Senin, 25 Mei 2015

Mentari Sepeninggal Senja



Malam itu serasa es terbalut dalam keheningan. Aku terdiam di bawah pohon yang seakan-akan sejak tadi terus memandangiku seraya berfikir apa yang sedang kuperbuat. Memang bukan tanpa alasan kuhadirkan tubuhku menembus kesunyian malam itu, aku teringat dengan kata-kata nenek beberapa tahun silam yang mungkin entah berapa ribu kali ia lontarkan padaku
. “Kalau ingin masuk surga, kamu harus jadi anak sholehah, dan kalau mau jadi anak sholehah, kamu harus sholat, mengaji, dan menutup aurat”, kurang lebih demikianlah tuturnya.
Ya, mungkin hanya rangkaian kata yang tak asing lagi didengar oleh telinga para anak di usia yang baru beranjak sekitar enam tahun, namun dinasehatkan padaku yang telah menginjak usia dua belas tahun. Dan kata-kata itu pulalah selaku saksi berubahnya sosok aku yang dulu menjadi aku sekarang yang bisa dibilang berbalik hingga 360°. Masa kelamku telah berubah menjadi masa tenang dan menentramkan.
Tujuh belas tahun yang lalu aku dilahirkan di sebuah daerah yang memaksaku menjadi pribadi yang nakal. Pengaruh lingkungan di kota besar dan minimnya bimbingan agama yang kudapatkan membuatku hidup tak terarahkan. Masih kuingat saat siang dan malam hari ketika aku masih berada di kota itu, waktuku hanya terlewati dengan hal-hal yang hampir tak bernilai positif satupun. Aku jalan-jalan menyusuri kota bersama segrombolan teman-temanku untuk main-main, shoping, makan-makan, bahkan di saat saku kosong sekalipun. Hingga tak tanggung-tanggung hak orang lain yang menjadi sasarannya. Selalu itulah yang mewarnai hari-hariku, di samping pembohong yang menjadi identitas utamaku. Sama sekali tak kukenali apa itu agama. Sholat, huruf hijaiyah, kerudung merupakan hal-hal yang sangat asing dalam kehidupanku ketika itu. Hingga kurasa kedua orang tuaku mungkin telah lelah untuk menasehatiku.
Melihat kelamnya hidupku, terhitung sebelas tahun setelah kujalani hari-hariku di kota itu, kedua orang tuaku memutuskan untuk membawaku kembali ke kampung halaman yang jauh dari pemandangan gedung pencakar langit dan hal modern lainnya yang ada di kotaku. Di sana aku tinggal bersama nenek, bibi dan seorang adikku. Sebuah pertimbangan yang berat tentunya, mereka harus melepasku. Namun kusadari bahwa itu terbaik untukku. Perpindahan itu jugalah yang menjadi akhir pertemuanku dengan mereka hingga detik waktu sekarang ini. Aku belum pernah melihat mereka lagi, hanya komunikasi lewat via telepon atau sms.
Suasana yang amat berbeda terasa saat kupijakkan kembali kakiku di kampung halamanku. Kupandangi anak-anak seumuranku yang berlalu lalang menuju masjid untuk melakukan rutinitasnya mengaji. Pertanyaan yang pertama kali muncul di benakku, “Apa yang mereka lakukan? Untuk apa?”. Kubawa pertanyaan itu ke rumah tempat tinggalku. Kulihat lagi adikku yang memakai kain penutup kepala. “Cantik, tapi untuk apa? Kan rambut berhak untuk diperlihatkan?”, ujarku dalam hati.
Aku yang ketika itu berbusana tanpa kerudung, memakai celana pendek, berpakaian seolah anak di kota besar pada umumnya terlihat sangat heran dengan pemandangan itu. Hingga berhari-hari dan berminggu-minggu aku tidak mengalami perubahan sedikitpun. Aku masih gemar memanjat pohon, berkumpul dengan anak laki-laki, mencuri mangga tetangga, dan lainnya. Aku masih suka bergaul dengan teman-teman yang berprinsip sama dengan pribadi asalku. Meski orang-orang di sekitarku terutama nenek selalu menyuruhku untuk bergaul dengan anak-anak yang baik, namun aku masih enggan berkumpul bersama mereka. Perubahan menjadi sosok yang lebih baik sangat sulit aku lakukan. Meski kadang ada keinginan hati untuk mencobanya, namun diriku masih menolak. Karena bagiku perubahan itu terlalu cepat.
Tak lelah dengan nasehatnya yang kerap kali ia ucapkan, nenek kali ini benar-benar menaruh harapan besarnya padaku. Ia melihat dari wajahku yang nampak sudah mempunyai keinginan untuk bisa seperti mereka. Ia terus memandangiku seakan ia tahu apa yang ada di hatiku. Kulihat juga di wajahnya sebuah kesungguhan hati menginginkanku untuk berubah. Dibantu ibu yang juga selalu menasehatiku lewat suara lembutnya di telepon, ada beberapa kalimat yang paling kuingat. Mereka berkata, “Coba kamu lihat anak-anak itu. Mereka mengaji, sholat berjamaah. Mereka sama denganmu. Tidak ada yang berbeda. Apa kamu tidak ingin seperti mereka?”. Aku hanya terdiam menanggapi nasehat itu. Serasa hati tak bisa dibohongi. Aku menginginkan perubahan itu, tapi aku susah untuk melakukannya.
Hingga setelah itu kucoba mengikuti apa yang nenek perintahkan. Aku mulai ikut dengan teman-teman seumuranku sholat berjamaah di masjid. Meski hanya ikut-ikutan dan tak tau bacaan-bacaannya bahkan niatnya sekalipun, namun itu sudahlah menjadi satu peningkatan yang baik bagiku. Kurenungi dan kuselami makna sholat itu, aku mulai merasakan ketenangan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Aku tersenyum indah, seakan bangga dengan perubahanku hari itu yang mungkin tak lebih dari satu derajat.
Sehabis sholat, aku lanjutkan mengaji. Hari itu ada hafalan niat sholat. “Deg...”, kurasakan jantungku berdebar sangat kencang. Kulihat wajah teman-temanku yang tenang-tenang saja. Terbukti saat giliran mereka menghafalkan, mereka lancar sekali serasa seperti membaca, tanpa berfikir panjang. Dan saat giliranku tiba, tiada satu kata pun terucap dari bibirku. Aku diam seakan tak mengerti apapun. “Aku malu.........”, jeritku dalam hati. Kemudian kulangkahkan kakiku pulang masih dengan rasa malu yang menghantuiku.
Malam itu kucurhatkan semua yang aku rasakan ke nenek. Dengan ramah ia menjawab, “Kalau mereka bisa, mengapa kamu tidak bisa? Kamu pasti bisa”. Tiga kalimat itulah yang hingga saat ini selalu aku ingat.
Hari-hari selanjutnya, aku masih merasakan hal yang  sama. Aku malu, malu pada teman-temanku juga adikku. Mereka pandai mengaji, sholat dengan rutin, memakai jilbab, juga berbuat baik. Di hati yang paling dalam aku juga ingin seperti mereka, tapi pada saat itu tak banyak yang bisa aku lakukan, hanya satu kata, ‘malu’.
Namun, dari malu itulah aku mulai berkeinginan kuat untuk bisa seperti mereka, bahkan lebih baik. Aku tidak ingin seterusnya dihantui rasa malu. Seperti kata nenekku, mereka bisa maka aku pasti bisa. Setelah itu aku mulai menghafalkan niat-niat sholat dan do’a-do’a, aku mulai rutin sholat meski kadang masih bolong. Perjuangan yang berat sekali rasanya, aku yang tak pernah mengenal bahkan mendengar bacaan itu sebelumnya kini dituntut untuk menghafalkannya, apalagi tulisan arab yang ketika itu tak pernah kukenal sama sekali.
Setelah aku mulai tekun melaksanakan sholat, kini giliran mengaji yang kufokuskan. Aku mencari guru yang bisa istiqomah mengajariku. Huruf demi huruf kubaca dan kuhafalkan satu persatu. Aku mulai bisa membaca tulisan arab yang bergandeng dan membaca al-Qur’an. Ketika bulan Romadhon tiba, aku pun ikut serta tadarusan di masjid meski masih ragu karena bacaanku tak selanyah teman-teman. Tapi senang sekali rasanya, beratnya usahaku akhirnya membuahkan hasil.
Satu lagi yang kurang dari usahaku, aku masih belum menutup auratku. Sebenarnya aku memendam malu karena tidak memakai jilbab, tapi di sisi lain aku juga malu untuk mulai mengenakannya. Dan akhirnya suatu hari kuputuskan untuk memakai jilbab adikku dan keluar rumah. Kudapati setiap orang yang melihatku langsung menyapa heran. “Mau kemana?”, tanyanya. aku mencoba terus menahan malu dan cuek dengan apa yang mereka katakan. Meski  saat itu aku masih menggunakan celana jeans dan pakaian ketat, tapi setidaknya aku telah menutup rambutku. Dan barulah beberapa saat kemudian aku mulai belajar dan menetapkan diri memakai busana muslim yang sopan dan sesuai dengan syari’at agama.
Dengan pengetahuan agama yang kupelajari secara bertahap dan berkat usaha kerasku untuk berubah karena rasa malu yang selalu menghantuiku, kini aku mulai rajin dan bahkan terpandang menjadi anak yang paling rajin di desaku. Namun, itu tidaklah cukup bagi nenekku. Masih banyak ilmu agama yang tentunya perlu aku dalami, untuk itu setelah lulus SMP nenek memutuskan untuk membawaku ke sebuah pondok pesantren. Keputusan itu mendapat penolakan keras dariku. Aku belum siap hidup tanpa keluarga di sampingku. Entah berapa lama aku menangis mencoba membujuk nenek agar mengurungkan niatnya itu,  namun keputusannya malah mendapat respons baik dari kedua orang tuaku terutama ibu. Akhirnya aku pun tak bisa berkutik lagi dan lebih memilih untuk menuruti keinginan mereka.
Di pondok pesantren tempatku di tempa, aku sangat berbeda dari tabiatku yang dulu. Aku menjadi santri yang pendiam dan  pasif. Teman-teman di pondok yang tentunya mempunyai pengetahuan agama  jauh lebih mendalam dariku, juga kecakapan mereka dalam berbahasa arab membuatku seakan terus betah membisu. Tak di dalam kelas, tak juga di pondok, aku terus diam karena aku sama sekali belum mengerti bahasa arab, aku pun susah untuk langsung menyusul mereka. Berkat pengetahuan umum yang lebih lah, aku bisa menyaingi mereka dalam prestasi akademik. Aku mulai dibicarakan oleh beberapa temanku sehingga aku terkenal. Kemudian barulah beberapa bulan setelah itu aku mulai mengaktifkan diri mengikuti beberapa kegiatan agar aku tak seterusnya diam, seperti tilawah, rebana, dan lainnya. Bahkan beberapa kali aku menjadi juara tilawah dan selalu diandalkan ketika ada acara yang membutuhkan seorang pelantun ayat suci al-Qur’an. Aku juga pernah menjadi juara lomba pidato bahasa arab, dan beberapa prestasi lainnya. Alhamdulillah. Semua itu tak lepas dari hasil dari jerih payahku untuk memperbaiki diri. Ternyata, dengan menjadi insan yang lebih baik, segala kemudahan bertahap menghampiriku. Hingga di pondok, aku terhitung sebagai santri yang rajin, karena aku turut aktif dalam berbagai organisasi.
Dengan berbagai prestasi yang kutorehkan di pondok, akhirnya para ustadz  berharap agar aku mendaftarkan diri mengikuti program beasiswa untuk melanjutkan pendidikanku di Perguruan Tinggi. Dari berbagai tes yang kujalani, akhirnya aku pun terpilih menjadi salah satu santri yang berhak menerima beasiswa itu.
Sungguh sebuah perjalanan hidup yang tak pernah kuduga sebelumnya. Aku yang dulunya berkepribadian buruk pada akhirnya bisa berubah menjadi lebih baik seperti sekarang ini. Dari perbaikan diri yang kulakukan tersebut, aku mendapatkan berbagai pengalaman hidup yang tentunya banyak sekali hikmah yang bisa kuambil darinya. Kini aku masih terus berusaha menjadi lebih baik lagi dan berharap semoga tiap langkah kakiku selalu dalam ridho-Nya. Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar