terus memandangiku seakan ia tahu apa yang ada di hatiku. Kulihat
juga di wajahnya sebuah kesungguhan hati menginginkanku untuk berubah. Dibantu
ibu yang juga selalu menasehatiku lewat suara lembutnya di telepon, ada beberapa
kalimat yang paling kuingat. Mereka berkata, “Coba kamu lihat anak-anak itu.
Mereka mengaji, sholat berjamaah. Mereka sama denganmu. Tidak ada yang berbeda.
Apa kamu tidak ingin seperti mereka?”. Aku hanya terdiam menanggapi nasehat
itu. Serasa hati tak bisa dibohongi. Aku menginginkan perubahan itu, tapi aku
susah untuk melakukannya.
Hingga setelah itu kucoba mengikuti
apa yang nenek perintahkan. Aku mulai ikut dengan teman-teman seumuranku sholat
berjamaah di masjid. Meski hanya ikut-ikutan dan tak tau bacaan-bacaannya
bahkan niatnya sekalipun, namun itu sudahlah menjadi satu peningkatan yang baik
bagiku. Kurenungi dan kuselami makna sholat itu, aku mulai merasakan ketenangan
yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku tersenyum indah, seakan bangga
dengan perubahanku hari itu yang mungkin tak lebih dari satu derajat.
Sehabis sholat, aku lanjutkan
mengaji. Hari itu ada hafalan niat sholat. “Deg...”, kurasakan jantungku
berdebar sangat kencang. Kulihat wajah teman-temanku yang tenang-tenang saja.
Terbukti saat giliran mereka menghafalkan, mereka lancar sekali serasa seperti
membaca, tanpa berfikir panjang. Dan saat giliranku tiba, tiada satu kata pun
terucap dari bibirku. Aku diam seakan tak mengerti apapun. “Aku malu.........”,
jeritku dalam hati. Kemudian kulangkahkan kakiku pulang masih dengan rasa malu
yang menghantuiku.
Malam itu kucurhatkan semua yang aku
rasakan ke nenek. Dengan ramah ia menjawab, “Kalau mereka bisa, mengapa kamu
tidak bisa? Kamu pasti bisa”. Tiga kalimat itulah yang hingga saat ini selalu
aku ingat.
Hari-hari selanjutnya, aku masih
merasakan hal yang sama. Aku malu, malu pada teman-temanku juga adikku.
Mereka pandai mengaji, sholat dengan rutin, memakai jilbab, juga berbuat baik.
Di hati yang paling dalam aku juga ingin seperti mereka, tapi pada saat itu tak
banyak yang bisa aku lakukan, hanya satu kata, ‘malu’.
Namun, dari malu itulah aku mulai
berkeinginan kuat untuk bisa seperti mereka, bahkan lebih baik. Aku tidak ingin
seterusnya dihantui rasa malu. Seperti kata nenekku, mereka bisa maka aku pasti
bisa. Setelah itu aku mulai menghafalkan niat-niat sholat dan do’a-do’a, aku
mulai rutin sholat meski kadang masih bolong. Perjuangan yang berat sekali
rasanya, aku yang tak pernah mengenal bahkan mendengar bacaan itu sebelumnya
kini dituntut untuk menghafalkannya, apalagi tulisan arab yang ketika itu tak
pernah kukenal sama sekali.
Setelah aku mulai
tekun melaksanakan sholat, kini
giliran mengaji yang kufokuskan. Aku mencari guru yang bisa istiqomah
mengajariku. Huruf demi huruf kubaca dan kuhafalkan satu persatu. Aku
mulai bisa membaca tulisan arab yang bergandeng dan membaca al-Qur’an. Ketika
bulan Romadhon tiba, aku pun ikut serta tadarusan di masjid meski masih ragu
karena bacaanku tak selanyah teman-teman. Tapi senang sekali rasanya, beratnya
usahaku akhirnya membuahkan hasil.
Satu lagi yang kurang dari usahaku,
aku masih belum menutup auratku. Sebenarnya aku memendam malu karena tidak
memakai jilbab, tapi di sisi lain aku juga malu untuk mulai mengenakannya. Dan akhirnya suatu hari
kuputuskan untuk memakai jilbab adikku dan keluar rumah. Kudapati setiap orang
yang melihatku langsung menyapa heran. “Mau kemana?”, tanyanya. aku mencoba
terus menahan malu dan cuek dengan apa yang mereka katakan. Meski saat
itu aku masih menggunakan celana jeans dan pakaian ketat, tapi setidaknya aku
telah menutup rambutku. Dan barulah beberapa saat
kemudian aku mulai belajar dan menetapkan diri memakai busana muslim yang sopan
dan sesuai dengan syari’at agama.
Dengan pengetahuan agama yang
kupelajari secara bertahap dan berkat usaha kerasku untuk berubah karena rasa
malu yang selalu menghantuiku, kini aku mulai rajin dan bahkan terpandang
menjadi anak yang paling rajin di desaku. Namun, itu tidaklah cukup bagi
nenekku. Masih banyak ilmu agama yang tentunya perlu aku dalami, untuk itu setelah
lulus SMP nenek memutuskan untuk membawaku ke sebuah pondok pesantren.
Keputusan itu mendapat penolakan keras dariku. Aku belum siap hidup tanpa
keluarga di sampingku. Entah berapa lama aku menangis
mencoba membujuk nenek agar mengurungkan niatnya itu, namun keputusannya
malah mendapat respons baik dari kedua orang tuaku terutama ibu. Akhirnya aku
pun tak bisa berkutik lagi dan lebih memilih untuk menuruti keinginan mereka.
Di pondok pesantren tempatku di tempa, aku sangat berbeda dari tabiatku yang dulu. Aku menjadi santri yang
pendiam dan pasif. Teman-teman di pondok yang tentunya mempunyai
pengetahuan agama jauh lebih mendalam dariku, juga kecakapan mereka dalam
berbahasa arab membuatku seakan terus betah membisu. Tak di dalam kelas, tak juga
di pondok, aku terus diam karena aku sama sekali belum mengerti bahasa arab,
aku pun susah untuk langsung menyusul mereka. Berkat pengetahuan umum yang
lebih lah, aku bisa menyaingi mereka dalam prestasi akademik. Aku mulai
dibicarakan oleh beberapa temanku sehingga aku terkenal. Kemudian barulah
beberapa bulan setelah itu aku mulai mengaktifkan diri mengikuti beberapa
kegiatan agar aku tak seterusnya diam, seperti tilawah, rebana, dan lainnya. Bahkan beberapa kali aku
menjadi juara tilawah dan selalu diandalkan ketika ada acara yang membutuhkan
seorang pelantun ayat suci al-Qur’an. Aku juga pernah menjadi juara lomba
pidato bahasa arab, dan
beberapa prestasi lainnya. Alhamdulillah. Semua itu tak lepas
dari hasil dari
jerih payahku untuk memperbaiki diri. Ternyata, dengan menjadi insan yang lebih
baik, segala kemudahan bertahap menghampiriku. Hingga di pondok, aku terhitung
sebagai santri yang rajin, karena aku turut aktif dalam berbagai organisasi.
Dengan berbagai prestasi yang
kutorehkan di pondok, akhirnya para ustadz berharap agar aku mendaftarkan
diri mengikuti program beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku di Perguruan
Tinggi. Dari berbagai tes yang kujalani, akhirnya aku pun terpilih menjadi
salah satu santri yang berhak menerima beasiswa itu.
Sungguh sebuah perjalanan hidup yang
tak pernah kuduga sebelumnya. Aku yang dulunya berkepribadian buruk pada akhirnya
bisa berubah menjadi lebih baik seperti sekarang ini. Dari perbaikan diri yang
kulakukan tersebut, aku mendapatkan berbagai pengalaman hidup yang tentunya
banyak sekali hikmah yang bisa kuambil darinya. Kini aku masih terus berusaha
menjadi lebih baik lagi dan berharap semoga tiap langkah kakiku selalu dalam
ridho-Nya. Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar