Sejenak kulepaskan segala beban yang
ada di pikiranku. Mencoba dengan tenang kugerakkan jemari menelusuri
huruf-huruf di keyboard. Kulayangkan pandanganku ke atas, berharap temukan
sebuah inspirasi yang akan mengantarkan gerakan tanganku memenuhi lembar kerja
kosong yang entah berapa lama terpampang di depan kedua bola mataku. Perlahan satu
kata kuhadirkan di pojok kiri atas. Aku berharap dengan satu kata itu akan menghadirkan
kata-kata yang masih berputar di benakku namun belum hendak memunculkan sosok indahnya.
Kupandangi sejenak tulisan itu, hanya sepertiga dari deretan baris pertama.
Kulihat lagi ke bawah, masih terbalut dengan warna putih bersih. Ya Allah,
berapa kata lagi yang harus kuketik untuk menutupi lembaran tak bernoda ini? Rasanya
hanya 0,000 sekian persen dari satu lembar word. Namun, tak ingin
berhenti sampai di sini, kucoba hilangkan pikiran negatif itu, aku yakin bahwa
optimis akan membuahkan keberhasilan. Yah, satu kata pertama itu yang kan
memancing seribu bahkan sejuta kata-kata yang masih tersembunyi dibalik
jemariku. Bimu’awanatillah, insya Allah.
Kembali aku teringat dengan
kata-kata yang diucapkan oleh dosen mata kuliah Tafsir Bimbingan dan Konseling
Islam di kelasku, B3 BKI (Senin, 27 April 2015). Terhitung 3 jam yang lalu, dosen
yang kerap kali kami sapa Prof. Ali tersebut mengatakan: “Bersyukurlah jika
kalian bertemu dengan orang yang memaksa kalian.” Sejenak aku mencoba
mencari kebenaran dari kata-kata itu, mengingat-ingat kejadian yang pernah
kualami dari masa kecilku. “Memang benar, berkat orang-orang yang memaksaku-lah aku bisa menjadi lebih
baik. Tanpa ada yang memaksaku, aku pasti tetap diam di tempat, tidak bergeser
satu langkahpun dari titik asal.” ungkapku dalam hati. Alhamdulillah, terimakasih
Allah, Kau telah mengahadirkan mereka dalam hidupku, yang tak lain salah
satunya adalah Prof. Dr. M. Ali Aziz, M.Ag yang terus memaksa kami untuk
menulis, menulis dan terus menulis. Entah apapun yang akan kami tulis, tetaplah
menulis. Demikian nasehatnya. Bukan hanya paksaan yang kami terima, tapi juga
solusi dan motivasi bagaimana kami bisa terus bersemangat untuk menulis.
“Kalian bisa!” ujarmya dengan yakin. Dari segala kata-kata motivasi juga
cerita-cerita yang disampaikannya tentang manfaat menulis, baru saat ini-lah
hati juga tanganku benar-benar tergerak untuk terus menulis. Ingin mulai hari
ini kutekadkan dalam hati, “Tidak ada hariku tanpa menulis.” Bismillah.
Tiba-tiba aku teringat dengan
kalimat yang pernah kutulis beberapa minggu yang lalu saat aku memiliki
semangat untuk menulis, “Merupakan kesia-siaan jika hari-hari terlewati
tanpa ada istifadah. Membiarkan jutaan bahkan milyaran jam tanpa ada
bekas yang mengantarkan diri menjadi yang lebih baik dan lebih berarti. Itulah
yang kini baru kusadari. Waktu-waktu yang telah terjalani dahulu bagaikan mimpi
yang hanya terekam sebagian di memori, atau bahkan tak ada seberapa persen
darinya yang mampu kuingat. Karena “memori ingatan manusia terbatas”, itulah
alasannya. Tak menginginkan hal itu terjadi kembali, dengan kertas ini ingin
kucurahkan segala yang ingin kuungkapkan agar bisa mengingat kembali
peristiwa-peristiwa yang pernah kualami, masalah-masalah yang kuhadapi, juga
berjuta emosi yang hadir dalam hati. Aku berharap semoga torehan ini dapat
membantu ingatanku yang terbatas untuk mengingat hari-hari yang telah kulewati.
Semoga istiqomah, aamiin.”, tertulis 12 Maret 2015.
Mengingat saat aku menulis kata-kata
itu, seakan niatku tak tergoyahkan lagi untuk menulis. Namun ternyata setelah hari-hari berikutnya berlalu,
niat itu seolah-olah hilang tanpa bekas. Detik ini, aku tidak ingin hal itu
terjadi kembali. Aku ingin memperbarui niatku untuk menulis. Segala alasan yang
menyurutkan niat harus kukalahkan. Seperti halnya masalah yang sebelumnya
menjadikan banyaknya kegiatan sebagai alasanku untuk berhenti menulis. Akhirnya
masalah ini terjawab oleh kata-kata Prof. Ali, “Menulis itu bukan pilihan tapi
kewajiban,” ujarnya. “Oh, iya.” ungkapku dalam hati. Aku baru menyadari
ternyata yang membuat semangatku pasang surut untuk menulis adalah mindset-ku
sendiri yang masih menganggap bahwa menulis itu pilihan. Sehingga apabila ada
tugas maupun kegiatan lain yang menuntut pasti aku dahulukan dari pada menulis,
yang akhirnya membuat waktuku untuk menulis menjadi tergantikan dengan tugas
lainnya. Padahal keduanya sama-sama tugas yang harus aku kerjakan. Dan
kini aku berpikir, aku pasti bisa menyelesaikan keduanya tanpa harus
meninggalkan salah satu. Itulah mindset yang harus aku ubah. Menulis bukanlah
suatu pilihan tapi
kewajiban yang harus aku lakukan. Semoga niatku untuk menulis ini tidak
setengah-setengah. Aamiin.
Memang, menulis itu butuh kebiasaan.
Setiap orang bisa menulis, namun tidak semua dari mereka yang bisa
mengembangkan potensi itu. Yah, hanya yang mau membiasakan menulis-lah yang kan
melejit dengan berbagai karyanya. Aku teringat satu motivasi Prof. Ali saat ada
yang bertanya tentang cara belajar yang baik. “Sang Pencipta memang memberikan
tingkat kecerdasan otak berbeda antara satu hamba-Nya dengan yang lain. Akan
tetapi mereka mempunyai potensi kesuksesan yang sama tergantung siapa yang mau
berusaha keras meraih kesuksesan itu. Jika kamu beralasan bahwa tidak bisa
mendapatkan nilai lebih baik dari pada yang kamu anggap pintar karena ia
otaknya lebih cerdas, kamu salah. Kamu juga bisa lebih darinya, tapi kamu butuh
usaha yang jauh lebih besar. Kamu menyadari bahwa dia memiliki kecerdasan yang
lebih, mengapa kamu lebih suka meniru cara belajarnya? Bagaimana bisa kamu
menyainginya? Kamu harus berusaha lebih keras. Sebagai perumpamaan, ada kelinci
dan kura-kura yang sama-sama ingin berlari sejauh 50m. Bisakah keduanya sampai?
Bisa, bahkan hewan dengan kecepatan terendah sekalipun bisa, hanya saja perlu
usaha yang lebih keras. Maka tidak ada seorang pun yang tidak bisa di dunia ini
selama ia mau berusaha. Jangan takut kalah jika mereka lebih dahulu sampai,
karena memang mereka mempunyai kemampuan lebih, dan itupun mudah bagi mereka.
Maka bagi kamu, yakinlah bahwa kamu juga bisa melampaui pencapaian mereka meski
usahamu harus berkali-kali lipat lebih dari mereka, dan itulah yang patut untuk
diacungi jempol. Mereka biasa jika sukses sedangkan kamu luar biasa jika bisa
seperti mereka bahkan melampauinya.” tegasnya. Dari kata-kata itulah kucoba
meyakinkan diri bahwa aku juga bisa menjadi penulis. Meski kadang ragu masih
saja hadir di benakku saat membaca tulisan teman-teman yang jauh lebih
berkualitas dan bermakna dari pada milikku. Seakan-akan, penulis adalah posisi
mustahil yang bisa aku tempati. Aku malu saat tulisanku dibaca oleh orang lain.
Tapi ku coba pikir kembali, “Bagaimana tulisanku bisa berkembang kalau tidak
ada yang memberikan komentar? Bagaimana mungkin seseorang bisa langsung
menghasilkan tulisan tanpa komentar berupa kritikan? Mustahil, sepandai-pandai
apapun menulis pasti ada yang perlu diperbaiki, lalu buat apa malu kalau dengan
komentar itu tulisan menjadi lebih baik?”. Hmmm, di sinilah ku harus mulai
untuk menampakkan tulisanku dan mengharapkan kritik dan saran guna
memperbaikinya.
Mengenai tugas menulis sebanyak 50
lembar ini, sungguh merupakan tugas yang berat bagiku. Apalagi ditambah dengan
pemberitahuan bahwa penulisan harus menggunakan spasi 1. Ya Allah, pertama kali
mengetahui akan hal itu rasanya tubuh tak bertulang lagi, lemas tanpa daya. Aku
teringat dengan tugas menulis di semester satu, yang hanya 10 lembar dengan
spasi 1,5 tapi membuatku begitu terpikirkan olehnya. Yah, mungkin karena aku
belum penah menghasilkan tulisan sebanyak ini. Aku tidak bisa lagi membayangkan
apa yang akan kutuliskan dalam 50 lembar kerja (word) kosong ini. Terlalu
banyak, hmmm. Namun, sekilas pikiran itu berbalik 360° saat pertama kali Prof.
Ali menargetkan harus selesai 30 halaman. Dengan tanpa keyakinan, kucoba
menyelesaikan tugas itu. Lima hari kufokuskan pikiranku untuk menggarapnya.
Meski keluh kesah datang menghampiri namun kewajiban ini telah mengalahkan
segala rasa pesimis dan malasku. Hingga akhirnya terbukti, di hari terakhir
pengumpulan aku benar-benar bisa menyelesaikan sebuah tugas yang amat berat
sekali menurutku. Memang, diriku butuh pemaksaan. Di sinilah aku membuktikan
kata-kata Prof. Ali, “Kamu itu orang hebat. Kerahkan segala usahamu dan kamu
pasti akan tahu betapa hebatnya dirimu. Aku tidak percaya kalau kamu hanya bisa
seperti ini.” demikian ungkapnya. Maka, dengan terselesaikannya 30 lembar itu,
kini kumulai yakin dengan 20 lembar selanjutnya. Jika ku mau, ku pasti bisa. Bismillah.
Berbagai rasa, senang, bergairah,
gugup, cemas, takut dan berjuta rasa lainnya telah hinggap dalam perasaan ini
saat melewati detik demi detik bersama Prof. Ali, Ustadz Yaqin serta
teman-teman BKI B3 Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri
Sunan Ampel Surabaya. Banyaknya ilmu dan pengalaman yang kudapatkan dari waktu
yang kulalui itu tentu takkan habis untuk kutulis. Di sinilah kucoba merangkai
kata-kata mewakili apa yang kudapatkan serta yang kurasakan di kala itu,
dimulai dari hari pertama perkuliahan hingga pertemuan-pertemuan berikutnya.
---------------------------------------------***--------------------------------------------
Lia Lutfiana Febriyanti, itulah
namaku. Aku sering disapa dengan panggilan Lia, meski kadang tidak membuatku
refleks untuk menengokkan kepala saat orang lain memanggilku, karena sedari
kecil aku memang lebih akrab dipanggil Febi. Aku terlahir dari dua orang tua
yang sangat menyayangiku. Berkat kasih sayang merekalah aku bisa hadir di
tengah orang-orang hebat sekarang ini. Juga do’a yang tak hentinya mereka
panjatkan membuat nikmat Allah selalu meliputiku. Alhamdulillah. Semoga
Allah selalu meridhoi setiap langkah kaki mereka. Aamiin.
Senin, 02 Maret 2015, itulah hari
pertama perkuliahan semester 2. Sebelum dimulai, serentak aku dan teman-teman
melafadzkan do’a yang kami dapatkan dari pembelajaran di Genta English Course,
Pare, Kediri sebulan yang lalu. Sebuah lantunan do’a yang indah dengan irama
religiusnya.
“اللهم اغفر لنا ذنوبنا ولوالدينا
وارحمهما كما ربيانا صغارا”
“Oh, our God. Forgive us and our parents. Bless them
as they care us since baby”
“رب اشرح لي صدري ويسر لي امري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي”
“Ya Allah, give me relieved. Make easy with may matter. Get my
tongue to be fluence and realize my word”
“اللهم يا معلم ابراهيم علمنا ويا مفهم
سليمان فهمنا. آمين....”
Di hari itu Prof. Ali membuka mata
kuliah Tafsir BKI dengan berbagai motivasi sebagai penyemangat awal, serta
penjelasan tentang tugas yang akan menjadi tanggungjawab kelas kami (BKI B3)
kedepannya. Tugas yang diberikan yaitu membuat makalah yang berisi ayat-ayat
al-Qur’an tentang Bimbingan dan Konseling Islam. Pertama, Prof. Ali menjelaskan
struktur penulisan makalah. Sebagaimana biasanya, makalah kali ini terdiri atas
lembar judul, kata pengantar, daftar isi, pembahasan, penutup dan yang terakhir
adalah daftar pustaka. Dalam hal ini Prof. Ali tidak menjelaskan secara menyeluruh.
Beliau lebih menekankan pada pembahasan yang terdiri atas beberapa bab. Bab 1
membahas tentang dasar-dasar kewajiban dakwah yang terdiri atas beberapa sub
bab, yakni kewajiban dakwah, metode dakwah dan mitra dakwah. Dari beberapa sub
bab tersebut, yang menjadi pembahasan yakni ayat-ayat al-Qur’an yang berkenaan
dengan sub bab. Demikian halnya dengan bab-bab selanjutnya yang membahas
tentang potensi positif manusia, potensi negatif manusia dan seterusnya yang
telah tertulis dalam lembaran silabus. Bagi tiap-tiap ayat terdiri dari
munasabah, tafsir dan kesimpulan.
Bagian yang menjadi fokus kami
pertama yakni tentang munasabah, terlihat dari beberapa teman yang menanyakan
maksud munasabah tersebut. Demikian halnya denganku, meski kata itu tak asing
lagi terdengar di telingaku, amun penjelasan yang pernah aku dapatkan belum
sepenuhnya melekat dalam ingatanku. Aku masih membutuhkan ketrangan yang lebih
memahamkan. Menanggapi pertanyaan teman-teman, Prof. Ali segera menjelaskan,
diikuti antusias dari kami untuk mendengarkan dengan sunggung-sungguh. Setelah
beliau menjelaskan dengan beberapa kalimat sebagai langkah awal memancing
pemahaman kami, kemudian kami diminta untuk mempraktekannya langsung dengan
membuka kitab al-Qur’an surat al-Baqarah. Prof. Ali memberikan pertanyaan, “Apa
munasabah surat al-Baqarah ayat 3?” Dengan serentak, kami menjawab, “Munasabah
ayat tersebut dengan ayat sebelumnya yaitu menjelaskan tentang maksud kata mutttaqin
yang terdapat di ujung ayat ke 2 dari surat al-Baqarah.” Prof. Ali mengangguk
dan mengatakan, “Itu adalah contoh munasabah yang paling mudah, untuk contoh
munasabah yang agak sulit, coba buka surat Ali Imran ayat 109.” Dengan serius,
aku dan teman-teman mencoba memahami munasabah ayat tersebut. Prof. Ali memberikan
waktu kepada kami untuk berpikir. Akhirnya, tak lama kemudian ada seorang dari
temanku yang menjawab, diikuti oleh beberapa teman lainnya. Prof. Ali
membenarkan semua jawaban teman-teman, karena berdasarkan uraian beliau bahwa
munasabah itu subjektif, terserah yang menafsirkan. Demikianlah hingga beberapa
ayat sebagai latihan kami untuk mencari munasabah dalam sebuah ayat. Dan di
akhir penjelasan, Prof. Ali menekankan tentang sistematika dalam penyampaian
munasabah, yakni dengan awalan kalimat “Ayat sebelumnya yakni ayat.....
menjelaskan tentang ...., maka pada ayat ini dijelaskan tentang.....” atau “Pada
ayat ini yakni ayat.... menjelaskan tentang.... yang berhubungan dengan ayat
sebelumnya yakni membahas tentang.....”, demikian jelas Prof. Ali.
Tak ingin menghabiskan pertemuan
hari itu dengan hanya membahas munasabah, segera kami beralih membahas tentang
tafsir, yang menjadi pokok mata kuliah. Prof. Ali membagi anggota kelas menjadi
3 kelompok yang terdiri dari 10 individu dari tiap kelompoknya. Perwakilan dari
kami, yakni Faisal sebagai kosma kelas, membagi nama-nama yang akan menjadi
bagian dari kelompok-kelompok tersebut. Begitu spektakuler, tak hanya 1 tafsir
yang akan dipelajari akan tetapi 3 sekaligus. Jadi, tiap kelompok mendiskusikan
tafsir yang berbeda. Berdasarkan kesepakatan, 3 referensi kitab tafsir yang
akan menjadi acuan makalah kami nantinya yaitu Tafsir al-Munir, Tafsir al-Azhar
dan Tafsir Ibnu Katsir. Seketika suasana ruang kelaspun berubah, yang tadinya
hening menjadi agak ribut karena antusias kami yang dengan penuh harap
mendaftarkan nama sebagai anggota kelompok 1, 2 atau 3.
Tanpa berpikir panjang, pertama kali
yang terbesit dalam benakku ketika itu adalah kelompok 1 yang membahas Tafsir
al-Munir. Bukan tanpa alasan tentunya. Setelah mendengar penjelasan dari Prof.
Ali yang mengatakan bahwa Tafsir al-Munir menggunakan bahasa Arab, aku langsung
tertarik. Ditambah dengan ajakan Sofi dan Sabila akhirnya namaku pun dicantumkan
sebagai anggota kelompok 1. Alhamdulillah, inilah pertama kalinya aku
membuat makalah berbahasa Arab. Yah, sebuah tantangan yang lama kutunggu. Tak
cukup sampai di situ, seperti semester 1 Prof. Ali menargetkan tugas selesai dalam
kurun waktu satu minggu. Wah, kaget sekali rasanya setelah mendengarkan
permintaan Prof. Ali itu. Aku pun bertanya-tanya dalam hati, “Bisa gak ya?”.
Aku ragu dengan banyaknya ayat al-Qur’an yang harus dicari tafsir dan munasabahnya,
apalagi dengan bahasa Arab. Namun, dengan kata-katanya yang bijak dan penuh
motivasi, Prof. Ali mampu mengubah pesimis kami menjadi optimis yang tinggi. “Saya yakin kalian bisa!”, ungkap Prof. Ali di akhir motivasinya. “Amin.” jawabku.
Perkuliahan hari pertama mata kuliah
Tasfsir BKI berhenti sampai di sini. Kami menutupnya dengan do’a seperti biasa
yang dilantunkan
ketika akan pulang. Demikianlah do’anya:
اللهم اجعل نفسي نفسا طيبة مطمئنة طائعة حافظة نؤمن
بلقائك #
ونقنع بعطائك ونرضى بقضائك ونخشك حق خشيتك لاحول
ولا قوة الا بالله العلي العظيم
“Oh Allah, make my soul good, soft and ebiding lust, memorize lust, we are
certain that we’ll meet you. And we submit sincerely everything you’ve given to
me, we ae pleased with your disposes and we are afraid of you so much”
Setelah Prof. Ali meninggalkan ruang kelas, sebagai langkah awal ketua kelompok 1 yakni
Faisal mengumpulkan anggotanya. Karena terdapat empat bab, akhirnya kelompok
kami sepakat untuk membaginya menjadi empat kelompok, dan aku mendapat bab ke 3
bersama Sofi dan Sabila tentang potensi negatif manusia yang terdiri dari 20
ayat al-Qur’an. Untuk mencicil tugas yang banyak tersebut akhirnya aku dan
teman-teman lainnya sepakat untuk langsung pergi ke perpustakaan selepas
pembagian tadi. Dengan berbekal kertas silabus, aku bersama teman sekelompok mencoba mencari di Opec untuk
menemukan letak Tafsir al-Munir. Setelah beberapa kata kami ketik sebagai password,
akhirnya kami mengetahui tempatnya dan segera mencari. Satu persatu juz dari
kitab Tafsir al-Munir dibuka untuk mencari ayat-ayat yang menjadi bagian kami. Kami catat letaknya
dan kami tandai kitabnya untuk kami datangi esoknya. Demikianlah hingga akhirnya usaha kami pada hari pertama dicukupkan untuk dilanjutkan pada
hari esok.
--------------
Seminggu berlalu, kini tiba pertemuan kedua mata kuliah Tafsir BKI.
Seperti biasa, sebagai awal pembicaraan, Prof. Ali memberikan kata-kata
motivasinya untuk membangkitkan semangat kami. Kemudian beliau menagih
tugas yang diberikan minggu lalu. Dengan penuh hormat, teman-teman yang
mewakili tiap kelompok menyerahkan tugasnya kepada Prof. Ali dalam
bentuk lembaran kertas yang belum dijilid, hanya dijepit dengan penjepit kertas
yang besar karena banyaknya lembar. Dengan perlahan Prof. Ali membuka dan
mengoreksi tugas kami. Wah…. Ternyata tugas kami banyak yang harus direvisi.
Namun, Prof. Ali tetap memberikan semangat serta apresiasi kepada kami dan mengatakan bahwa
dalam membuat buku tidak mungkin selesai sempurna hanya dengan sekali penge-print-an,
buku bisa menjadi benar-benar sempurna tanpa ada salah satupun setidaknya
setelah di-print selama 11 kali. Demikian ungkap Prof. Ali dengan
menunjukkan satu bukunya yang masih dalam tahap pengeditan. Meski telah
dikoreksi empat kali namun masih saja ada beberapa huruf yang salah. Dari
cerita Prof. Ali tersebut, kami lebih semangat untuk melakukan revisi, sebagaimana yang
sering diungkapkan beliau, “Hidup masih koma”. Tidak ada kata gagal selagi mau
berusaha.
Tidak cukup dengan apresiasi, karena
banyaknya kesalahan yang masih harus kami perbaiki, kemudian Prof. Ali kembali
menjelaskan bagaimana cara penyusunan tugas yang dimaksud. Kesalahan terbesar pada hari pertama tersebut yakni tentang redaksi
munasabah. Masih banyak kata-kata yang kurang cocok untuk digunakan dalam
menjelaskan munasabah suatu ayat. Akhirnya Prof. Ali kembali menerangkan tentang
hal itu dengan langsung praktek mencari munasabah. Prof. Ali menyebutkan
satu ayat al-Qur’an kemudian meminta kami untuk mencari munasabah ayat tersebut
dengan ayat sebelumnya. Alhamdulillah, di hari itu kami lebih mengerti
tentang tata cara mencari juga menjelaskan munasabah. Di hari itu pula, bersama
Prof. Ali kami dibimbing untuk mengulas satu persatu makalah dari ketiga
kelompok, yakni munasabah dan kesimpulannya. Mengenai tafsir, beliau belum
menyinggungnya karena yang perlu diulas yakni bagian yang merupakan hasil dari
pemikiran kami sendiri, sedangkan tafsir hanya menyalin dari referensi aslinya.
Sebelum perkuliahan ditutup, Prof.
Ali menyampaikan satu hal, yakni bahwa beliau tidak bisa hadir pada pertemuan
kuliah yang ketiga (minggu depan) dikarenakan ada acara yang tidak bisa beliau
tinggalkan. Jika ada dosen yang mengganti maka akan ada yang memandu diskusi
kelas kami minggu depan, jika tidak maka kami diberi amanah untuk berdiskusi
sendiri. Demikian akhir dari pertemuan kedua dalam kelas bersama Prof. Ali.
---------------
Senin, 23 April 2015, ada hal yang berbeda pada hari itu. Sosok yang
biasanya terlihat tidak asing lagi di mata kami pada hari Senin di ruang D1.203
gedung A fakultas Dakwah dan Komunikasi, yakni Prof. Ali, kini sosok yang hadir di
kelas adalah orang yang sebelumnya belum pernah kami lihat. Dengan memakai jas abu-abu dilapisi
dengan jaket, orang tersebut berhasil menarik perhatian kami. Dialah dosen yang
akan memandu kelas kami pada hari itu sebagai ganti atau wakil Prof. Ali yang
sebelumnya telah memberitahu kepada kami bahwa beliau tidak bisa hadir.
“Assalamu’alaikum warohmatullahi
wabarokatuh.”, ucapnya kepada kami. “Wa’alaikumussalam warohmatullahi
wabarokatuh”, jawab kami serentak. Suasana hening seketika, barulah tak
lama kemudian kalimat-kalimat bahasa Arab keluar dari lisannya, yang
menjelaskan bahwa beliau adalah dosen yang akan memandu diskusi kelas kami
ketika itu sebagai ganti ketidakhadiran Prof. Ali. “Wah….”,
ungkapku kagum dalam hati. Bahasa Arabnya begitu lancar seakan memang
hari-harinya selalu berbahasa Arab.
Sebagai awal pertemuan kami dengan beliau, tentu yang pertama kali
diharapkan adalah perkenalan. “Tak kenal maka ta’aruf”, ujar salah
seorang mahasiswa yang berada di dalam kelas. Suasana kelas kini tampak kembali
akrab seperti biasanya. Dengan menayangkan powerpoint untuk menjelaskan Curriculum
Vitae dari dosen baru tersebut, kami begitu antusias menanggapinya. Hingga
pada slide yang pertama tertulis nama Ainul Yaqin, demikianlah beliau
memperkenalkan namanya. Tak berhenti sampai slide pertama, ternyata
banyak sekali slide-slide berikutnya yang justru tambah menarik. Slide
tersebut berisi riwayat pindidikan Ust. Yaqin yang dikemas dalam
gambar-gambar saat beliau kuliah di Universitas al-Azhar Mesir.
Pengalaman-pengalaman yang beliau ceritakan pada kami menjadi motivasi bagi
kami, ditambah dengan ungkapan beliau tentang ibu yang menjadi jawaban
istikhorohnya. Selama menempuh pendidikan di al-Azhar, satu kali pun beliau
tidak pernah melakukan sholat istikhoroh karena tiap kali beliau membutuhkan
jawaban dari dua hal yang beliau bingungkan, segera saja ia tanyakan kepada
ibu. Apa yang menjadi keputusan ibu, itulah yang akan dia pilih. Namun, saat
ibu mengatakan terserah, apa yang menjadi keyakinan beliau itulah yang menjadi
keputusannya disamping meminta do’a dari ibu semoga itulah yang terbaik.
Setelah mengungkap riwayat hidup beliau, kini giliran beliau yang
berkeinginan untuk mengenal kami. Satu persatu nama di absen disebutkan oleh
beliau, diikuti dengan kami yang mengangkat tangan saat nama kami dipanggil
serta menyebutkan asal daerah. Kaget terlihat diwajah Ust. Yaqin saat
mengetahui beragamnya daerah asal kami yang tersebar dari Sabang sampai
Merauke. Beliau sangat tertarik dan menikmati keberadaannya di tengah-tengah
kami. Alhamdulillah.
Banyak cerita yang Ust. Yaqin sampaikan pada hari itu. Namun, tak lupa
dengan amanah. utamanya untuk hadir di kelas kami yakni membimbing jalannya
diskusi, langsung saja setelah perkenalan, beliau membuka diskusi kami dengan
menanyakan format diskusi yang biasanya dilakukan bersama Prof. Ali. Kemudian
kami berkumpul dengan kelompok masing-masing dan melaksanakan diskusi. Diskusi
dilakukan dengan membacakan munasabah dan kesimpulan dari masing kelompok
diikuti penjelasan dari Ust. Yaqin setelahnya. Meski baru hari pertama
pertemuan, kami merasa nyaman dengan diskusi tersebut. Hingga akhirnya, di
ujung pertemuan, Ust. Yaqin mengungkapkan kenyamanannya mengisi kelas kami.
Beliau juga kami berharap agar hari itu bukan menjadi awal sekaligus akhir
pertemuan, semoga ada waktu lain yang mempertemukan kami kembali.
---------------
Merupakan hal yang tak terduga pada pertemuan ke empat ini, Ust. Yaqin
kembali masuk di kelas kami, disusul beberapa menit kemudian Prof. Ali datang. Subhanallah,
harapan kami minggu lalu terjawab pada hari ini. Meski Prof. Ali hadir, Ust.
Yaqin pun turut hadir. Sebagai pembuka, seperti biasa Prof. Ali memberikan
beberapa kata motivasinya sembari menanyakan siapa di antara kami yang telah
menulis segala yang terjadi dalam perkuliahan semester 2 ini. Ada beberapa dari
kami yang mengangkat tangan, kemudian ditanya oleh Prof. Ali mengenai hal apa
yang ia tulis. Demikian hingga beberapa teman yang mendapat giliran tunjukan
tangan Prof. Ali dan dipersilahkan untuk menceritakan apa yang ditulisnya.
Setelah beberapa pertanyan tersebut, barulah Prof. Ali mempersilahkan Ust. Yaqin untuk meneruskan
diskusi. Jadi, pada pertemuan ini Ust. Yaqin yang menjadi pembimbing diskusi
kami. Prof. Ali meminta izin karena ada urusan lain yang tidak bisa beliau
tinggalkan. Namun sebelum meninggalkan kelas, Prof. Ali mengumumkan bahwa
minggu depan akan mulai dilaksanakan ulangan perminggu dan beliau memberikan
tanggung jawabnya kepada Ust. Yaqin untuk membuat soal, yakni pernyataan benar
atau salah. Setelah Ust. Yaqin memberikan kesanggupannya akhirnya Prof. Ali
pamit untuk meninggalkan kelas disusul kami bersiap-siap mengubah posisi tempat
duduk sebagaimana biasanya, yakni sesuai dengan kelompok masing-masing dan
melaksanakan diskusi.
---------------
Minggu kelima, tanggal 30 Maret 2015. Hari ini adalah awal pertemuan yang
paling menegangkan dari pada pertemuan-pertemuan sebelumnya. Sesuai kesepakatan
minggu lalu, hari ini akan dilaksanakan ulangan yang pertama kalinya. Terlihat
raut wajah yang gugup dari teman-teman, begitupun aku, yang ketika itu hampir
terlambat karena tidak mengikuti kelas intensif sebab sakit maag yang kambuh
ketika itu. Hampir saja aku memutuskan untuk tidak hadir, namun karena adanya
ulangan dan sakit yang sudah agak sembuh, akhirnya aku memilih untuk masuk.
Bergegas aku menuruni tangga asrama Khadijah binti Khuwailid menuju fakultas
dakwah. Ternyata, setelah sampai di depan gedung dakwah, kulihat Nanang dan
Fikri bergegas pula menuju ruang kelas kami, aku pun menyusul di belakangnya.
Hingga saat kakiku menginjak lantai depan kelas, aku kaget karena Prof. Ali dan
Ust. Yaqin telah hadir. Aku masuk kelas dengan melihat teman-teman yang telah
hadir semua dengan sebagian dari mereka yang masih menggenggam kertas-kertas
materi yang akan diujikan. Kemudian aku memilih bangku belakang di samping
Murni yang masih kosong. Aku mencoba duduk dengan santai. Setelah kami semua
hadir, perkuliahan pun dimulai dengan membaca do’a.
Sebelum soal dibacakan, terlebih dahulu Prof. Ali membahas tentang
perbaikan tugas kami yang minggu lalu masih ada beberapa yang kurang atau
salah. Satu dari masing-masing kelompok memperlihatkan file yang ada di laptop
untuk dikoreksi oleh beliau. Kata-perkata yang masih ada kesalahan langsung
diberi font warna merah. Prof. Ali menjelaskan sebagian dari
kesalahan-kesalahan tersebut untuk diperbaiki minggu depannya. Demikian hingga
akhirnya penjelasan dicukupkan oleh beliau dan dilanjutkan dengan ulangan. Sementara
Prof. Ali masih mengoreksi tugas kami, beliau mempersilahkan Ust. Yaqin untuk
membacakan soal. Beliau pun bangkit dari tempat duduk yang sebelumnya berada di
sebelah Prof. Ali menuju ke depan deretan tempat duduk putri di sebelah
selatan. Suasana yang sebelumnya kembali ramah, kali ini berubah tegang
kembali. “Sudah siap?”, Tanya Ust. Yaqin. “Sudah”, teriak kami. meski
sebenarnya kata itu terpaksa diucapkan sebagai jawaban untuk dmulainya
pembacaan soal. “Kalau tidak kami jawab siap, kapan ulangan dimulai?”, ujarku
dalam hati. Dengan penuh perhatian, satu persatu soal yang dibacakan beliau
mendapat perhatian penuh dari kami. Hingga ada beberapa soal yang kami minta
untuk diulang kembali karena terlalu cepat. Tak ingin seterusnya menjadi lebih
ribut, Prof. Ali akhirnya menghentikan pembacaan soal sementara dan meminta
kami untuk mengungkapkan apa yang menjadi kehendak kami. kami pun meminta agar
pembacaan soal diulang dua kali serta agak lebih pelan dan jelas. Prof. Ali dan
Ust. Yaqin menyetujui akan hal itu, Karena kami menyadari bahwa itulah kali
pertama Ust. Yaqin membacakan soal ulangan sistem Prof. Ali.
Soal kembali dibacakan, kini suasana terlihat lebih kondusif. Kami
mendengarkan dengan seksama tanpa ada yang meminta pengulangan. Dengan semangat
pula, aku memberikan jawaban yang aku yakini, benar atu salah. Meski ada dua
jawaban yang masih kuragukan, tapi ku putuskan untuk menjawab yang lebih
kuyakini. Tak terasa empat puluh soal telah terbaca. Langsung saja Prof. Ali
meminta kami untuk menukarkan lembar jawaban kami dengan teman yang berada di
samping. Ketika itu Murni yang mengoreksi jawabanku karena dia berada di
sampingku, demikian pula aku yang mengoreksi lembar jawabannya. Satu-persatu
jawaban dibacakan oleh Ust. Yaqin, sedangkan kami sibuk menccokkan lembar jawaban teman
yang kami pegang. Ketika sampai di no.10, Ust. Yaqin bertanya “Siapa yang
mengoreksi jawaban yang belum salah?”. Ternyata ada tiga dari kami yang
mengangkat tangan, termasuk Murni. Demikian pertanyaan yang sama dari Ust. Yaqin
ketika sampai pada no. 20 dan 30. Tidak aku duga, ternyata yang masih
mengangkat tangan ketika itu hanya Murni. “Wah....”, sorak teman-teman.
Akhirnya, selesai pengkoreksian, Prof. Ali langsung menanyakan siapa yang
mendapat nilai tertinggi. Dengan sedikit malu aku mengangkat tangan. Terlihat
teman-teman dari bangku depanku hingga yang terdepan menatapku. Kemudian
diikuti dengan sorakan teman-teman, Prof. Ali memintaku untuk maju ke depan kelas
dan memberiku kesempatan untuk berfoto dengan beliau sekaligus pula dengan Ust.
Yaqin. Aku berada di tengah-tengah beliau berdua. Prof. Ali berada di samping kiriku dengan
mengangkat jempolnya, begitu juga Ust. Yaqin yang berada di samping kananku.
Hmmm.... sebuah hadiah yang tak ternilai tentunya. Aku mendapatkan sebuah momen
dimana aku bisa berfoto dengan dua orang hebat. Alhamdulillah. Setelah
ulangan selesai, kelas diserahkan kepada Ust. Yaqin untuk melanjutkan
diskusi kami, dan Prof. Ali pamit untuk meninggalkan kelas.
---------------
Semingu berlalu, kini tibalah
ulangan yang kedua, yakni tentang Tafsir al-Azhar. Sebagaimana minggu
sebelumnya, Prof. Ali dan Ust.
Yaqin bersama-sama hadir di kelas kami. Namun kali ini aku tidak terlambat,
karena paginya aku masuk kelas intensif. Kemudian Prof. Ali kembali megoreksi tugas kami
seperti minggu lalu. Perwakilan atau ketua kelompok menyerahkan laptop-nya
untuk langsung dikoreksi oleh Prof. Ali. Di samping Prof. Ali mengoreksi,
langsung saja beliau meminta Ust. Yaqin untuk langsung memberikan pertanyaannya
kepada kami. Setelah kami semua siap dengan satu lembar kertas jawaban dan
polpen, soal pertama pun dibacakan. Tidak seperti hari pertama ulangan minggu lalu,
kali ini Ust. Yaqin sudah lihai dalam membacakan soal, sesuai dengan yang kami
inginkan. Sehingga tidak perlu lagi dibutuhkan pengulangan kecuali beberapa
soal yang memang butuh pemahaman agak lama. Karena seperti yang dkatakan Ust.
Yaqin sebelum membacakan soal, beliau mengungkapkan bahwa kali ini soal yang
diberikan agak dipersulit daripada minggu lalu karena Prof. Ali dan Ust. Yaqin
menyadari bahwa soal sebelumnya terlalu mudah bagi kami hingga ada yang
mendapatkan nilai seratus. Maka kali ini Prof. Ali meminta Ust. Yaqin untuk menyiapkan
soal yang agak lebih sulit agar setidaknya tidak ada yang mendapatkan nilai
sempurna. Ust. Yaqin juga berjanji akan meminjamkan sebuah buku bagi siapa saja
yang mendapatkan nilai minimal 90, karena menurut beliau untuk mendapatkan
nilai tersebut sangat sulit. Namun, kami terus berusaha agar tetap mendapatkan
nilai sebagus minggu lalu.
Setelah selesai pembacaan soal, kini
tibalah saat pengkoreksian. Memang benar, terbukti ketika baru sampai pada
sebagian dari jumlah keseluruhan soal, banyak dari kami yang menjawab dengan
salah. Soal yang diberikan hampir keseluruhan menjebak. Teliti adalah kunci
utamanya. Seperti minggu lalu, aku juga tidak menyangka bahwa hari ini aku
mendapatkan nilai yang tertinggi lagi. Meski nilaiku turun 10 angka, tapi
ternyata teman-teman juga turun bahkan dibawah nilai yang kudapatkan. Akhirnya,
seperti minggu lalu pula, setelah nilai disampaikan satu-persatu kepada Ust.
Yaqin untuk dicatat, kemudian Prof. Ali memanggil namaku untuk maju yang kedua
kalinya ke depan kelas untuk berfoto dengan beliau berdua. Subhanallah,
momen kedua yang sangat aku syukuri.


Berdasarkan janji Ust. Yaqin
sebelumnya. Aku pun dipinjamkan sebuah buku oleh beliau yang berjudul “10
Episode Teragung Raasulullah SAW”. Karena saat itu buku belum dibawa, maka
keesokan harinya barulah diberikan melalui Sofi yang pada hari itu berjumpa
lebih dahulu dengan beliau.
Ulangan kedua telah selesai.
Kemudian, Ust. Yaqin melanjutkannya dengan diskusi. Karena minggu lalu belum
sempat mempelajari tentang tafsir yang akan diujikan minggu depan, akhirnya
Ust. Yaqin memutuskan untuk membahasnya agar ulangan minggu depan lebih siap
karena sudah dipahami. Beliau pun meminta kelompok Tafsir Ibnu Katsir untuk
mempresentasikan makalahnya di depan kelompok lain dengan tetap mendapatkan
panduan dari beliau hingga selesai.
----------------
13 April 2015, perkuliahan yang tak
berbeda dengan biasanya namun dimulai dengan ekspresi yang tak terduga dari Prof. Ali. Setelah
kami melantunkan do’a sebagaimana yang biasa diucapkan, Prof. Ali meminta kami
untuk mengulangnya kembali. Beliau mengungkapkan bahwa do’a kami terlalu lemas
jika didengar. “Do’a adalah sebuah permohonan, jika diucapkan dengan lemas
seolah-olah tanpa penuh harap, bagaimana Allah akan mengabulkan”, nasehat Prof.
Ali. Kemudian kami pun mengulangnya kembali dengan nada yang serentak dan lebih
semangat. Selesai berdo’a, Prof. Ali menanyakan perbandinagn antara do’a
yang pertama dengan yang kedua. “Mana yang lebih bagus?”, tanya beliau. Tentu
kami semua menjawab bahwa do’a yang kedua lebih enak didengar, apalagi sebagai
do’a pembuka.
Setelah megoreksi do’a kami, lalu Prof. Ali memberikan
kata-kata motivasinya. \Ditambah dengan pertanyaan beliau tentang tugas kami
menulis. “Masih adakah kesulitan untuk menulis?”, tanya Prof. Ali kepada
kami. Kemudian Prof. Ali menunjuk beberapa dari kami untuk mengungkapkan
kesulitannya. Salah satunya adalah Syarif. Prof. Ali meminta Syarif untuk
mencoba menceritakan tentang suasana maupun kejadian di dalam kelas ketika itu,
sebagai pembuktian bahwa sebenarnya menulis itu tidak sulit. Syarif pun memulai
ceritanya. Banyak dari kalimat yang dia ungkapkan secara umum, belum spesifik.
Sebuah kejadian yang sebenarnya bisa dituliskan menjadi beberapa lembar kertas
tapi hanya bisa menjadi sekilas cerita karena pengungkapan yang masih umum.
Dari penjelasan Prof. Ali tersebut akhirnya kami bisa lebih memahami bagaimana
retorika menulis hingga bisa menghasilkan tulisan yang begitu panjang hanya
dari sebuah kejadian. Dan tentunya hal itu menjadikan kami lebih yakin untuk
bisa mengerjakan tugas dari Prof. Ali untuk menulis sebanyak 50 lembar, yang
sebelumnya masih kuragukan karena mengingat jumlah halaman yang begitu banyak,
“Apa saja yang akan kutulis?”, pikirku dalam hati sebelumnya.
Setelah membahas tentang tulisan dan
pemberian motivasi, kemudian hari itu diteruskan dengan pelaksanaan ulangan
yang ketiga. Karena hasil minggu lalu yang kurang memuaskan dan ada beberapa
dari kami yang mendapatkan nilai kurang dari lima puluh, maka Ust. Yaqin
mengurangi standar soalnya. Dengan arti lain, soalnya dibuat lebih mudah
daripada sebelumnya. Selesai mengerjakan soal yang didekte oleh Ust. Yaqin,
kemudian tibalah waktunya pengkoreksian. Tidak seperti minggu sebelumnya, aku
merasa ketika itu banyak keraguaan dalam menjawab soal, antara benar atau
salah. Karena kebanyakan dari soal-soal yang pertama adalah jawaban salah, maka
aku merasa terlalu jeli dalam mendengarkan soal, sehingga soal-soal pernyataan
yang akhir kupikir juga salah karena ada beberapa kata yang meragukan.
Akhirnya, setelah dikoreksi, aku pun mengetahui bahwa jawabanku banyak yang
salah/ kurang tepat. Hari itu aku mendapatkan nilai yang terendah dari pada
ulangan sebelum-sebelumnya. Ada beberapa teman juga yang merasa demikian, namun
ada beberapa juga yang malah mendapatkan nilai yang lebih dari minggu lalu
karena menurut mereka soal hari ini lebih mudah. Dan yang mendapatkan nilai
tertinggi adalah Fikri dengan selisih yang cukup banyak dariku, yakni tujuh
angka. Hmmmm.
Berbeda dengan minggu-minggu
sebelumnya, hari ini Prof. Ali memberi taanggapan tentang nilai-nilai kami
minggu ini. Satu persatu dari kami ditanya penyebab mengapa hari ini kami
mendapatkan nilai sedemikian. Berbagai alasan diungkapkan teman-teman. Ketika
sampai di no.11, no. Absenku, aku ditanya oleh Prof. Ali mengapa hari ini aku
mendapatkan nilai rendah. Aku pun menjawab, “Mungkin karena saya terkecoh
dengan soal-soal awal yang kebanyakan salah, jadi itu menyebabkan saya terlalu
teliti dan seolah-olah selalu mendapatkan kata-kata yang saya anggap sebagai
jebakan agar dijawab benar, tapi ternyata itu memang benar.”, jelasku. “Oo..
berarti itu alasannya”, jawab Prof. Ali menanggapi alasanku. Kemudian beliau
bertanya lagi, “Jadi hanya karena masalah itu? Bukan ada penyebab lain?
Misalnya tentang psikologis?”. “Mungkin karena itu juga Prof.”, jawabku. Tak
lama setelah itu, tiba-tiba Prof. Ali mengatakan suatu hal padaku. Beliau
mengungkapkan bahwa aku terlalu sering berpikir negatif. “Kamu sebenarnya pintar,
tapi karena pikiran negatifmu inilah yang menghambat kesuksesanmu”, ujar
beliau. Aku pun mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan oleh Prof. Ali.
Kemudian beliau memberikan perumpamaan kepadaku. “Apabila ada seseorang yang
biasanya selalu menyapamu, tapi pada hari itu dia diam saja dan tidak
melihatmu, apa yang kamu pikirkan tentang orang itu?”. “Mungkin ada suatu hal
yang menyebabkan dia berlaku aneh pada saya, bisa jadi dia marah pada saya
Prof.”, jawabku. “Nah, itu. Salah satu contoh dari berpikir negatif. Mengapa
kamu tidak berpikir bahwa bisa saja orang itu sedang mempunyai masalah sehingga
tidak menyapamu.”, ujar Prof. Ali. Aku tersenyum, “Iya ya, berarti sering
sekali aku mempunyai pikiran yang negatif. Mengapa aku tidak mempunyai pikiran
positif seperti itu?”, ungkapku dalam hati. Kemudian Prof. Ali bertanya lagi,
“Jika ada orang menutup pintu dengan keras, apa yang ada di pikiranmu tentang
orang itu?”. “Mungkin dia marah Prof.”, jawabku. “Nah, itu. Coba kamu berpikir
positif. Bisa saja angin di luar kencang sekali sehingga pintu tertutup dengan
keras.”, kata Prof. Ali dengan senyumnya. Aku kembali tersenyum, dan berkata
dalam hati. “Iya, ya.”. Aku menyetujui nasehat Prof. Ali. Setelah itu yang ada
dibenakku adalah bahwa aku harus selalu bepikir positif. Kepada orang tua,
teman, kepada siapapun. Entah bagaimana hal buruk yang menimpaku, berpikir
positif itulah yang lebih baik. Meski hal negatif yang sebenarnya terjadi.
Tidak hanya ungkapan Prof. Ali
padaku yang kuambil pelajaran. Segala yang disampaikan Prof. Ali kepada
teman-teman yang lain juga bernilai besar sekali. Banyak pelajaran yang bisa
aku ambil ketika itu. Subhanallah, jarang-jarang sekali Prof. Ali
mengevalusi satu-persatu dari kami. Memang benar ungkap Prof. Ali, betapa
beliau sayang kepada kami, mulai dari hal-hal yang kecil beliau perhatikan dan
beliau tanyakan. Beliau juga mengungkapkan bahwa kita adalah keluarga.
Orang-orang yang hadir di kelas ini adalah keluarga. Maka hendaknya kita bisa
saling terbuka, tidak perlu ada yang malu. Di sini kita sama-sama belajar. Aku
senang sekali saat mendengar hal itu. Aku belum pernah mendapati seorang dosen
yang berlaku seperti Prof. Ali.
Setelah selesai bertanya tentang
diri kami, kemudian Prof. Ali meminta fikri sebagai mahasiswa yang ketika itu
mendapat nilai yang tertinggi untuk maju ke depan kelas dan berfoto dengan
beliau dan Ust. Yaqin. Aku mengingat minggu yang lalu ketika aku yang berada
diantara beliau. Aku pu bisa mengambil pelajaran dari hari ini. Mungkin ini
adalah cara Allah untuk mengingatkanku. Jika aku tidak mendapatkan nilai yang
lebih rendah dari minggu lalu, mungkin Prof. Ali tidak akan mengungkapkan
kesalahan berpikir yang sering kali kulakukan. Tanpa ada hari itu aku tidak
akan sadar dan mulai untuk berpikir positif. Subhanallah, betapa
indahnya sekenario dari Sang, Khaliq, Yang Maha Mengetahui.
Selesai berfoto, kemudian Prof. Ali
meninggalkan kelas, diteruskan dengan berdiskusi bersama dengan bimbingan Ust.
Yaqin. Kali ini diskusi agak berbeda dengan minggu lalu. Diskusi dilaksanakan
dengan format melingkar dan mengkosongi bagian tengahnya atau letter U bukan
dengan membentuk lingkaran pada setiap kelompokknya. Kelompok Tafsir al-Munir,
yakni kelompokku menghadap ke selatan, diikuti kelompok Tafsir al-Azhar
menghadap ke utara dan terakhir kelompok Tafsir Ibnu Katsir menghadap ke
selatan. Setelah kami siap, kemudian diskusi dimulai dengan sistem seperti
biasanya. Salah satu dari kelompok yang ditunjuk oleh Ust. Yaqin membacakan
ayat, disusul dengan munasabah dan kesimpulan kemudian mendapat penjelasan yang
lebih lanjut oleh beliau.
----------------
Ada pemandangan yang berbeda dari
ini, tanggal 19 April 2015. Tidak seperti hari biasanya, hari ini Ust. Yaqin
tidak hadir bersama Prof. Ali. Ada sebuah acara di Jakarta yang harus beliau
hadiri. Sebelum perkuliahan dimulai, kami semua membaca do’a seperti lagu
biasanya. Namun, Ust. Yaqin tidak puas dengan do’a yang kami lantunkan. Maka
beliau meminta kami untuk mengulangnya kembali. Begitu juga setelah do’a kedua
yang baru sampai setengah, Ust. Yaqin meminta kami mengulangnya kembali. Kami
pun mencoba berdo’a dengan lebih baik, karen atentunya kami merasa mungkin do’a
kami kurang semangat atau ada hal lainnya. Setelah selesai berdo’a, barulah
Ust. Yaqin menjelaskan mengapa beliau meminta kami untuk mengulang do’a, beliau
mengungkapkan bahwa ada beberapa dari kami yang berdo’a tapi kurang serius. Ada
yang membuka buku dan polpen, juga ada yang membuka HP. “Bagaimana Allah mau
mengabulkan do’a kita sedangkan kita sendiri tidak serius?”, ungkap beliau.
Kemudian Ust. Yaqin bercerita tentang pentingnya berdo’a dan dahsyatnya
kekuatan do’a. Memang usaha itu penting, tapi kekuatan do’a itu jauh lebih
besar dan lebih penting. Kemudian beliau menjelaskan apa yang dibawanya ketika
itu. Yakni 3 minuman dengan merk yang berbeda. Siapapun yang mendapatkan nilai
tertinggii hari ini akan diperkenankan untuk memilih minuman yang
dikehendakinya. Dan dua minuman lainnya akan diberikan kepada siapa saja yang
Ust. Yaqin kehendaki. Selesai itu, kemudian Ust. yaqin menyampaikan pesan dari
Prof. Ali bahwa beliau hari ini tidak bisa hadir. “Nanti Prof. Ali akan
menghubungi saya dan akan menyampaikan sesuatu untuk kalian, maka saya izin
untuk membiarkan HP saya berdering. Jika yang menelepon adalah Prof. Ali, saya
akan mengangkatnya, jika tidak maka tidak saya angkat.”, ujar beliau. “Iya
ustadz”, jawab kami serentak.
Sembari menunggu telepon dari Prof.
Ali, langsung saja Ust. Yaqin memulai perkuliahan dengan ulangan yang keempat.
Kami segera menyiapkan pelpen dan kertas untuk menjawab soal, kemudian
memberinya nama dan NIM sebagaiman biasa. Namun, letak tempat duduk kami
berbeda dari biasanya, yakni sama dengan format diskusi sebelumnya (letter U).
Hari itu aku mendapat tempat duduk paling tengah menghadap langsung ke Ust.
Yaqin yang berada di depan. Di samping kananku Fiska dan di samping kiriku
Fikri. Setelah kami siap, Ust. Yaqin mulai membacakan soal yang pertama,
diikuti soal-soal selanjutnya hingga sampai pada no.10. Tiba-tiba sebelum
dilanjutkan ke soal berikutnya, HP beliau berdering. Tertulis nama Prof. Ali.
Kemudian Ust. Yaqin mengangkatnya, dan me-loudspeaker agar kami semua
bisa mendengarkan. Namun, karena suara belum juga bisa didengar oleh kami
semua, kemudian Ust. Yaqin meminta kami untuk lebih mendekat. HP beliau
diletakkan ditengah-tengah kami agar semua bisa mendengarkan dengan jelas apa
yang disampaikan oleh Prof. Ali.
Selesai berbincang dengan Prof. Ali lewat telepon, kemudian ulangan kembali dilanjutkan. Kami kembali konsentrasi sehingga suasana di kelas kembali hening penuh dengan perhatian kepada pernyataan yang disampaikan oleh Ust. Yaqin. Soal ke 11 hingga 40 akhirnya selesai dibacakan oleh beliau. Langsung saja setelah itu tiba waktu pengkoreksian. Kali ini kertas jawabanku dibawa oleh Fiska dan aku membawa kertas jawaban Fikri. Dengan jujur dan seksama kami mencocokkan jawaban yang benar. Alhamdulillah, nilaiku lebih baik daripada minggu lalu. Nilaiku naik 10 angka. Dan ternyata setelah nilai kami semua dibacakan dan dicatat oleh Ust. Yaqin, nilaikulah yang paling terbesar. Kemudian, sebagaimana yang disampaikan di awal tentang apresiasi untuk yang mendapatkan nilai tertinggi hari itu, Ust. Yaqin memintaku untuk memilih di antara minuman yang tersedia di atas meja. Teman-teman memberikan sorakan kepadaku seolah mereka yang hendak memilihkanku. Dengan tanpa berpikir panjang akhirnya aku memilih minuman yang ketika itu berada di tengah, yaitu teh dengan merk Fresh Tea. Ust. Yaqin kemudian menyerahkannya padaku. Aku pun menerimanya. Karena hari itu adalah tanggal 1 Rajab dan sebagian besar bahkan hampir keseluruhan dari kami berpuasa maka langsung saja aku simpan minuman tersebut di dalam tas. Setelah satu minuman telah diberikan kepadaku, kemudian salah satu minuman yang tersisa diberikan oleh Ust. Yaqin kepada Syarif yang ketika itu mendapatkan nilai yang lebih rendah dari pada lainnya. “Ini minuman yang termahal dari pada lainnya”, ucap Ust. Yaqin saat menyerahkannya kepada Syarif. Dengan senyum, ia pun menerimanya.
Diskusi mulai dilaksanakan. Aku
pertama kali ditunjuk oleh Ust. Yaqin untuk membacakan ayat pertama sebagai
pembuka diskusi. Karena napasku pendek, aku pun berhenti untuk membuat waqaf
dan mengulanginya. Aku memdapatkan pelajaran berharga ketika itu. Ternyata saat
mengulang tidak boleh dimulai dengan huruf jar dan dharaf.
Sedangkan aku tadi mengulangnya dimulai dari dharaf. “Ooo, begitu”,
ungkapku dalam hati. Kemudian Ust. Yaqin menjelaskan tentang beberapa waqaf
yang boleh berhenti dan diulang mulai dari dharaf. Intinya, membaca al-Qur’an
hendaklah mengetahui maksud dan artinya. Dengan demikian, kesalahan untuk
memulai bacaan ketika memulai setelah waqaf tidak akan terjadi. Membaca
al-Qur’an juga lebih enak apabila memahami maksudnya.
Kemudian, diskusi dilanjutkan
kembali. Banyak sekali catatanku pada hati itu. Poin pertama kau mencatat. “Ana
‘abdul mun’im wa laa ‘abdun ni’am” yang artinya “Aku adalah hamba dari Sang
Pemberi Nikmat bukan hambanya kenikmatan. Subahanallah, dengan kalimat
ini kita bisa mengambil pelajaran yang besar. Hendaklah kita menyadari, kadang
kala kita selalu menginginkan nikmat, nikmat dan nk’mat, seolah-olah kita
menghamba pada kenikmatan. Padahal harus kita luruskan bahwa dibalik nikmat itu
ada Dzat yang memberi/ menghadirkannya, dialah Allah yang harusnya wajib untuk
kita menghamba pada-Nya. Berlimpah ruah nikmat itu tidak penting selama kita
selalu bersama Allah. Kemudian Ust. Yaqin mengakhiri pembahasan nikmat dengan
kata-katanya, “Ketidakberdayaan kita untuk bersyukur, itulah hakikatnya
syukur”. Bersyukur kepada Allah iku bagaikan seorang yang termiskin hendak
bersyukur kepada yang paling kaya. “Kaifa yasykurul faqiirul ghiniyya? Laa
yastathi’”, kata beliau. Bagaimana bersyukurnya orang yang termiskin pada
yang terkaya? Tidak mungkin bisa. Orang miskin hanya bisa terus meminta dan
mengggantung kepada yang kaya, sedangkan yang kaya terus saja memberikan apa
yang dia miliki kepada yang miskin. “Lain syakartum la aziidannakum”,
jika kalian bersyukur, maka pasti benar-benar akan Ku tambahkan (nikmat-Ku)
bagimu. Di sana terdapat dua huruf taukid, yaitu lam dan nun,
yang menandakan bahwa benar-benar Allah akan menambah nikmat kepada hamba-Nya
yang selalu bersyukur apabila ia diberi nikmat.
Dalam ilmu tasawuf, Allahu
wajibul wujud wal insan jaizul wujud, karena Allah adalah al-awwalu wal
akhiru, sedangkan manusia wujudun minal ‘adam. Allah hakikatnya
memanglah ada, sedangkan manusia itu ada karena diadakan, dari sebelumnya tidak
ada (‘adam). Hakikat manusia adalah tidak ada. “Kullu syaiin haalikun
illa wajhahu”, tiap sesuatu itu akan rusan/ musnah kecuali Dzat-Nya
(Allah). Wakullu haalik huwa jaaizul wujud, dan tiap-tiap yang rusak itu
jaizul wujud (hakikatnya tidak ada). Ust. Yaqin juga menjelaskan bahwa
inti dari segala ciptaan Allah adalah Nabi Muhammad Saw, karena Nabi Muhammad
Saw langsung mendapatkan nur dari Allah. Nabi Muhammad Saw telah
diangkat menjadi Nabi dan Rasul ketika roh Nabi Adam ditiupkan/ disatukan ke
jasadnya. Sebagaimana kita tau bahwa saat Nabi Adam menikah dan mengucapkan
ijab qabul dengan mahar dua kalimat syahadat, yang pada syahadat kedua adalah
persaksian bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah/ Rasul Allah.
Kemudian kita membahas tentang
istiqomah. Ust. Yaqin menceritakan tentang seseorang yang ingin masuk islam dan
bertanya kepada Rasulullah, beliau pun menjawab “Qul amantu billah tsumma
istaqim”, katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian istiqomahlah
(dalam iman). Dari kalimat ini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa istiqomah
itu adalah sebuah perbuatan yang dilakukan secara terus-menerus/ kontinyu.
Setelah itu kita membahas tentang permusuhan, Ust. Yaqin mengatakan, “Jika
mencintai saja masih menyisakan rasa sakit dan luka, apalagi memusuhi. Jika
kita menyibukkan cinta saja sudah sibuk, untuk apa menyibukkan diri dengan
permusuhan”. Maksudnya, permusuhan itu tidaklah ada gunanya. Bahkan malah
menimbulkan rasa sakit dalam hati. Umpama saja ada seseorang yang benci kepada
orang lain, sedangkan orang yang dibenci tidak menaruh rasa benci padanya. Maka
pasti hanya orang yang benci lah yang mendapati rasa sakit pada hatinya. Atau
apabila ada dua orang yang saling bermusuhan, pasti keduanya juga merasa sakit
akibat rasa benci yang ada di hatinya.
Ada yang mengatakan, “Dosa yang
dilakukan dengan sadar itu mudah diistighfari, bagaimana dengan dosa yang tidak
kita sadari?”. Maksudnya, saat kita melakukan dosa, pasti mudah bagi kita untuk
beristighfar, memohon ampun kepada Allah atas dosa yang yang dengan sadar telah
kita lakukan. Lalu bagaimana dengan dosa yang tidak kita sadari? Bagaimana kita
beristighfar apabila kita saja tidak mengetahui/ menyadari bahwa kita telah
melakukan dosa.
Kemudian Ust. Yaqin bertanya tentang
perbedaan antara israf dan mubadzir. Siapa yana bisa menjawab akan mendapkan 1
botol minuman yang tersisa. Ada beberapa teman yang mencoba menjawab namun
tidak ada di antara mereka yang benar. Kemudian beliau mengatakan, “Ya sudah,
nanati bisa browsing atau cari di mana pun, kalau ketemu langsung hubungi
saya”. “Iya ustadz”, jawab kami.
Setelah itu, Ust. Yaqin bertanya
lagi. Sekarang tentang rahasia dari firman Allah dalam surat al-Insyirah: “Fainna
ma’al ‘usri yusra. Inna ma’al ‘usri yusra”. Kalimat ini diulang dua kali
dalam satu ayat bahkan berdampingan. “Siapa dari kalian yang mengetahui rahasia
dibalik firman Allah ini? Yang bisa maka satu minuman yang tersisa ini akan
saya berikan”, ucap beliau. Dengan yakin Rifki mengangkat tangannya dan
menjawab. “Ada dua rahasia yang saya ketahui. Pertama, kata al-‘usru
(kesulitan) ditulis dengan kata ma’rifat (sudah jelas) sedangkan kata yusran
(kemudahan) ditulis dengan kata nakirah (belum jelas). Ini memberi
tanda bahwa kebanyakan dari manusia itu sering mengetahui kesulitan dan tidak
mengetahui adanya kemudahan. Dengan bentuk ma’rifat dan nakirah tersebut,
bisa diambil kesimpulan bahwa sesungguhnya kesulitan hanya 1, karena
menggunakan ism ma’rifat, yakni khusus 1 yang telah diketahui. Sedangkan
kemudahan itu banyak, karena menggunakan ism nakirah, yakni umum karena
belum diketahui, jadi berarti banyak.”. “Subahanallah”, ungkap
teman-teman.
Dengan senyum, Ust. Yaqin
membenarkan dan langsung menyerahkan 1 botol minuman yang tersisa. Kemudian
beliau bertanya bagaiman Rifki mengetahui rahasia itu. Rifki menjawab bahwa ia
mengetahuinya saat mengikuti sebuah kegiatan di Malang, ketika itu narasumber
menjelaskan tentang hal yang tadi diungkapkan oleh Rifki.
Kemudian, ketika tafsir sampai pada
surat Thaha, Ust. Yaqin bercerita saat Umar bin Khattab masuk islam.
ketika itu ia dengan kemarahannya ingin membenuh Rasulullah Saw karena banyak
dari orang Quraisy yang masuk islam secara diam-diam. Dengan jantan ia
mengatakan, “Lebih baik aku membunuh Muhammad dan seketika itu bunuhlah aku,
maka yang akan terbunuh hanya ada satu dari setiap golongan, dari pada
peperangan yang akan menewaskan banyak orang”. Ketika ia sampai di tengah
perjalanannya, ia bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah an-Nuhas. Dia adalah teman
dari Umar bin Khattab dalam kekafiran namun sebenarnya adalah muslim yang
menyembunyikan keislamannya. Nu’aim berkata padanya, “Apa yang hendak kau lakukan?”.
“Aku hendak membunuh Muhammad. Tanpa sepengetahuanku golonganku diam-diam
memeluk agama Muhammmad.”. “Wahai Umar, mengapa kau lebih dulu memperhatikan
golonganmu sedangkan keluargamu sendiri diam-diam juga telah memeluk agama
Muhammad.”, jawab Nu’aim. Dengan kagetnya Umar bertanya, “Siapa?”. “Fatimah,
adikmu”, jawab Nu’aim. Emosi Umar benar-benar meluap. Tujuan yang sebenarnya
hendak ke rumah Rasulullah, ia palingkan ke rumah adiknya. Tatkala itu ia
mendengar dari luar rumah suara seseorang yang sedang melantunkan sebuah ayat.
Langsung saja Umar masuk ke dalam Rumah. “Hai Fatimah, apa yang sedang kau
baca?”, tanya Umar dengan wajahnya yang merah. Dengan kaget Fatimah menjawab,
“Bukan apa-apa wahai Umar”. Umar bertanya untuk yang kedua kalinya dengan nada
yang lebih keras. Kemudian dengan lantang dan penuh keyakinan Fatimah menjawab,
“Aku telah memeluk agama Islam dan yang aku baca tadi adalah al-Qur’an, kitab
yang turunkan untuk umat Nabi Muhammad.”. “Tinggalkan agama Muhammad”, kata
Umar seraya menampar pipi adiknya. Langsung dengan sigap Umar merampas
al-Qur’an di tangan Fatimah. Tidak disadari, ia tertarik untuk membacanya. Ayat
per-ayat dari surat Thaha ia baca dengan penuh penghayatan. Sebagai
seorang ahli sastra pada masa itu, ia mengetahui benar bahwa itu bukanlah karya
manusia biasa. Seorang manusia tidak akan pernah bisa membuat sastra seindah
itu, apalagi Muhammad yang ummiy. Kemudian dengan penuh keyakinan, ia
mendatangi Muhammad, bukan untuk membunuhnya tapi hendak mengikrarkan diri
sebagai pemeluk Islam. Subhanallah, sebuah kejadian yang jauh di luar
akal. Inilah bukti bahwa hidayah Allah turun kepada siapa saja yang Ia
kehendaki. Ini pula bukti Allah atas pengkabulan do’a Nabi Muhammad yang
menginginkan agar Umat masuk Islam yang kelak akan menjadi pembela tangguh dari
agama Islam. maka, dua nikmat terbesar yang patut kita syukuri adalah nikmat
iman islam dan nikmat menjadi umat Nabi Muhammad Saw.
----------------
Seminggu yang lalu, terhitung mulai
hari ini tanggal 02 Mei 2015. Hari itu Prof. Ali secara panjang membahas
tentang menulis. Beliau menanyakan kabar tugas menulis dari beliau. Satu
per-satu dari kami ditanya. “Sudah dapat berapa lembar?”, tanya Prof. Ali.
Jawaban beragam kami sampaikan. Ada yang mengatakan baru dapat tiga lembar,
sembilah lembar, sembilan belas lembar, ada pula yang menjawab telah menulis
sebanyak 39 lembar. Dia adalah Nursabila. Kami mengungkapkan kekaguman dengan
irama tepuk tangan untuknya saat Sabila memberitahukan hal itu.
Karena banyak dari kami yang baru
mendapatkan beberapa lembar saja, bahkan ada yang belum menulis sama sekali,
Prof. Ali pun segera menanyakan apa yang menjadi kendalanya. Kami menjawab
dengan keluhannya masing-masing. Ada yang mengatakan malas, susah memulai,
susah mengakhiri, susah menyambungkannya dengan cerita selanjutnya, ada pula
yang mengatakan susah merangkai kata. Satu persatu permasalahan kami dijawab
oleh Prof. Ali. Beliau memberikan kami selembar kertas cara menulis kreatif.
Bagaimana agar mudah menuliskan sebuah kejadian yang bisa menghasilkan beberapa
lembar. Dalam sekali saja mendefinisikan suatu benda, kita bisa menuliskannya
hingga menjadi kalimat yang panjang, bahkan sangat panjang. Caranya adalah
dengan menceritakan benda tersebut dari segala sisi dengan panduan 5W+1H. Apa yang
terjadi? Siapa pelaku peristiwa tersebut? Atau siapa yang menjalaninya? Siapa
yang menjadi korban peristiwa itu? apakah dia orang yang terkenal? Siapa saja
yang terlibat pada peristiwa itu? bagaimana gaya orang itu dalam berbicara,
bertindak atau bersikap? Sebutkan ciri fisik, pakaian, latar belakang
pendidikan, sosial dan sebagainya. Bisa juga disebutkan siapa dalang peristiwa
itu. Setelah apa dan siapa disebutkan, selanjutnya adalah mengenai tempat. Di
mana peristiwa itu terjadi? Berapa jarak tempat itu dari tempat lain yang lebih
dikenal? Jika kesulitan memperkirakan jarak, gunakan perbandingan waktu pejalan
kaki ke tempat itu. sebutkan pula ciri-ciri tempat itu yang meliputi luasnya,
kondisi alam dan adat-istiadat masyarakatnya! Kemudian mengenai waktu. Kapan
peristiwa itu terjadi? Tunjukkan aktualnya jika itu berita. Kejadian apa yang
bersamaan dengan peristiwa itu? apa yang dilakukan kebanyakan orang pada saat
itu? sebutkan keadaan cuaca, suasana masyarakat dan sebagainya pada saat itu!
Apa yang menjadi sebab peristiwa itu? faktor alam atau manusia? Bagaimana
pendapat orang atau penulis tentang penyebab peristiwa itu? bagaiman kronologi
peristiwa itu? Sebutkan respons orang-orang yang terlibat pada peristiwa itu!
Bagaimana komentar, keluhan, ekspresi wajah mereka? Bagaimana kelanjutannya?
Ini memancing pembaca untuk membaca edisi berikutnya.
Selain berpedoman pada 5W+1H,
penggunaan kalimat juga perlu diperhatikan. Prof. Ali menjelaskan beberapa
darinya. Di antaranya, gunakanlah kalimat langsung. Misalnya, Reni mengatakan,
“Saya amat lapar.” “Mengapa saya lakukan kebodohan itu?”, sesal Khatimah.
“Cit..cit..,” suara burung dalam sangkar itu. gunakan juga kalimat tidak
langsung. Misalnya, Reni mengatakan, ia amat lapar. Khatimah menyesal karena
melakukan tindakan yang menunjukkan kebodohannya. Burung dalam sangkar itu
berkicau dengan merdu. Selain itu, bisa juga menggunakan kalimat konkrit (tidak
abstrak) tentang ukuran tempat, ciri orang dan keadaan alam secara jelas.
Misalnya: berapa meter persegi ruangan itu, berapa tinggi, berapa berat
badannya, berapa km jauhnya dan sebagainya. Bisa juga dengan membandingkan
dengan hal yang sudah dikenal orang. Misalnya, “Lapangan itu seluas dua kali
lapangan sepak bola.” “Uang korupsi 100 milyar sama dengan uang seratus ribu
yang ditumpuk setinggi gedung berlantai 80.” Hindari pula pengulangan kata
tentang subyek, predikat atau objek kalimat. Untuk menghindarinya, penyebutan
nama orang bisa diganti dengan menyebutkan ciri-ciri, identitas, hobi, latar
belakang pendidikan dan sebagainya dari orang tersebut. Misalnya, “Pria yang
lahir di Surabaya itu menjabat tangan saya dengan erat..” “Wanita dengan tinggi
badan 180 cm itu mengeluhkan transportasi Surabaya.” Hal ini juga berguna untuk
menyebutkan biodata yang bersangkutan secara bertahap. Hendaklah tulisan itu
hidup dan penuh imajinasi. Maka, belajarlah banyak dari karya orang lain untuk
perbandingan dan memperoleh kekayaan bahasa dan gaya penulisannya.
Saat penjelasan yang dipaparkan oleh
Prof. Ali, aku menuliskan kalimat dalam buku, seperti ini: “I must write.
Everytime when i don’t have activities to spend it. Write anything in your
brain. Just write. Don’t spend your time useless or just for sleeping. Don’t
say that you are busy. You can. If you look writer, is not he/ she busy? He/
she is also busy, moreover he/she is far busier than you. But he/ she can
write. Why can’t you?. Everyone can because of habit. So, make writing
in yout habit and you will be a writer.
Prof. Ali kemudian menceritakan
tentang kedahsyatan sebuah kata-kata. Suatu hari akan diadakan ujian dalam
kelas. Sebelum ujian dimulai, guru menceritakan kepada murid yang akan
menghadapi ujian bahwasanya ujian yang sama dilaksanakan pada tahun sebelumnya
dan tidak ada satupun yang lulus. “Maka berusahalah dengan keras!”, nasehat
guru itu. Setelah membritahukan hal tersebut, langsung saja ujian dimulai.
Namun, ada salah satu murid yang terlambat tidak mendengar nasehat dan cerita
dengan percaya dirinya mengerjakan soal. Sedangkan murid-murid lain yang mendengar
cerita tersebut, mentalnya seketika berubah ciut. Yang ada di benak merea
adalah takut tidak lulus. Setelah ujian selesai dilakukan, apa yang terjadi?
Tidak ada satu murid pun yang lulus dalam kelas itu kecuali satu murid yang
datang terlambat. Begitulah, betapa dahsyatnya efek sebuah kata-kata. “Mental
can down because of a word”, tulisanku dalam buku. “Maka janganlah menulis
itu dibuat beban, tulis saja apa yang ingin kamu tulis. Jangan sekali menghapus
tulisan yang telah tertulis. Bagaimana kamu bisa menghasilkan tulisan kalau
tiap tulisan yang kamu nilai kurang cocok saja langsung seketika itu dihapus
atau dicoret. Tulis saja tanpa menanggapi dulu apa yang telah kamu tulis. Entah
nyambung atu tidak nyambung lanjutkan saja. Kemudian barulah setelah seminggu
kamu koreksi”, jelas Prof. Ali dengan mencontohkannya menulis di atas tembok.
Kemudian, sesekali di sela-sela
pembicaraannya Prof. Ali mengingatkan kembali agar kami mencatat poin-poin
penting yang telah disampaikan beliau. Ada salah satu dari kami yang
menceritakan permasalahannya. Ia mengatakan bahwa ia menarget dirinya untuk
membaca buku, bahkan seringkali ia terus saja belajar meski terasa lapar.
Kemudian Prof. Ali berkata, “Lebih baik kamu bodoh tapi hidup dari pada kamu
pintar tapi mati”. Ada lagi yang bercerita tentang kendalanya menulis. Ia
berkata bahwa selalu saja ia mengantuk ketika baru saja menulis. Kemudian Prof.
Ali mengatakan, “Ngantuk jangan kamu besar-besarkan. Bukan hanya kamu yang
merasa ngantuk. Coba tanya teman-temanmu, apa mereka juga ngantuk? Tentu saja.
Jadi berusahalah untuk menahan kantukmu itu. Sedikit-sedikit pasti bisa”.
Kemudian Prof. Ali menambahkan, “Kamu pintar, tapi tidak bisa mengekspresikan
kepintaranmu buat apa?”. Aku berpikir dalam tentang kata-kata itu.
Setelah Prof. Ali memberikan banyak
motivasi tentang menulis, kemudian dilanjutkan dengan ulangan yang kelima. Ada
yang berbeda denganku saat itu. Aku merasa kurang siap. Aku pun menjawab soal
dengan banyak sekali keraguan. Hingga akhirnya saat pengkoreksian, yang ketika
itu Prof. Ali menginginkan kami sendiri sebagai yang mengerjakan soal untuk
mengoreksi, aku mendapatkan nilai yang lebih rendah daripada minggu lalu,
bahkan nilai yang terendah dari minggu-minggu sebelumnya. Ust. Yaqin spontan
bertanya, “Kenapa Lia? Saat soalnya mudah tapi kenapa nilainya tambah turun?”.
Aku hanya diam dan tersenyum. Setelah nilai dari teman-teman distorkan,
ternyata nilai terendah dari teman-teman pada hari itu hanya selisih lima angka
di bawahku. Kemudian aku bertanya pada diriku sendiri, mencoba
mengingat-ngingat apa yang sebenarnya terjadi. Aku pun mempunyai dugaan. Apakah
ini karena aku tidak meminta do’a restu kepada kedua orang tuaku, sebagaimana
yang selalu kulakukan saat akan ujian atau hal-hal tertentu lainnya? Ya Allah, padahal
ketika itu aku meminta do’a kepada mereka. Namun bukan saat akan ulangan mata
kuliah Tafsir BKI, tapi sebelum Ulangan Tengah Semester intensif bahasa Arab.
Setelah UTS tersebut, aku ingin kembali meminta do’a kepada mereka untuk
ulangan selanjutnya tapi tidak jadi aku lakukan. “Hmmm...”, gumamku dalam hati.
Kinilah baru kusadari betapa pentingnya do’a kedua orang tua, bukan hanya
sebuah rutinitas semata.
Setelah diketahui siapa yang
mendapatkan nilai tertinggi pada ulangan hari itu, Prof. Ali memanggilku karena
minggu lalu mendapatkan nilai tertinggi juga, namun belum sempat foto bersama
beliau. Kemudian aku pun maju ke depan dan foto bersama mereka. aku dan Jajang
di tengah-tengah beliau berdua. Ust. Yaqin berada di sebelah kanan Jajang dan
Prof. Ali berada di sebelah kiriku. Selesai foto, Prof. Ali menunjukkan sebuah
buku saku yang baru saja ditulisnya, yang berjudul “al-Aayaat al-Qur’aaniyyah
fii an-Nur wa as-Syifa’ li al-Quluub”. Beliau menyusun ayat-ayat al-Qur’an
yang mempunyai keutamaan-keutamaan dalam hal nur (cahaya) dan obat hati.
Kemudian Prof. Ali bertanya kepada kami, “Siapa yang sering kali mendapatkan
nilai tertinggi?”. Teman-teman menjawab, “Febi”. Ada juga yang mengatakan,
“Lia”. Aku pun mengangkat tanganku kemudian maju ke depan kelas dan seketika
itu Prof. Ali bangkit dari tempat duduknya dan memberikan buku tersebut padaku.
Alhamdulillah. Sebuah nikmat besar bagiku. Apalagi mendengar tambahan
dari Prof. Ali, beliau mengatakan bahwa aku adalah mahasiswa satu-satunya yang
mendapatkan buku itu. Trimakasih Allah. Tak henti-hentinya nikmat yang Engkau
berikan.


Saat jam telah menunjukkan pukul sepuluh pagi, kemudian Prof. Ali pamit untuk keluar dan kuliah diteruskan dengan diskusi yang dibimbing oleh Ust. Yaqin. Dalam diskusi tersebut, beliau mengatakan bagaimana perhatiannya Prof. Ali ketika mendengarkan ceramah setelah sholat dhuhur di masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya. Meski dalam hal ilmu Prof. Ali sudah mumpuni, dalam bahasa jawanya, namun dengan seksama beliau memperhatikan sebagaimana beliau benar-benar butuh sekali terhadap ilmu yang disampaikan oleh penceramah tersebut. Kemudian aku mencatat dalam bukuku, “If you wanna be a good writer, be a good reader first. And if you wanna be a good speaker, be a good listener/ audience first”.
“Give thanks to Allah in every
your activities. If you don’t do it, actually you have been an arrogant person”.
Bersyukurlah kepada Allah di setiap aktivitas yang kamu lakukan, dimanapun dan
kapanpun. Jika hal itu tidak kamu lakukan, maka kamu adalah orang yang sombong.
Mengapa? Karena segala yang ada dalam hidup kita itu merupakan anugrah dari
Sang Maha Kuasa. Tanpa anugrahnya, kita tidak akan bisa melakukan apapun,
bahkan takkan bisa hidup. “Keep in pray!”, teruslah berdo’a.
Kemudian ada salah satu dari kami
yang bertanya. “Ustadz, dzikir yang sebaiknya kami perbanyak itu alhamdulillah
atau astaghfirullah?”. Ust. Yaqin menjawab, “Dzikir itu tergantung
kenyamanan orang yang mengucapkannya. Sebagai contoh, khalifah Abu Bakar
Ash-Shiddiq lebih mengutamakan berdzikir laa ilaaha illa Allah, karena
ia merupakan salah satu assabiqunal awwalun yang baru saja menemukan
Tuhannya. Maka yang dia ucapkan selalu kalimat tauhid. Umar bin Khattab lebih
mengutamakan dzikir Allahu Akbar, karena dia merupakan orang yang sangat
tegas, pemberani, perkasa dan jago bergulat, namun dibalik keperkasaannya itu
ia mengakui bahwa ada satu Dzat yang Maha Besar. Ia tidak apa-apanya dibanding
Dzat tersebut. Dialah Allah. Utsman bin Affan selalu berdzikir alhamdulillah
dikarenakan banyak sekali nikmat Allah yang dikaruniakan kepadanya. Ia adalah
orang yang sangat dermawan juga pemalu, bahkan malaikatpun malu padanya. Sehingga
ia mendapat julukan Dzun Nurain karena menikahi dua putri Rasulullah
Saw.. Kemudian Ali bin Abi Thalib, ia gemar sekali berdzikir subhanallah
karena banyak sekali keutamaan yang ada dalam dirinya, sehingga ia selalu
menyucikan Allah. Ia adalah sepupu Rasulullah yang sangat cerdas, ia termasuk
golongan assabiqunal awwalun yang termuda. Ia juga berhasil menikahi
putri Rasulullah yang selalu suci, karena semasa hidupnya ia tidak pernah haid,
dialah Fatimah Az-zahra.
Menbahas tentang Ali bin Abi Thalib
dan Fatimah Az-zahra, Ust. Yaqin ingat tentang tentang kisah cinta antara
keduanya. Kemudian beliau menceritakannya kepada kami. Ust. Yaqin mengungkapkan
bahwa tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa Ali bin Abi Thalib menaruh
hatinya pada Fatimah. Bahkan syaitan pun tidak mengetahui. Maka suatu hari Ali
bin Abi Thalib berkelana untuk mencari harta sebagai mahar saat menyunting
Fatimah. Meski kadang hatinya minder karena banyak juga pria yang dipandangnya
lebih baik daripada dirinya juga menginginkan untuk menjadi suami dari putri
Rasulullah tersebut, namun ia tetap gigih dalam usahanya menjadi menantu
Rasulullah. Akhirnya di perantauannya tersebut ia mendengar kabar bahwa
Rasulullah menolak pinangan orang-orang yang dikhawatirkannya, maka ia pun
kembali setelah mendapatkan apa yang diinginkannya. Dengan keyakinan hatinya,
ia pun meminang Fatimah dengan mahar baju perang. Fatimah juga Rasulullah Saw.
pun menerima pinangan Ali. Dan di malam pertama pernikahannya, Fatimah
mengatakan suatu hal kepada Ali. “Aku ingin memberitahukan suatu hal padamu
wahai Ali. Aku hanya mencintai seseorang sejak pertama kali kumelihatnya.”. Ali
menjawab, “Lalu mengapa kau menerima pinanganku wahai Fatimah, sedangkan kau
hanya mencintai orang itu.”. Dengan senyum Fatimah menjawab, “Seseorang itu
tiada lain adalah kau wahai Ali.”. “Subhanallah....” teman-teman
bersorak bersama-sama. Kemudian Ust. Yaqin mengatakan, “Sebaik-baik orang yang
mencintai adalah yang menyimpannya dalam hati, bukan seperti pemuda sekarang
ini yang malah mengumbar-umbar perasaannya, padahal belum tentu itu cinta yang
dirasakannya.”
“Sesuatu yang luar biasa akan
menjadi biasa jika berulang”, kata Ust. Yaqin. Atau dengan kata lain.
”Biasakanlah, maka akan terasa mudah”. Memang benar, kadang paksaan itu
penting. “Attarbiyatu awwaluha at-takalluf tsumma jaa-at atta-alluf”,
pengajaran itu diawali dengan paksaan, barulah setelah itu akan datang
kelembutan/ kemudahan. Berbeda dengan masuknya sesorang pada suatu agama. Allah
berfirman: “Laa ikrooha fid diin”, tidak ada paksaan dalam memeluk suatu
agama. Keagungan ayat ini diapit oleh dua ayat yang dimulai dengan kata Allah.
Itu menunjukkan bahwa ayat ini mengandung nilai yang amat berharga. “Bukan
main-main”, tutur Ust. Yaqin.
Kemudian bahasan kami beralih
masalah poligami. Tidak sedikit para lelaki sekarang yang
menggembor-nggemborkan tentang bolehnya poligami, bahkan sebuah sunnah Nabi.
Padahal jika dilihat dari sejarah Nabi Muhammad yang melakukan poligami,
semata-mata dilakukannya bukan karena nafsu, tapi karena tuntutan yang
mengharuskannya untuk menikah lagi agar bisa melindungi perempuan yang dinikahi
tersebut. Jika kita menengok sejarah, dua perempuan yang dinikahi Nabi bukan
atas dasar paksaan keadaan adalah Siti Khadijah dan Siti Aisyah. Maka kalimat
yang benar tentang poligami bukanlah merupakan sunnah Rasul yang menjadi solusi
tapi solusi yang menjadi sunnah Rasul. Keinginan para lelaki sekarang untuk
poligami juga dikuatkan dengan alasan banyaknya jumlah perempuan sekarang
dibandingkan laki-laki. Padahal jika kita pikirkan kembali, hasil pikiran
tersebut terlalu menyeluruh. Memang benar, jumlah perempuan lebih banyak
sekarang ini, namun masih banyak perempuan maupun laki-laki yang belum
mempunyai pasangan. Dengan itu bisa diambil kesimpulan bahwa meski semakin tinggi
perbandingan antara jumalah perempuan dengan laki-laki, tidak bisa divonis
bahwa tidak ada perempuan yang kehabisan pasangan. Pasti di jarak terdekat
sekalipun selalu ada laki-laki yang belum mempunyai pasangan. Maka poligami
hendaklah dilakukan oleh seseorang yang benar-benar melakukannya bukan karena
nafsu, tetapi untuk menyelamatkan atau melindungi perempuan yang dinikahinya.
----------------
Saat aku sedih karena banyaknya
masalah yang kuhadapi, aku teringat dengan kata-kata dari Prof. Ali. Pernah aku
merasa seolah-olah menjadi hamba Allah yang paling menderita. Padahal, saat aku
melihat keluar, banyak sekali di antara mereka yang di luar sana merasakan
ujian yang lebih besar dariku, bahkan masalahku tidak ada apa-apanya dibanding
yang mereka alami. Namun mereka bisa tersenyum. Prof. Ali pernah mengatakan:
”Sedih itu bisa menurunkan potensi kesuksesanmu”. Masalah itu bukan alasan
untuk menjadikan diri selalu sedih meratapi keberadaannya. Masalah adalah
sebuah ujian yang harus kita hadapi dengan kesabaran. Jika kita mampu maka
selesaikanlah, jika tidak maka bertawakkallah pada Yang Maha Kuasa. Bisa saja
dengan adanya masalah itu kita diminta Allah untuk selalu mendekatkan diri
padanya. Aku teringat pada sebuah cerita. Ada seorang hamba Allah yang diuji
oleh Allah dengan ujian sangat berat. Hamba itu terus bersabar dan terus
berdo’a, memasrahkan diri di setiap sujudnya. Namun cobaan itu terus saja
diberikan Allah padanya. Bukan karena Allah benci dan murka kepada hamba-Nya
tersebut, tapi karena apa? Karena Allah benar-benar cinta padanya. Allah senang
saat hamba tersebut mengadu dan memohon pertolongan pada-Nya. Maka banyaknya
masalah yang ada di hidup kita sekarang, hadapi saja. Kita punya Tuhan, Allah.
“Selama Allah masih menjadi Tuhan, semua akan baik-baik saja”, kata ustadzku
dulu di pondok.
Apa yang ada dalam diri kita
sekarang, syukurilah. Jangan sampai kita termasuk hamba yang kufur terhadap
nikmat-Nya. Meski kita belum bisa menjadi yang kita inginkan, berusahalah.
“Apapun kamu, siapapun kamu, aku bangga denganmu”, kata Prof. Ali. Ingatlah “Al-ajru
biqodril masyaqqoh”, balasan itu tergantung usaha (kesulitan). Lakukanlah
segala sesuatu yang ada dengan sebaik-baiknya, itu lebih baik dari pada terus
mengharapkan sesuatu yang tinggi tanpa melakukan usaha yang terbaik. “Man
rodhiya biqodo-illah rodhiya Allahu ‘anhu”, barang siapa yang ridho dengan
segala ketetapan Allah, Allah akan meridhoinya.
----------------
Aku teringat dengan kata-kata
pertama kali Prof. Ali masuk ke kelas kami. Beliau meminta kami untuk
menuliskan satu kalimat, sebesar mungkin. “Hari ini saya tidak seperti kemarin.
Hari ini saya jauh lebih baik dari pada kemarin”. Dengan kata-kata itu, apa
yang kami lakukan sekarang tidak boleh sama dengan kemarin, harus lebih baik.
Jika kemarin dilakukan kurang semangat maka sekarang harus semangat. Jika
kurang sungguh-sungguh maka sekarang harus sungguh-sungguh. Dan apabila kemarin
telah semangat dan sungguh-sungguh, sekarang harus lebih daripada itu.
Kemudian Prof. Ali menambahkan,
“Hidup ini seperti menaiki sepeda. Kamu harus terus bergerak, jika kamu
berhenti bergerak maka kamu akan jatuh”. Kita tidak boleh diam di tempat.
Lakukanlah apa yang sebaiknya kita harus lakukan.
“Jika ukuran kebaikan dinilai dari
materi, maka hanya orang kaya yang menjadi orang baik”. Padahal, semua manusia
di dunia ini memiliki potensi kebaikan. Maka kebaikan tidaklah selalu dan
tidaklah pula seharusnya dinilai dari materi.
Aku teringat lagi dengan kata-kata
Prof. Ali saat beliau menanyakan Mizan merk polpen yang dipegang tanpa
melihatnya kembali. Mizan pun tidak tahu. Kemudian beliau meminta Mizan untuk
melihatnya dan ketika itu barulah Mizan menyadari merk polpennya sendiri
kemudian menjawab pertanyaan Prof. Ali. “Kadang orang tidak tahu apa yang ada
dalam dirinya meskipun bertahun-tahun ada dan dekat dalam dirinya”, kata
beliau. “Iya ya?”, aku membenarkannya. Kadang kita tidak tahu akan potensi yang
kita miliki padahal potensi tersebut telah melekat dalam diri kita sejak lama.
Membahas tentang potensi, Prof. Ali
pernah mengatakan, “Kamu diberi ilmu bukanlah untuk dirimu sendiri tapi juga
untuk orang lain. Jika kamu memiliki ilmu tapi masih terus saja diam, maka apa
yang akan kamu berikan pada orang lain? Berbagi ilmu itu bukan hanya dengan
perkataan. Kalau menurutmu berbagi ilmu dengan ungkapan kata-kata itu sulit,
maka menulislah. “Tulisanmu, latihan mengekspresikan dirimu. Membahagiakan
orang lain tidak mesti dengan kata-kata, menulislah”, ucap Prof. Ali. Yang
perlu diingat adalah “ukhrijat li annas”. Kita diciptakan untuk orang
lain.
-------------------
Tepatnya pada tanggal 29 April 2015,
setelah Ulangan Tengah Semester mata kuliah Pemahaman Individu, dengan suara
lantang ketua angkatan kami Jajang Supriatna menyampaikan sebuah pengumuman.
Meski suasana yang begitu gaduh karena kebanyakan dari kami yang akan keluar
kelas, ia berdiri di depan kelas sambil menatap wajahnya ke layar HP, membaca
sms yang isinya “Saya putuskan bahwa hari Senin depan harus sudah menyetorkan
tulisan sebanyak 30 lembar”. “Allah............”, hatiku rasanya tertimba batu
yang rasanya berat sekali. Tidak hanya hati, badanku terasa lemas tak berdaya.
Kulangkashkan kakiku menuruni anak tangga sebelah utara Fakultas Dakwah dan
Komunikasi gedung A menuju Gang Dosen untuk membeli makanan. Meski nasehat dan
motivasi Prof. Ali telah membuatku yakin bahwa aku pasti bisa menulis sebanyak
50 lembar dengan spasi 1, namun rasanya hari itu terlalu mendadak. Aku
terbayang dengan sisa 5 hari dengan jumlah halaman sebanyak 50 lembar. Itu
artinya, aku harus menulis setiap harinya sepuluh lembar. Sebagai anak yang
belum mempunyai bakat menulis, itu merupakan sebuah hal yang sangat amat berat
bagiku. Aku membayangkan setelah ini hariku tidak akan terbuang satu jam pun
kecuali untuk istirahat dan tidur, sisanya adalah untuk kuliah, kegiatan lain
dan tentunya menulis. Jalan yang kutempuh saat menuju Gang Dosen dan membeli
makanan terasa tanpa tujuan. Aku hanya berjalan tanpa memikirkan satu hal pun
selain “Bisakan aku? Hanya dalam waktu lima hari menulis sebanyak 50 lembar?
Apa yang akan aku tulis? Apalagi aku yang saat ini belum mempunyai tulisan
selembar pun?”. Aku takut diliputi rasa cemas yang tak karuan.
Setelah mendapatkan apa yang kucari,
aku pun segera kembali ke Pesmi dan makan siang. Kucoba lepaskan segala beban
yang ada di otakku juga hatiku. Aku mengambil laptop dari lemari yang bertempat
di depan tempat tidurku dan kuletakkan di atas meja. Kubuka perlahan dan masih
saja otakku dicemaskan dengan pikiran-pikiran tadi. Aku diam sejenak,
memikirkan kata apa yang hendak dulu akan kutulis. Akhirnya kedua tangan
kuletakkan di atas keyboard dan mulai mengetik apa yang ada di otakku, “Bismillahirrohmanirrohim”.
Aku terhenti sampai di sana, kembali berpikir kata selanjutnya yang akan
kuisikan dalam lembaran itu. Kemudian terlebih dahulu ku-klik toolbar
tempat mengatur font huruf dan ukuran. Kuatur satu persatu, tak lupa toolbar
untuk memilih spasi 1. Kalimat pertama, coba aku ketik, diteruskan beberapa
kalimat selanjutnya. Aku terus mengetik tanpa mengoreksi terlebih dahulu.
Sebentar kuberhenti, berpikir, sebentar kuketik lagi. Sesekali kulihat jam yang
berada di pojok sebelah kanan bawah laptopku. Aku kaget. Aku belum mendapatkan
satu lembar tetapi sudah menghabiskan waktu hampir satu jam. Langsung aku
berpikir, “Bagaimana aku bisa menyelesaikan tulisan ini? Akankah tiap hari
aktivitasku akan selalu di depan laptop dengan tangan yang terus mengetik
sedangkan pikiranku terbang melayang mencari sesuatu yang hendak kutulis? Jika
kuberikan waktu dua jam untuk satu lembarnya berarti 10x2 jam setiap harinya?”.
Subhanallah. Akhirnya ketika itu kucukupkan diri untuk mengetik dan
hanya menghasilkan satu halaman karena otakku yang sudah tidak kuat lagi.
Kuakui sebenarnya aku bisa melakukannya tapi karena ketika itu aku terlalu shock
dan terus saja memikirkan hal buruk yang akan terjadi maka aku pun
memutuskan untuk tidak melanjutkannya terlebih dahulu. Aku butuh istirahat dan
pikiran yang fresh untuk memulainya kembali.
Tak terasa aku tertidur. Hingga
beberapa waktu kemudian kulihat HP yang berada di sampingku bergetar. Tertulis
nama ibu. Aku pun mengangkatnya. Hampir satu jam aku berbincang-bincang dengan
ibu. Aku menceritakan segala hal yang memberatkan pikiranku ketika itu. Aku
juga mengatakan padanya kalau aku ingin pulang. Ibu menjawab, “Nak pengen
mantuk nggeh mantuk”. Kalau mau pulang, pulang saja, katanya. “Nggeh bu”,
jawabku. Masih dalam sambungan telepon, di akhir perbincangan tak lupa ibu
menanyakan keadaanku yang sejak kemarin mengatakan kurang enak badan. Ibu
kembali mengingatkanku untuk makan teratur, minum obat dan sebagainya. Karena
memang akhir-akhir ini penyakit maag-ku sering kambuh. Apalagi ditambah
pusing yang tak tau kenapa juga turut mengganggu aktivitasku terakhir ini.
Selesai menelepon, aku berpikir kembali.
“Pulang gak ya?”, tanyaku pada diri sendiri. Kalau aku pulang,
bagaimanana dengan tugasku sebanyak ini? Apalagi senin juga ulangan terakhir.
Kalau aku di rumah, pasti selalu ada alasan untuk ku tidak mengerjakannya.
Kalau tidak pulang, tapi aku ingin pulang. Sudah satu bulan aku belum
menginjakkan kaki di desaku, Karangdowo, Sumberrejo, Bojonegoro. Tak lama
kemudian Hpku bergetar lagi. Tertulis nama temanku. Ia mengatakan bahwa besok
adalah deadline pengumpulan cerpen. Aku diharuskan untuk menulis. “Ya
Allah........”, rasanya pikiranku tambah menumpuk dengan tugas mana yang akan
kukerjakan terlebih dahulu. Kukatakan padanya kalau aku tidak bisa mengumpulkan
cerpen besok, kalau memang benar-benar harus besok maka aku akan mencari
pengganti temanku lain untuk membuatnya. Namun dia membalas, “Tidak apa-apa
kalau misalnya terlambat, tapi jangan lama-lama ya”. Akhirnya aku menerimanya
dan akan mengerjakannya setelah aku selesai menulis tiga puluh lembar ini.
Karena terlalu berat jika aku memikirkan dua tugas sekaligus.
Aku mengambil Hpku. Kubuka
menu sms dan kutuliskan, “Jadi pulang mbak?”. Kukirim sms itu ke salah satu
teman yang kemarin mengajakku pulang. Tak beberapa kemudian Hpku berdering. Dia
membalas smsku. “Jadi, kapan?”, jawabnya ditambah dengan pertanyaan baru. Aku
berpikir ulang lsudah separagi. Aku benar-benar ingin pulang. Akhirnya aku pun
memutuskan untuk membalasnya “Jum’at pagi ya”. “Iya”, jawabnya. Setelah itu pun
keputusanku bulat untuk pulang. Ditambah lagi dorongan dari teman-teman sekamarku
karena mereka semua pulang minggu ini. Maka malam jum’at kali ini aku sendiri
di dalam kamar. Aku habiskan malamku untuk mengetik hingga tengah malam.
Setelah mataku sudah tidak kuat lagi akhirnya kuputuskan untuk tidur dan
kulanjutkan besok lagi.
----------------
Jum’at, tanggal 01 Mei 2015 pukul
06.00 aku masih dalam posisi yang sama, duduk di atas kursi kayu menatapi
laptop dan terus saja menggerakkan jemariku di atas papan-papan tombol. Disaksikan
oleh sang surya yang saat itu berusaha menampakkan sinarnya seraya meyapaku
dibalik cendela kamar. Kucurahkan segala
yang ada di benakku dan berharap saat itu aku menghasilkan beribu deretan kata.
Kuingin saat di rumah nanti tugas yang kali ini menjadi alasanku untuk menunda kepulanganku sudah setengah selesai. Sesaat
aku teringat dengan ulanganku besok senin. Tentunya aku tidak mungkin pulang
sebelum mempunyai materinya. Akhirnya kucukupkan jari-jariku yang sejak tadi
mengetik dan segera mengunjungi kamar Nadia untuk meminta file. “Assalamu’alaikum”,
ucapku di depan pintu. “Wa’alaikumussalam”, jawabnya. Kubuka pintu dan
kudapati teman se-lantai-ku di Pesantren Mahasiswi itu sedang melakukan hal
yang sama dengan yang kulakukan sejak tadi, ya mengetik. Tak perlu basa-basi
aku segera menyerahkan flashdisk di tanganku padanya untuk meminta file
seraya bertanya, “Sudah dapat berapa lembar Nad?”. “Baru satu lembar”,
jawabnya. “Wah... baru satu lembar saja tidak terlihat satu wajah risau pun
dari pancaran mukanya, tenang. Tapi kenapa aku yang sudah lebih banyak darinya
masih merasa kurang yakin bisa menyelesaikan? Hmm... tapi memang sih, dia sudah
bisa dibilang ahli kalau soal menulis. Tak perlu dipertanyakan lagi itu. Ya
sudahlah, tidak ada alasan bagiku untuk menyerah.” Ungkapku dalam hati dengan
panjangnya. Masih belum sadar dengan apa yang ku lamunkan, tiba-tiba ia
menyerahkan flashdisk-ku. “Sudah?”, tanyaku agak kaget. Dengan khasnya,
ia hanya memberi isyarat satu anggukan membenarkan pertanyaanku. Langsung saja
kuucapkan terimakasih dan berlalau dari kamarnya dengan cepat menuju kamarku. Satu
persatu margin kuedit dan mulai kupilah materi-materi yang akan menjadi bahan
soal besok Senin. Kurang lebih hampir setengah jam dengan nikmatnya kujalani
aktivitas itu. Memang, itulah salah satu hal yang paling aku gemari. Rasanya
tidak puas kalau membiarkan sedikit saja ketidakrapian pada tampilan word
yang akan aku print. Setelah semua telah kuanggap layak untuk dicetak, aku
pun men-copy-nya ke flashdisk. Karena waktu semakin dekat dengan
jam 8 dimana janjianku dengan teman untuk pulang, aku pun segera berkemas dan
pergi ke kamar musyrifah di lantai empat untuk nge-print. Kemudian aku
kembali ke kamar sebentar. Setelah semuanya siap, aku kembali ke kamar
musyrifah untuk mengambil file yang aku print dan langsung pulang
karena telah ditunggu temanku.
Sebelum aku naik mobil pick-up,
aku dan temanku terlebih dahulu pergi ke Bank BTN dalam kampus. Aku mengambil
beberapa uang yang ada di sana untuk ongkosku pulang. Kulewati jalanan yang
becek bekas hujan semalam. Setelah aku mengambil uang lewat mesin ATM, aku
segera menuju jalan raya. Beberapa menit kemudian aku melihat mobil pick-up
warna biru yang mendekatiku dari arah utara. Aku pun segera naik dan kemudian
mobil berjalan mengantarkanku menuju terminal Bungurasih.
Karena aku naik mobil pick-up,
maka aku tidak langsung turun ke terminal. Aku turun di tepi jalan dan harus
menyeberang melewati jembatan penyeberangan jalan terlebih dahulu untuk sampai
ke terminal. Di jembatan, kulihat ada beberapa pengemis tua yang duduk di sana menunggu
para orang dermawan memberikan sedikit hartanya. Salah satu dari mereka sedang
asyik membaca koran. “Hemmm”, gumamku dalam hati. “Meski ia menjadi pengemis,
tapi masih saja berkeinginan hati untuk tetap mengetahui perkembangan
pemerintahan. Bagaimana denganku yang kini menjadi seorang mahasiswa?”, aku
masih mempertanyakan diriku sendiri. Setelah kuturuni jembatan, aku langsung
masuk ke gerbang terminal yang cukup jauh dari tempat berhentinya bus kota. Di
tengah perjalanan aku melihat bus Bojonegoro yang melintas berbeda jalur dengan
arah kuberjalan. Terlihat di jendela bus para penumpang yang telah memenuhi
kursi. Aku pun terus berjalan memasuki area terminal hingga kutemukan tulisan
“Bojonegoro” di plank atas bus.
Ternyata, tidak ada lagi bus dengan
tujuan Bojonegoro di sana. Aku hanya melihat banyak orang yang juga menunggu
datangnya bus. Tiba-tiba aku merasakan perutku keroncongan, mungkin karena aku
belum sarapan pagi tadi. Sambil menunggu bus datang, aku pun membeli satu porsi
makanan yang dijual disekitarku. Inginku makan langsung, tapi karena takut jika
tiba-tiba bus datang, jadi aku hanya memegang makanan itu sambil berdiri di
tepi parkiran bus. Hingga beberapa menit aku hanya berdiri menunggu bis.
Akhirnya aku putuskan untuk makan terlebih dahulu. Belum separuh aku makan,
tiba-tiba bus datang. Dengan segera aku menyudahi makananku dan ikut berdesakan
naik bus. Alhamdulillah, aku mendapatkan kursi untuk duduk. Setelah itu
kulanjutkan makanku. Selesai makan aku membuka kertas materi untuk ulangan
Tafsir BKI besok Senin. Aku coba menahan rasa kantukku dan terus membaca hingga
tanpa sadar akhirnya polpenku jatuh dan aku pun tertidur. Sampai di tengah
perjalanan aku baru menyadarinya. Kemudian aku lanjutkan membaca sampai tiba
waktunya aku untuk turun.
Turun dari bus, aku melihat dari
kejauhan seseorang yang tidak asing lagi di mataku, ibu. Dengan sepeda motor
yang biasa dinaiki itu, aku dijemput menggunakannya. Perlahan aku naik di
belakang ibu. Kemudian dikendarainya sepeda motor itu dengan kecepatan sedang.
Hanya seperempat jam aku telah sampai di depan rumah. Bapak, adik, nenek,
kakek, paman dan bibi telah menungguku di sana. Meski hanya penyambutan
sederhana, yakni senyuman dan jawaban salam serta kecupan tangan mereka, namun
rasa bahagia karena bisa berkumpul bersama mereka merupakan kebahagiaan yang
tiada harganya. Aku masuk rumah seolah tamu yang amat mereka mulyakan. Aku
ditawari makan, minum, jajan dan lainnya. “Beginilah kalau orang yang jarang
ada di rumah”, kataku dalam hati dengan senyum khasku.
Ku lalui dua hariku di rumah dengan
banyak istirahat, karena memang kondisi badanku yang kurang baik. Kuceritakan
pengalaman-pengalamanku di Surabaya kepada ibu dan adikku juga kepada temanku
yang ketika itu bermain ke rumah. Aku bercerita tentang keadaanku di Surabaya
yang sangat aku syukuri. Berkali-kali aku bilang bahwa aku beruntung sekali
berada di Kota Pahlawan ini, tepatnya di kampus UIN Sunan Ampel Surabaya. Di
sini aku mengetahui banyak hal dan bertemu dengan orang-orang yang hebat. Semua
teman-temanku ramah dan bersahabat. Meski kita berbeda asal, namun perbedan itu
justru yang lebih membuat kita semakin akrab. Kita bisa bertukar pengalaman dan
ilmu dari berbagai daerah yang berbeda. Subhanallah, indahnya bersaudara
dan berbagi.
Di rumah, aku meneruskan tugas
menulisku hingga mendapatkan 28 halaman. Lembaran terakhir kusisakan untuk di
Surabaya setelah aku sampai di sana. Dan kini, setelah aku sampai, aku mulai
mengetik. Aku teringat saat naik bus beberapa jam yang lalu ketika akan ke Surabaya.
Aku melihat orang-orang yang berada di dalam bus dan orang –orang di luar bus
yang terlihat dari balik jendela. Kulihat mereka mempunyai tujuan yang berbeda.
Posisiku yang saat itu berdiri karena tidak mendapatkan tempat duduk, tentu
mempunyai pikiran yang berbeda dengan mereka yang mendapatkan tempat duduk dan
mereka yang tidak naik bus. Subhanallah, aku melihat kekuasaan Allah
ketika itu. Dalam satu kejadian, dalam ruang dan waktu yang sama tapi mempunyai
hikmah yang berbeda-beda bagi setiap yang mengalaminya.
---------------------------------------------***--------------------------------------------
Senin, 04 Mei 2015 di ruang D1.203.
Tanganku
seakan menggenggam secuil es batu. Dingin sekali. Entah cemas, gugup, takut
atau hanya sekedar efek dari AC yang berada tak jauh dari tempat dudukku. Tapi
yang pasti aku sedang menunggu kedatangan seseorang yang kan meneliti hasil
tulisanku 30 lembar itu. Jantung pun semakin berdegup kencang saat kulihat
pintu di depan pandanganku dengan sendirinya terbuka, disusul seorang pria
dengan wajah tak asing lagi. Namun ternyata bukan dialah penyebab bimbangku.
Dialah Ust. Yaqin. Aku agak sedikit lega, dan akhirnya benar-benar lega saat
ada pemberitahuan bahwa Prof. Ali tidak masuk hari itu. Sebenarnya kerugian juga
jika beliau tidak hadir, karena pasti akan banyak ilmu yang seharusnya bisa aku
dapatkan. Tapi karena begitu cemasnya maka rasa itu tiba-tiba sirna saat yang
kutakutkan tidak akan terjadi. Aku sendiri bingung dengan yang kurasakan.
Mengapa aku harus takut? Padahal aku sudah menyelesaikan 30 lembar dengan tepat
waktu sesuai yang diperintahkan. Mungkin aku terlalu takut dengan komentar yang
akan diberikan. “Wah.. sungguh salah pikiranku ini.”, ungkapku sekarang.
Baralih
dari pikiran itu, kini saatnya adalah menimba imu dari Sang Ustadz lulusan dari
Kairo, Mesir. Meski sudah beberapa bulan ilmunya ditularkan pada kami, namun
masih terus saja hal-hal baru selalu bisa dipetik darinya. Dan meskipun mata
kuliah Tafsir Bimbingan dan Konseling Islam telah selesai sekaligus
ujian-ujiannya, hal itu tidak menjadi alasan untuk memberhentikan kegiatan
belajar bersama kami. Subhanallah, alhamdulillah.
---------------
Sabtu, 09 Mei
2015.
Kubuka
mataku perlahan. Dinginnya udara malam telah mengusik ketenangan tidurku. Kupandangi
sekitar, tak asing bagiku. Yah, suasana yang sama sebelum aku terlelap.
Tumpukan kertas putih yang bertuliskan ayat-ayat al-Qur’an masih berada di atas
tanganku. Ternyata baru kusadari, aku ketiduran. Segera kuraih HP yang tak jauh
dari jangkauanku. Pukul 01.47. Aku kaget. Langsung dengan sekuat tenaga
kuangkat tubuhku melawan keinginan diri untuk kembali terlentang. Kutahan
mataku yang masih mengantuk untuk memandangi tulisan di kertas putih itu. Meski
buram, namun perlahan akhirnya jelas. Kulanjutkan sebentar hafalanku tadi
malam, mencoba mengingat ayat yang telah kumasukkan dalam memoriku. Saat kurasa
cukup mengulang hafalanku, kulangkahkan kaki menuju kamar mandi yang berada 10
meter dari pintu kamarku. Kutengok kanan, kiri, tak bersuara, sepi. Tanpa
menunggu orang lain menemani, aku langsung menyucikan tubuhku untuk menghadap
Sang Ilahi.
Beberapa jam telah berlalu, saatnya waktu
yang kutunggu hadir di depan mata. Yah, asalan
mengapa aku dari semalam sibuk dengan kertas putih yang selalu berada di
genggamanku. Hari ini adalah UAS tahsinul Qur’an. Dari seluruh ayat al-Qur’an
tentang BKI yang telah dipelajari selama satu semester, akan ditentukan
beberapa yang harus dihafalkan. Tidak hanya sekedar menghafal, tartil Qur’an
juga dinilai. Maka pada UAS ini, diharapkan untuk mengahfalkan ayat-ayat yang
berjumlah 50 lebih dan mempersiapkan tartil terbagus ketika menyetorkannya.
Sesuai kesepakatan jauh-jauh hari sebelum
ditentukannya hari ini dan menganut pada usulan Prof. Ali, ujian tidak
dilaksanakan di Kampus tetapi di Pondoknya Ustadz Yaqin. Wah, sebuah keputusan
yang menggembirakan tentunya. Bukan hanya suasana baru yang akan kami nikmati
tapi juga kekakraban yang lebih hangat untuk lebih mengenal asisten dosen yang
selalu sabar dalam menularkan ilmunya pada kami. Bayangan dalam imajinasi yang
kuat hadir dibenakku saat pemberitahuan itu. Bagaimana suasana religious di
dalamnya? Bagaimana bentuk bangunannya? Bagaimana cara menempuh jalan ke sana?
Berbagai pertanyaan hinggap menyelimuti bayanganku, dan tentunya pertanyaan
terakhir adalah bagaimana ujian dilaksanakan? Ayat mana yang akan diujikan
padaku? Dan beebagai pertanyaan lainnya. Dari segala pertanyaan yang muncul
dalam benakku akhirnya akan terjawablah beberapa jam ke depan. Kuambil tas yang
saat itu berada di sampingku, dengan hati-hati kumasukkan modul yang menjadi
bahan hafalanku. Setelah semuanya siap, kulangkahkan kaki keluar dari kamarku
dan menghampiri teman-teman. Terlihat jarum jam tanganku menunjuk pada angka
tujuh. Segera kuturuni satu persatu anak tangga dari lantai tiga menuju lantai
dasar. Tak terpikirkan berapa jumlah anak tangga yang telah kulalui, terus saja
kaki ini melaju dengan sedikit gugup sembari terus mengulang hafalanku agar
selalu melekat dalam otak. Belum sampai di lantai dasar, kulihat sosok yang tak
asing lagi bagiku sedang duduk dengan seriusnya di dekat jendela ruang TV. Dengan
gamis khasnya, aku bisa dengan mudahnya mengenali satu temanku itu meski dari
balik badannya, yah Nisa namanya. Gadis keturunan Kalimantan Jawa ini dengan
sedikit gugup mencoba mengulang kembali hafalannya. Aku pun segera masuk dan
menghampirinya. Tanpa memanggil nama, aku langsung saja berdiri di samping
kursi tempatnya duduk karena tak ingin memutus ayat al-Qur’an yang sedang
dilantunkannya, juga tak ingin membuatnya kaget dengan sapaanku. Setelah
ia berhenti, spontan aku bertanya “Udah hafal semua mbak?”. “Belum lancar,
Febi”, jawabnya. “Ayo, nghafalkan bareng.” Ajaknya kemudian. “He’em.” Aku
menganggunk. Sambil menunggu teman-teman lain yang masih bersiap-siap, aku
dengan Nisa terus saja memperbaiki hafalan kita.
Beberapa
menit berlalu, terdengar tak jauh dari tempatku berada sebuah teriakan yang
familiar di telingaku memanggil semua nama teman satu persatu. Hampir setiap
akan adanya kegiatan selalu ada suara demikian. Hingga tak heran lagi para
mahasantri selain kelasku turut hafal nama-nama kami karena seringnya
terdengar. Apalagi suara yang menggema dari lantai dasar hingga lantai lima. “Tria,
Sofi, Zahra, Bila, Fikah, Ega, Murni, Febi, Ima, Nadia!” teriak salah satu
suara. Disambut dengan suara lain, “Fiska, Norma, Nisa, Yuyu’, Iva, Rina, Dinda!”.
Wah, satu asrama Khadijah binti Khuwailid ini rasanya terpenuhi dengan ramainya
suara anak B3 BKI. Satu persatu nama yang tersebut kemudian menuruni tangga
menuju ke pintu keluar asrama. Aku yang saat itu tengah berada di lantai 2
depan tangga turut mengikuti mereka. “Ayo berangkat mbak.” ajakku kepada Nisa.
“Iya, duluan aja.” jawabnya dengan senyum indah di bibirnya. “Aku tunggu di
bawah ya.” Ucapku dengan suara agak keras sambil berlalu meninggalkan ruangan
menuju lantai bawah.
Kulihat
teman-teman sedang bergiliran mengambil sepatu yang tertata di loker
masing-masing, dan kemudian disusul olehku. Bersama-sama kami keluar dari pintu
asrama dan standby di depannya sambil menunggu beberapa teman lain yang masih
dalam persiapannya. Begitu semuanya sudah berkumpul, langsung saja let’s go!.
Langkah
kaki kami berhenti di halaman masjid. Kutengok kanan kiri mencari teman
laki-laki namun belum ada satu pun yang menampakkan batang hidungnya. Barulah
sebentar kemudian, dari kejauhan terlihat mereka mulai berdatangan meski belum
semua. Kami terus saja berada di sana hingga terdengar mobil pick up
yang akan mengantarkan kami lewat dari arah barat. “Itu dia!” teriakku. Semua
mata tertuju pada satu angkot warna kuning di arah ujung jari telunjukku,
diikuti satu angkot lagi dibelakangnya. Dengan heran, dalam hati aku bertanya,
“Kenapa angkotnya malah terus berjalan ke timur? Sedangkan aku dan teman-teman
sudah standby di barat, huh”, keluhku. Aku pun langsung melangkahkan
kaki di belakang teman-teman menghampiri mobil tersebut. Kira-kira dua puluh
meter dari tempatku berdiri. Segera aku masuk ke dalam mobil dan memposisikan
duduk dengan tenang, begitu juga dengan yang lainnya. Karena jumlah putri yang
jauh lebih banyak dari pada putra, mobil yang aku tumpangi sudah tak mampu menampung
dua putri lagi, penuh. Suasana pun menjadi gaduh saat hampir semuanya mengeluh,
ditambah dengan beberapa yang berusaha mencari solusi dan mengungkapkan
argumennya. “Sudah penuhlah, mana bisa masuk lagi? Panas ni...” teriak salah
satu orang temanku. “Diamlah, aku coba itung ini. Dua cewek ikut di mobil cowok
aja lah.” kata seseorang mencoba mendamaikan. “Yah, benar itu. siapa yang
mau?”. “Ga’mau lah. Sudah pewe ni.” Ungkap Rina. “Aku, aku”, Murni dan Dinda
mengajukan diri. “Sip, masuk sana.” teriak teman-teman.
Meski
agak berseteru sebentar, namun suasana kembali kondusif. Semuanya telah duduk
dengan tenang. Tanpa menuggu apa-apa lagi, langsung saja dua mobil pick up
warna kuning melaju dengan pasti menuju pintu gerbang. Terlihat di balik
jendela banyak mahasiswa lain yang tidak satu tujuan turut memandangi kami.
Kami? Atau hanya mobil yang kami tumpangi? Entahlah.
Empat
roda dengan melaju dengan kencangnya ke arah selatan setelah keluar dari
gerbang utama. Bayanganku tiba-tiba melayang saat melihat gerbang warna hijau
itu. yah, aku ingat ketika pertama kali mataku tertuju padanya. “Indah, kokoh.”
ungkapku. Dan kini kakiku sudah tak terhitung lagi entah berapa kali
melewatinya. Bayanganku tentang gerbang itu perlahan buram seiring memudarnya
pandanganku. Mobil telah membawaku jauh meninggalkan UINSA, kampus tempatku
berproses. Tiba-tiba aku kaget saat badanku tak bergerak lagi. Kidapati ternyata
mobil berhenti di depan Alfa Mart. Ada beberapa teman yang membeli sejumlah
makanan dan minuman sekedar untuk mengisi perut di mobil menemani obrolan kami.
Setelah semuanya kembali, perjalanan pun dilanjutkan.
Hampir
setengah jam aku belum saja turun. Jalan-jalan yang kulewati terlihat asing di
mataku. Yah, memang mata ini belum pernah berjumpa karena hanya sekitar kampus
yang biasa kujelajahi. Namun, dengan pemandangan baru itu rasanya hati dan pikiran kembali fresh, segala beban di otak memikirkan ujian yang akan
kulaksanakan nanti sejenak hilang.
Yang
ditunggu-tunggu akhirnya hadir di depan mata. Terlihat bangunan yang lumayan
besar berdiri kokoh di sampingku. Kulihat gerbang yang berada di belakangku, di
atasnya tertulis “An-Nur”. “Pasti itulah nama pondoknya.” kataku dalam hati.
Kemudian satu persatu turun dari mobil dan berdiri mengagumi tempat yang sejak
tadi masih dalam bayangan semu. Semua mata kemudian tertuju pada Ustadz Yakin
yang terlihat keluar dari pintu hendak menyambut dan mempersilahkan masuk.
Tanpa berpikir panjang lagi teman-teman putra berjalan dibelakangnya diikuti
yang putri termasuk aku.
Suasana
pertama yang terlukis di otakku adalah religius yang tinggi. Langkah pertama
kakiku menginjak bangunan itu aku langsung melihat ukiran-ukiran dan
lukisan-lukisan kaligrafi arab berisi kalimat Tuhan. Subhanallah. Lama
kumemandang hingga tak tanpa sadar aku tertinggal oleh teman-teman yang
berjalan dekat di depanku. Aku pun segera meninggalkan pandanganku dan beranjak
menaiki anak tangga. Aku mengikuti langkah kaki mereka yang berada sebelumku
menuju tempat dilaksanakannya ujian. “Silahkan masuk.” ucap Ust. Yaqin
mempersilahkan. Tak tanggung-tanggung lagi kami bersama masuk melewati pintu
kayu yang terbuka hanya dengan menggesernya ke kanan. Dengan menghadap ke
utara, kami berjajar menjadi beberapa shaf. Kanan anak putra dan kiri anak
putri. Dan aku pun mengambil barisan terdepan.
Rasanya
jantung semakin berdebar dengan kencangnya. Diikuti suara teman-teman yang
sibuk sendiri-sendiri untuk memperlancar hafalannya. Suasana gaduh pun tak
terkontrol lagi. Maka dengan tegas Ust. Yaqin mencoba menghentikan muroja’ah
kami dan mengajak untuk segera dimulai. Kemudian beliau memerintahkan untuk
membaca ayat-ayat yang akan diujikan dari awal hingga selesai secara
bersama-sama.
Ayat
demi ayat kami lantunkan. Awal yang baik ternyata belum tentu berakhir dengan
baik pula. Mulai dari pertengahan hingga akhir rasanya ayat yang kami baca tak
semerdu awal, tidak serentak bahkan terkesan dibuat main-main. Ust. Yaqin tak
berkomentar apapun. Barulah saat semua ayat terbaca beliau mengungkapkan
kekecewaannya. Dengan kepala tertunduk, hati yang takut, juga perasaan yang
malu kurasakan. Bukan hanya malu kepada beliau namun kepada Sang Pencipta
tentunya. Apalagi saat Ust. Yaqin mengatakan, “Kalian sadar apa yang sedang
kalian baca? Itu firman Allah, bukan sekedar bacaan. Tidak ada rasa
mengagungkankah kalian?. Kami hanya terdiam hingga tak ada satu suara pun
selain suara beliau. “Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk kalian, jangan
pernah sekali-kali diulang lagi”. tambahnya.
Suasana
tegang berlalu. Ust. Yaqin dengan sifat sabarnya memaklumi kami yang tadi
berbuat kesalahan. Langsung saja ujian segera dimulai. Tanpa diurut absensi,
juga tanpa tunjukan, satu persatu dari kami dipersilahkan untuk maju bagi yang
sudah siap. Aku mengambil giliran ke empat dari tiga puluh teman yang mengikuti
ujian. Dengan sedikit gugup kuhampiri bangku Ust. yaqin di depanku sejauh
kurang lebih satu meter. Aku mendapatkan empat ayat yang harus dihafalkan. Alhamdulillah,
satu persatu ayat mampu kuhafal meski ada beberapa yang agak terhenti karena
gugupnya berada langsung di depan penguji. “Hmmm, serasa waktu ujian lisan di
pondok.” ungkapku dalam hati.
Karena tergolong maju paling depan, waktuku
pun tersisa banyak setelah itu karena menunggu semua teman maju satu persatu.
Sembari menanti itu, aku segera mengambil mushaf dari dalam tas dan muroja’ah
hafalanku. Aku mengambil tempat yang agak pojok agar aku tak mengganggu
teman-teman tentunya.
Tak terasa waku bergulir begitu cepat,
hingga semua telah mengambil gilirannya. Ust. Yaqin kemudian meminta kami untuk
menulis pesan kesan kepada beliau lewat selembar kertas. Langsung saja kuambil
binder dari dalam tasku dan meminjam polpen karena saat itu polpenku tidak bisa
digunakan. Aku duduk agak menjauh dari teman-teman, berusaha mencari keadaan
tenang di belakang pojok. Kutuliskan di sana kalimat-kalimat yang hanya kutujukan
untuk satu dosenku itu. Belum sampai selesai, Munir sudah meminta kertas yang ada
di tangaku untuk segera dikumpulkan. Akhirnya dengan tuisan yang hanya sebagian
halaman langsung kukumpulka, disusul oleh teman lainnya yang sebenarnya masih
ingin menulis lebih kesan lebih banyak lagi.
Ruangan kembali terdengar agak rebut,
obrolan di sana sini seakan campur dan berkumpul menjadi satu suara. Barulah
beberapa waktu kemudian suasana bila langsung dikondusifkan saat salah seorang
dari teman kami mengusulkan untuk berfoto bersama. Semua langsung menanggapi
baik usulan itu. Dengan antusias, semuanya segera memposisikan diri secara
teratur. Kali ini giliran anak putri berfoto lebih dahulu bersama Ust. Yaqin,
sedangkan anak putra antri menunggu di belakang kamera. Setelah berkali-kali jepretan,
kemudian anak putri turut gabung di depan barisan putra. Kami berfoto bersama
meski ada sedikit kesulitan saat memposisikan kamera karena tidak ada satupun
yang mau menjadi fotografer. Akhirnya HP milik Norma menjadi solusi tepatnya. Alhamdulillah,
dua hingga tiga kali potretan dirasa cukup.
Tibalah waktunya sholah dhuhur. Bergegas
Ust. Yaqin menyarankan untuk sholat berjama’ah setelah itu baru diperkenankan
pulang. Kami pun meng-iyakan. Bersama-sama aku dan teman-teman menuruni anak
tangga menuju pintu keluar. Terlihat di lantai dua, ruangan yang ketika pertama
klai masuk kubilang sangat indah dan religius, ternyata itulah masjid tempat
bersujud kepada Sang Ilahi. Setelah meletakkan tas di barisan belakang, kami
bersama-sama antri untuk mengambil air wudhu. Sempat lama sekali saat antri
karena air di lantai dasar mati. Aku pun mendatangi tempat wudhu lain setelah
ada seseorang bapak-bapak memberitahu keberadaan tempatnya. Aku dan beberapa
teman putri yang lain bergantian berwudhu karena memang hanya ada dua kran.
Kami juga bergantian untuk saling menjaga pintu berusaha menutupi teman yang
sedang berwudhu karena tempat yang terbuka dengan lubang masuk tanpa pintu.
Ditambah lagi dengan banyaknya anak putra penghuni asli pondok tersebut yang
ketika itu turut antri di depan tempat wudhu yang kami tutupi itu, dikhawatirkan
ada aurat yang terlihat oleh mereka. Setelah semuanya sudah berwudhu, langkah
kaki kami langsung menuju masjid dan siap untuk sholat berjama’ah.
Irama merdu lantunan ayat al-Qur’an yang
dibacakan oleh Ust. Yaqin sebagai imam membuat hati semakin tenang. Rasanya tak
ingin hanya sholat dhuhur itu yang diimami oleh beliau. Namun, karena keadaan
yang tidak memungkinkan maka akhirnya selesai sholat kami langsung memutuskan
untuk pulang. Dua mobil pick up yang sebelumnya mengantarkan kami
ternyata sudah standby di tempat parkir. Terlihat pula dua supir yang
tengah berdiri di sampingnya.
Tanpa menunggu waktu lama lagi, aku dan
teman-teman segera memasuki mobil dengan berpamitan dengan Ust. Yaqin terlebih
dahulu. Lambaian tangan kami kepada beliau saat mobil telah menggerakkan
rodanya menggambarkan keinginan untuk bisa kembali ke tempat itu jika ada
kesempatan lain. Semoga Allah memberikan kesempatan untuk berkunjung kembali, aamiin.
----------------
Senin,
11 Mei 2015. Hari ini, bukan lagi ruang D1.203 yang menjadi tempatku menimba
ilmu. Kami menyebutnya Ruang Sidang Bimbingan dan Konseling Islam. Masih dalam
satu gedung, namun ruang itu terletak agak jauh dari kelasku aslinya. Dengan
menuruni anak tangga sejauh sepuluh meter dari pintu kelas kemudian terus
berjalan ke timur kira-kira lima belas meter, maka sampailah.
Sebagaimana
janji Prof. Ali beberapa minggu yang lalu, hari ini akan didatangkan seseorang
yang berkebangsaan Mesir untuk berbagi ilmunya kepada kami. Senang sekali
rasanya, Allah menghadirkan diriku pada hari itu. Alhamdulillah. Dengan
memakai kemeja merah dan celana hitam dilapisi dengan jas CSSMoRA (The
Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) bagi yang putra
dan rok hitam berkerudung merah serta memakai jas pula bagi yang putri, kami
berusaha menyambut dengan rapi kedatangan beliau, Syekh Ibrahim Muhammad
Ibrahim al-Hasany al-Azhary al-Mishry.
Sebelum Syekh hadir, dipandu oleh Ust. Agus,
dosen kami sekaligus Kepala Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam juga
pembimbing mahasiswa PBSB (Program Beasiswa Santri Berprestasi) kami
bersama-sama melafadzkan sholawat:
الله
الله.... ربنا الله.... الله الله..... الهنا الله.... تبنا الى الله ورجعنا الى
الله وندمنا على ما فعلنا....
Demikianlah sholawat yang selalu
dilantunkan saat berkumpul bersama. Hati terasa bergetar saat lisan
mengucapkannya ditambah dengan irama yang sangat merasuk dalam kalbu.
Tak beberapa lama kemudian, sosok yang
ditunggu-tunggu lagi datang dari balik pintu. Tidak sendirian, beliau ditemani
oleh seorang istri dan ketiga anaknya, dua putri yang berumur sekitar 3 dan 6
tahun dan seorang putra sekitar 13 tahun. Kami mengiringi kedatangan mereka
dengan lantunan sholawat pula:
طلع
البدر علينا # من ثنية الوداع
وجب
الشكر علينا # ما دعا لله داع
ايها
المبعوث فينا # جئت بالأمر المطاع
انت
غوثنا جميعا # يا مجمل الطباع
Kulihat senyum terpancar dibibir mereka,
menandakan bahwa mereka senang dengan penyambutan kami. Alhamdulillah. Langsung
saja beliau dipersilahkan menduduki kursi yang telah disiapkan di depan,
sedangkan keluarga berada di kursi samping kiri tak jauh dari beliau. Selepas
itu, langsung saja acara dibuka oleh Faisal dan Nisa sebagai MC. Dengan tiga
bahasa, mereka membuka acara dengan sangat memukau. Nada khas mereka juga
menambah antusias dari kami sebagai pendengar, terlihat dari sorak sorai para
mahasiswa dan dosen yang hadir saat itu. Apalagi saat keduanya bersama-sama
membacakan nama acara yang terpampang di banner depan:
الحلقة العلمية
"التربية
والتعليم في اندونيسيا والجمهورية مصر العربية واحوال الأمة الإسلامية
مع فضيلة الشيخ ابراهيم محمد ابراهيم الحسني
الأزهري المصري"
Selesai pemukaan, yang berisikan lantunan
ayat suci al-Qur’an, sambutan oleh Kepala Prodi Bimbingan dan Konseling Islam,
dan penutup kemudian Faisal dan Nisa kembali ke tempat semula. Barulah acara
yang ditunggu-tunggu segera dimulai. Ust. Yaqin mengambil posisi duduknya di
sebelah kanan Syekh untuk memandu jalannya acara tersebut.
Banyak sekali pengetahuan baru yang
disampaikan oleh Syekh. Namun tidak semua yang bisa kucatat, mungkin karena aku
terpukau dengan cara penyampaian beliau yang berbahasa Arab, yang di sela-i
dengan sedikit bahasa Indonesia. Aku mngambil beberapa poin penting sekaligus
gambaran besar dari apa yang disampaikan oleh beliau, berikut ini:
1. Keadaan umat Islam sekarang: Pada zaman
sekarang ini banyak pergerakan umat Islam yang meng-atasnamakan jihad. Tidak
sedikit dari umat Islam sendiri yang menjadi korban atas ambisi mereka yang
menganggap bahwa Islam harus disebarkan dengan berjihad seperti yang mereka
gemborkan. Salah satu dari pergerakan itu adalah ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Mereka telah salah dalam menafsirkan ayat al-Qur’an
yang berbunyi:
قال تعالى:
واللّذين جاهدوا فينا لنهدينّهم سبلنا....(الأية)
Kata “Jaahaduu” yang terdapat dalam
firman Allah tersebut ditafsirkan sebagai jihad seperti yang
dilakukan mereka. Padahal tafsir yang shohih adalah bahwa yang dimaksud
yakni jihad melawan hawa nafsu.
2.
Di antara
kejahatan ISIS:
a.
Membakar pilot
Yordania
b.
Memenggal 20
orang Nasrani di perbatasan Mesir, dll.
3.
Pergerakan umat
Islam semisal ISIS dan lainnya bukanlah dinamakan jihad, apalagi telah
menyebabkan hadirnya berbagai kerusakan dan fitnah-fitnah di dunia, serta
melenyapkan nyawa para saudara muslim sendiri. Padahal, Nabi Muhammad SAW.
melarang umatnya ketika berperang untuk memotong pepohonan, membunuh wanita,
anak kecil, orang tua, bangunan-bangunan yang
bermanfaat dan lain-lain. Tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran Nabi. Dalam
salah satu hadis Nabi juga disebutkan " القاتل والمقتول فى النار " (Orang yang membunuh maupun dibunuh sama-sama
akan masuk neraka).
4.
Orang Islam
tidak boleh membunuh orang Yahudi dan Nasrani, karena sejatinya ketiganya
memiliki satu ajaran pokok yang sama. Sebagaimana yang dicontohkan Nabi
Muhammad semasa hidupnya, ia selalu bergaul dengan mereka layaknya saudara
sendiri. Meski dikatakan bahwa Yahudi dan Nasrani pada zaman Nabi berbeda
dengan sekarang, namun perintah Rasulullah dan apa yang tercantum dalam
al-Qur’an telah jelas bahwa kata Yahudi dan Nasrani adalah umum, bukan untuk
Yahudi dan Nasrani di masa Rasulullah saja. Maka, meskipun ada perbedaan tapi
esensinya tetap sama. Mereka adalah keturunan Yahudi dan Nasrani dahulu, dan
orang islam harus bergaul dengan mereka sebagaimana Rasulullah, tidak boleh
memeranginya.
5. Umat Nabi Muhammad SAW. adalah umat yang
istimewa karena di akhirat akan menjadi saksi penyampaian risalah Nabi-Nabi
terdahulu.
Dalam suatu riwayat diceritakan bahwa Nabi
Nuh a.s. ditanya oleh Allah SWT. “Hai Nuh, Sudahkah kau sampaikan wahyu dari-Ku
kepada umatmu?. “Sudah wahai Tuhanku”, jawab Nabi Nuh. Allah lalu bertanya
kepada umat Nabi Nuh. “Sudahkan Nuh menyampaikan wahyu dari-Ku kepada kalian?”.
“Belum ya Allah”. Karena dua jawaban yang berbeda kemudian Allah berfirman
kepada Nabi Nuh. “Hai Nuh, umatmu tidak merasa bahwa kau telah menyampaikan
wahyu-Ku. Sekarang tunjukkan bukti bahwa kau telah menyampaikannya!”. Nabi Nuh
menjawab, “Wahai Tuhanku, Muhammad dan umatnya yang akan menjadi saksi atas
penyampaian risalahku”.
6. Pada malam isra’ dan mi’raj, Nabi Muhammad
SAW. mempunyai tiga permohonan (do’a) kepada Allah. Nabi memohon agar Allah:
a. Memenangkan umat Islam di setiap peperangan
b. Menjadikan umatnya sebagai penduduk
mayoritas di surga
c. Tidak menghadirkan konflik di antara umat
Islam.
Dari ketiga do’a tersebut, doa yang pertama dan kedua dikabulkan
oleh Allah SWT, sedangkan yang ketiga tidak.
7.
Penyakit umat
islam sekarang adalah perpecahan dan konflik. Keduanya merupakan sunnatullah. Terjadinya konflik dimulai
ketika terbunuhnya Khalifah Umar bin Khatthab oleh Abu Lu’luah. Penyakit
tersebut bisa diatasi dengan beberapa obat, di antaranya:
a.
Menyebarkan
mahabbah
b.
Satu tujuan
dalam menyebarkan Islam
c.
Mengikuti
kelompok yang paling banyak
d.
Kalau tidak
bisa, hendaklah diam di dalam rumah sampai datangnya pertolongan dari Allah.
e.
Memahami
al-Qur’an dan as-Sunnah secara benar-benar oleh para guru yang mempunyai sanad
sampai pada Rasulullah.
f.
Jauhi segala
sesuatu yang menimbulkan permusuhan.
8.
Makkah dan
Ka’bah adalah kiblatnya umat Islam ketika shalat, Mesir (al-Azhar) adalah
kiblatnya umat Islam dalam hal keilmuan dan Indonesia adalah kiblatnya umat
islam dalam hal adab dan tata krama.
9.
Sebagai
mahasiswa, hendaklah bersungguh-sungguh dalam belajar mulai dari sekarang agar
nantinya menjadi orang hebat yang setiap nasehat kita akan dipertimbangkan oleh
orang lain karena sekarang kita masih belum mempunyai pengaruh besar terhadap
pergerakan Islam.
Selesai penyampaian materi oleh narasumber,
tibalah saatnya sesi tanya jawab. Satu persatu dari audien mengangkat
tangannya. Agar lebih mudah, tiap pertanyaan yang diajukan oleh satu penanya
langsung saja dijawab dan setelah itu baru giliran penanya berikutnya. Dengan
agak gugup aku pun mencoba mengangkat tangan. Akhirnya Ust. Yaqin menunjukku
dan mempersilahkan untuk bertanya. Wah, rasanya benar-benar gugup waktu itu.
Apalagi tiba-tiba dari arah kiriku terdengar suara Ust. Agus berteriak. “Beri applause
untuk Lia!”. Semua yang hadir pun menyambung tepuk tangan beliau. Aku pun
segera mengambil mixrofon yang ada di depanku dan bertanya:
كما عرفنا أن اليهود والنصرى الآن يختلفون من اليهود
والنصرى الذين عاشون في زمن رسول الله. هل علينا أن نعامل اي نعاشر كما في معاشرة
النبي معهم في زمانه؟
“Sebuah pertanyaan yang bagus.” ungkap Syekh.
Kemudian beliau menjelaskan bahwa ayat-ayat tentang Yahudi dan Nasrani yang
tercantum dalam al-Qur’an telah jelas bahwa kata Yahudi dan Nasrani adalah
umum, bukan untuk Yahudi dan Nasrani di masa Rasulullah saja. Maka, meskipun
ada perbedaan tapi esensinya tetap sama. Mereka adalah keturunan Yahudi dan
Nasrani dahulu, dan orang islam harus bergaul dengan mereka sebagaimana
Rasulullah semasa hidupnya yang mempergauli mereka layaknya saudara sendiri.
Orang Islam tidak boleh memeranginya. Karena sejatinya ketiganya mempunyai
ajaran pokok yang sama.
Terdengar
adzan dhuhur berkumandang. Karena acara juga sudah mencapai detik akhir,
akhirnya dicukupkan. Bergegas kami maju ke depan untuk meminta foto dengan
beliau dan keluarganya. Warna merah-merah seakan mewarnai ruang sidang ketika
itu. Tak mau ketinggalan, meski Ust. Thohir saat itu berbaju batik dengan
dominan motif warna hijau, beliau antusias untuk ikut berfoto. Ust. Agus dengan
bercandanya seolah melarang beliau untuk ikut berfoto. Suasana bertambah seru
karena semuanya pun ikut tertawa, tak terkecuali Syekh.
Setelah
foto-foto dianggap cukup, Syekh dan keluarga langsung keluar dan kembali ke
Ruang Dosen tak jauh dari Ruang Sidang, hanya berjarak sekitar lima meter saja.
Namun, kami tidak langsung pulang, karena harus mengembalikan ruangan seperti
semula, bersih dan rapi. Ditambah dengan Ust. Agus yang menginginkan kami untuk
membeli makan siang oleh dua orang dan lainnya menunggu untuk dimakan
bersama-sama.
Menunggu datangnya nasi, kami bersama-sama melanjutkan untuk bersih-bersih. Tiba-tiba ada sebuah kejadian yang membuat semua sangat panik. Kurni, salah satu teman kami yang berperan besar dalam berlangsungnya acara itu tiba-tiba sakit perut dan jatuh dari kursi yang didudukinya. Sontak semuanya kaget dan segera membawanya ke luar menuju Ruang Jurusan. Ia ditempatkan di kursi busa panjang berlapis kain merah. Di sana, terus saja ia muntah dan meronta kesakitan di bagian perutnya. Banyak yang mengindikasikan bahwa ia dari semalam belum makan. Akhirnya hal itu pun dibenarkan oleh Kurni sendiri dengan anggukannya. Innalillah.
Menunggu datangnya nasi, kami bersama-sama melanjutkan untuk bersih-bersih. Tiba-tiba ada sebuah kejadian yang membuat semua sangat panik. Kurni, salah satu teman kami yang berperan besar dalam berlangsungnya acara itu tiba-tiba sakit perut dan jatuh dari kursi yang didudukinya. Sontak semuanya kaget dan segera membawanya ke luar menuju Ruang Jurusan. Ia ditempatkan di kursi busa panjang berlapis kain merah. Di sana, terus saja ia muntah dan meronta kesakitan di bagian perutnya. Banyak yang mengindikasikan bahwa ia dari semalam belum makan. Akhirnya hal itu pun dibenarkan oleh Kurni sendiri dengan anggukannya. Innalillah.
Dari
balik pintu Ruang Jurusan, terlihat Ust. Agus berjalan dari Ruang Dosen untuk
melihat keadaan Kurni. Dengan agak panik beliaupun menyuruh teman-teman lain
membawanya ke klinik kampus. Namun Kurni menolak. Ia tetap bersikeras untuk
tetap beranjak dari tempatnya. “Gak papa.” ucapnya. Kami pun tidak bisa
membujuk Kurni. Semoga memang benar-benar tidak apa-apa dan cepat sembuh dari
sakitnya. Aamiin.
Aku
kembali ke Ruang Sidang. Disusul beberapa temanku dari belakang. Setelah
menunggu beberapa saat, datanglah dua orang yang diutus oleh Ust. Agus membeli
makanan. Dua kresek merah besar ia bawa ke dalam ruangan. Satu berisi nasi
bungkus dan satunya berisi krupuk. Sebanyak 30 orang dibagi satu persatu oleh
mereka. “Wah, sedapnyeee.” ungkap Rina setelah membukanya. Kami pun
bersama-sama menyantap makanan itu dengan dimulai do’a bersama-sama terlebih
dahulu. Agar mengefesienkan waktu, juga agar suasana tidak hening, kami membuat
obrolan bersama Ust. Yaqin. Banyak hal yang menjadi tema bahasan ketika itu, termasuk
evaluasi pelaksanaan acara hari itu. Alhamdulillah, acara kali ini
terbilang lancar tanpa kendala. Suasana pun ikut mendukung berjalannya acara
ini dengan baik.
----------------
Senin,
18 Mei 2015. Hari ini aku kembali mendapatkan banyak pelajaran yang berharga
dari Prof. Ali. Dosen yang amat aku kagumi—juga semua mahasiswa di kelasku—itu
memulainya dengan membahas satu firman Allah dalam surat ar-Rahman yang
berbunyi “fabiayyi aalaa-i robbikumaa tukadzdzibaani”. Ayat yang tak
asing lagi didengar oleh seluruh umat muslim—karena keberadaannya yang
disebutkan lebih dari 30 kali dalam satu surat sehingga memakan sekitar 50%
dari jumlah keseluruhan surat—itu memiliki banyak sekali rahasia yang tersimpan
di dalamnya. Salah satunya adalah pesan kepada manusia untuk tidak bosan dalam
menyampaikan nasehat. “Tiada bosan memberi pesan”, demikian Prof. menyebutnya.
Begitu melimpahnya nikmat yang dianugerahkan oleh Sang Maha Pemberi Rizki,
namun banyak manusia yang tidak bersyukur kepada-Nya. Sebagaimana penjelasan
tambahan dari Ust. Yaqin, “Banyaknya ayat tersebut menunjukkan banyaknya nikmat
Allah dan banyak pula dari hamba-Nya yang tidak bersyukur”. Maka dengan ayat
ini Allah memberi peringatan kepada manusia. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah
yang telah kamu dustakan?”, firman-Nya berulang kali. hal ini dapat diambil
kesimpulan bahwasanya dalam pembentukan pribadi seseorang tidaklah cukup hanya
dengan satu kali perintah. “Padahal itu pesan dari Tuhan kepada Makhluk-Nya,
bagaimana dengan sesama makhluk? Pasti membutuhkan lebih banyak pengulangan.”,
tambah Prof. kemudian. Subhanallah, Maha benar Allah atas segala
firman-Nya.
Tak
lama setelah itu, dengan tatapan mata khasnya dibalik kaca mata, Prof. Ali
menanyakan tentang tulisan. Sontak hati terasa bagai disambar petir secara
tiba-tiba. Bagaimana tidak, aku sama sekali belum menambah tulisan yang
ditargetkan dua minggu yang lalu. “Hmmm, selalu hujan jantung yang mewarnaiku
saat tiba waktu seperti ini”, kataku dalam hati. Karena waktu yang terbatas,
kurang lebih hanya dua jam setengah, langsung saja seperti yang telah dikatakan
Kurniawan sebelumnya, hari ini satu
persatu tulisan akan diperiksa. Kupandangi teman-teman yang berada di sisi
kanan, kiri dan belakangku, terlihat beberapa dari mereka khusyu’ di depan laptopnya,
sedangkan sebagian yang lain wajahnya agak risau karena tidak membawa laptop
tentunya. Aku mencoba menebak-nebak apa yang ada di hati mereka. Seolah-olah
aku mendengar, “Alhamdulillah, aku nggak bawa laptop, jadi tulisanku nggak akan
dibaca.” Aku menengklengkan kepalaku kembali, dan mendengar lagi, “Wah, kenapa
aku gak bawa. Padahal aku ingin menunjukkannya pada Prof. Ali.”
Tanpa
brlama-lama lagi, karena saat itu juga perkuliahan dibatasi hingga jam sembilan,
Prof. Ali segera memberikan kesempatan kepada kami untuk maju ke depan
menunjukkan hasil tulisannya. Hingga beberapa kali, anjuran beliau untuk berani
maju ke depan tidak ada yang meresposns. Kami terlalu takut akan buruknya
tulisan kami. Dengan tegas, Prof. Ali pun menuturkan, “Hampir satu tahun saya
terus memandu kalian, memberikan motivasi untuk berani tampil di depan. Rugi
saya kalau hanya didengarkan tapi sama sekali tidak dipraktekkan. Apalagi saat
ini hanya sekedar membacakan hasil tulisannya. Perlu dicatat besar-besar bahwa
minder itu kafir. Minder berarti tidak mensyukuri nikmat Allah. Lalu apa yang
kalian takutkan? Takut salah? Takut orang lain mengetahui keburukan kalian? Lha
wong itu diri kalian, kenapa harus ditutup-tutupi, tunjukkan saja yang
sebenarnya. Toh, mereka juga sama seperti kalian. Kalau ingin tahu dan ingin
bisa, tidak ada alasan untuk malu, minder ataupun lainnya.” Aku terdiam
tertunduk malu, merasa salah dengan apa yang aku perbuat. Tapi saat itu memang
aku tak bisa maju, padahal ingin sekali. Hari itu aku tidak membawa laptop,
laptopku kutinggalkan di kamar dengan batrei lemah. Aku belum sempat men-charge-nya
karena tidak sempat lagi. Sebenarnya banyak pula dari kami yang balik ke asrama
untuk mengambil laptopnya sebelum datang Prof. Ali, namun aku tidak ikut karena
keadaan fakultas yang saat itu sedang mati lampu. “Huh, menyesalnya.... mengapa
tidak aku charge tadi sebelum berangkat,” keluhku.
Kesempatan
terbaik itu pun akhirnya diambil oleh Fiska, yang saat itu duduk di sampingku.
Meski sebelumnya ragu, setelah aku dan Zahra memberikan support padanya
untuk maju, kemudian ia pun mempercepat langkahnya. Terlihat dari raut
wajahnya, dengan agak gugup dan cemas ia menghampiri Prof. Ali. Apresiasi yang
sangat besar ditunjukkan oleh beliau kepadanya. “Beri tepuk tangan untuk anak
hebat ini!” ungkap Prof. Ali. Semuanya pun memberikan tepuk tangannya. Kemudian
beliau mempersilahkan Fiska untuk duduk di samping beliau. Dekat sekali, hingga
semua mata seolah terharu dan hati serasa menyesal karena tidak mengambil
kesempatan itu. Prof. Ali juga berjanji akan memberikan sebuah buku karyanya
kepada Fiska yang hingga saat ini masih dalam tahap penulisan. Wah, iri hati
rasanya. Ditambah lagi dengan permintaan Prof. Ali untuk mengambil gambar
bersama Fiska dan Ust. Yaqin yang berada di sebelah kanannya.
Setelah
memberikan berbagai apresiasi itu, kemudian Prof. Ali meminta Fiska untuk
membaca tulisannya. Berbagai masukan ia berikan kepadanya juga kepada kami
semua. “Ingat, jangan pernah ada kata pengulangan. tulisan akan bosan dibaca
jika isinya disajikan dengan kata yang diulang-ulang”, ucap beliau.
Cukup
dengan Fiska, kemudian Prof. Ali memberikan kesempatan lagi kepada yang
lainnya. Dengan semangat satu persatu dari kamu maju ke depan dan duudk di
samping beliau. Karena waktu terbatas, maka hanya empat orang yang mendapatkan
kesempatan itu. namun, tidak seberuntung pertama, mereka yang maju hanya duduk
di sebelah beliau tanpa dijanjikan buku dan foto bersama. Yah, tentunya itu
hadiah khusus bagi yang berani mengambil tempat pertama. Fiska mengatakan, “Aku
mengambil emas di hadapan banyak orang.”
Prof.
Ali memberikan kata-katanya kembali, “Penulis pemula sering kali menertawakan
tulisannya sendiri, tapi tidak apa-apa. Itu adalah proses”. Memang benar, aku
sering kali tertawa saat membaca ulang kalimat yang pernah kutulis beberapa
hari yang lalu. Terasa malu dan tanpa sadar bertanya, “Ko’ bisa seperti ini ya
tulisanku?”.
Tak
berhenti dengan kata itu, Prof. Ali dengan seriusnya mengatakan, “Saya tidak
ikhlas meluluskan kamu jika belum menjadi penulis besar.” Deg, aku seketika
kagum dengan kata itu. Baru kali ini aku mendapati seorang dosen yang begitu
besar keinginannya menjadikan mahasiswanya orang hebat. Namun, tentunya akan
lebih banyak tugas yang diberikan oleh beliau termasuk tugas menulis 50 halaman
ini. Prof. Ali menambahkan lagi, “Jangan menunggu sampai kelapa jatuh dari
pohonnya, tapi panjatlah untuk meraih kelapa itu meski tangan dan kakimu lecet.
Kelapa yang bersantan itu jauh lebih berguna dari pada kepala yang tak pernah
berdzikir.” Subhanallah, sebuah kata-kata yang bijak dan penuh motivasi.
Perkuliahan
di hari itu akhirnya dicukupkan. Prof. Ali mengingatkan kembali bahwa
perkuliahan sebenarnya sudah selesai karena jadwal hadir kuliah sudah
terpenuhi. Namun beliau tidak ingin membiarkan kami begitu saja tanpa ada jam
kuliah sebelum tugas menulis diselesaikan. Sebagai gantinya, Prof. Ali
menginginkan Ust. Yaqin untuk tetap meneruskan kajiannya pada hari Sabtu jam
setengah 8 pagi. Semuanya pun menyetujui dengan senang hati.
----------------
Pertama
kali kuberjumpa dengan Ust. Yaqin, dan dari segala cerita-cerita yang
disampaikan tentang siroh nabawiyah membuatku tahu bahwa ynag tengah berada di
depanku adalah sosok pengagum besar Nabi Muhammad SAW. Dengan begitu semangat
dan gairah terbesarnya ia ceritakan tentang segala yangada dibenaknya tentang
Nabi kita tersebut. Hingga di segala momen pertemuan kami dengan beliau selalu
terselip cerita tentang Rasulullah. Subhanallah.
Begitu
juga dengan kajian kami pada hari Sabtu. Dengan beralaskan tikar dari banner
maupun lantai di serambi masjid, tak tanggung-tanggung Ust. Yaqin menularkan
ilmu yang dimilikinya. Tujuan awal terlaksananya kajian ini adalah untuk
menambah pengetahuan dalam berbahasa Arab karena beliau mengetahui banyak dari
kami yang butuh tambahan ilmu tentang itu, terutama dalam praktiknya. Akan tetapi dalam pelaksanaannya menjadi sebuah kajian rutin yang tidak hanya mempelajari tentang bahasa Arab tapi juga siroh nabawiyah.
Kajian
pertama beliau isi dengan mendikte sebuah kalimat berbahasa Arab. Dari tulisan
itu dapat diketahui tingkat kemahiran bahasa Arabnya, juga kepekaan dalam
menulis Arab. Setelah dilaksanankannya tes tersebut, kemudian dilanjutkan
dengan berbagai cerita Rasulullah. Dengan kitab berjudul “Siroh Nabawiyah”
yang dibawanya, Ust. Yaqin dengan greget yang besar membacakannya kepada kami.
Kami pun menyambutnya dengan antusias yang besar pula. Kitab yang besampul
warna hijau itu membahas secara lengkap kepribadian Nabi Muhammad SAW. beserta
kisah kehidupannya. Mulai dari bentuk rambut, jenggot, cara berjalan dan
hal-hal rinci lainnya pun diceritakan. Begitu tertarik sekali aku mendengarnya,
serasa seperti bertemu dengan Rasulullah langsung.
Beberapa
pertemuan selanjutnya, tanggal 16 Mei 2015 yang bertempat di serambi masjid Ulul
Albab UIN Sunan Ampel Surabaya bagian selatan. Bertepatan dengan isra’ mi’raj
Nabi tanggal 27 Rajab 1436 H, Ust. Yaqin tidak memberikan materi tentang bahasa
Arab. Beliau memfokuskan untuk memberikan pengetahuan tentang isra’ mi’raj.
Sebelumnya, ia membaca sebuah kutipan dari penulis buku yang saat itu tengah
dipegang Mizan. “....Bahwa bantal dan keringat tidak akan pernah senadi.”
Mendengar kata-kata itu, semuanya terdiam, terlihat tidak ada satu pun yang
paham. Kemudian beliau pun menjelaskan, bantal itu diibaratkan sebuah keadaan
di mana sesorang yang hanya tertidur tanpa usaha sedangkan keringat adalah
usaha yang sungguh-sungguh. Tentu antara bantal dan keringat tidak akan pernah
menyatu/ berjalan beriringan. Orang yang malas tidak akan pernah sukses.
Sebaliknya orang yang terus berusaha, dialah yang akan sukses. Keduanya
bertolak belakang. “Oh.. begitu...” ungkapku dalam benakku.
Kemudian
Ust. Yaqin menceritakan tentang peristiwa isra’ mi’raj. Apa hikmah dibalik
pertemuan Rasulullah dengan para Nabi terdahulu di setiap tingkatan langit?
Satu persatu dijelaskan oleh beliau.
Langit
pertama, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam. Mengapa? Karena setelah
terjadinya peristiwa isra’ mi’raj, Rasulullah akan diusir oleh kafir Quraisy
sebagaiman Nabi Adam diusir dari surga karena melanggar larangan Allah. Langit
kedua, Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa. Mengapa? Karena setelah itu
Rasulullah akan di kejar-kejar dan dibunuh oleh Kaum Kafir Quraisy pula
sebagaimana Nabi ‘Isa oleh kaumnya dahulu. Yang ketiga adalah Nabi Yusuf.
Mengapa? Karena Nabi Yusuf disambut dan disayangi oleh banyak orang termasuk
raja dan istrinya setelah ia diselamatkan dari sumur tua yang menelannya atas
ulah saudara-saudaranya, sebagaimana Rasulullah kelak, ia akan disambut dan disayangi
oleh penduduk Madinah setelah terjadinya hijrah. Langit yang keempat, Rasulullah
bertemu dengan Nabi Idris yang terkenal dengan pengetahuannya yang sangat luas.
Di sinilah Rasulullah juga terkenal dengan ilmunya yang sangat tinggi. Langit ke
lima, Rasulullah bertemu dengan Nabi Harun. Mengapa? Karena Nabi Harun terkenal
dengan gaya bicaranya yang bagus sehingga menjadi juru bicara Nabi Musa saat
menyampaikan risalah kepada kaumnya. Maka Rasulullah pun terkenal dengan afshohul
fushoha’, terfasih dari segala yang terfasih. Rasulullah terkenal dengan
estetika/ retorika bahasanya yang sangat bagus pula saat berdakwah kepada
kaumnya, hingga banyak sekali yang kagum dan tertarik dengan tata bicara Rasulullah
SAW. langit yang keenam, Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa. Apa alasannya? Karena
Nabi Musa adalah Nabi yang paling kuat di antara Nabi lainnya. Dengan sekali
tampar, ia telah menewaskan orang yang kuat sekalipun. Namun, kekuatan Nabi
Musa ternyata terkalahkan oleh Rasulullah. Terlihat saat terjadinya isra’ mi’raj
tersebut, Rasulullah mampu melihat Dzat Allah, sedangkan Nabi Musa hanya
melihat cahaya Allah saja sudah tidak mampu dan tergeletak pingsan. Ketika perang
pun, Rasulullah selalu berada di barisan terdepan memandu para sahabatnya. Meski
terkena luka yang terbilang parah, Rasulullah tetap dengan kuatnya maju terus
melawan para pemberontak. Kemudian langit yang terakhir, Rasulullah bertemu
dengan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim terkenal dengan dzurriyah sholihah. Sebagaimana
banyaknya do’a yang menyebutkan keinginan agar keluarganya menjadi seperti
keluarga Nabi Ibrahim. Begitu juga Rasulullah, keluarga beliau adalah keluarga
yang sholih sholihah, hingga sekarang keturunan beliau terkenal dengan budi
baiknya. Subhanallah. Maka apabila kita menjumpai orang yang katanya
atau mengaku sebagai keturunan Rasulullah yang kurang baik akhlaknya, perlu
ditanyakan itu benar atau tidaknya.
Membahas
tentang dzurriyyah sholihah, kemudian Ust. Yaqin teringat dengan do’a yang
selalu dipanjatkan oleh ayahnya. Tidak ada sholat ayahnya melainkan setelahnya
membaca do’a ini:
رب
هب لي من الصالحين رب اجعل لي وذريتي مقيم الصلاة ربنا تقبل دعاءنا
Bersambung pada Sabtu minggu berikutnya, Ust.
Yaqin membahas tentang nasab Rasulullah yang
berjumlah 22 orang sebelum Nabi Ibrahim. Rasulullah SAW. bersabda:
انا
ابن ذبيحتين (Aku anak dari dua orang yang
disembelih)
Berbicara tentang hadits Nabi ini, Ust.
Yaqin mencoba bertanya kepada kami apa yang
dimaksud dengan ibn dzabihatain. Aku pun terdiam karena ini baru pertama
kali terdengar di telingaku. Kemudian satu orang di pojok kiri dari sudut
mataku mengacungkan tangannya, dialah Munir. Satu temanku ini memang selalu
nyambung saat membahas tentang sejarah. Mungkin dia memang suka membaca
sejarah, terutama sejarah Nabi SAW. Dengan segera Munir menjawab, “Yang
dimaksud yakni Ismail dan Abdullah ibn ‘Abdul Mutholib”. Ust.
Yaqin pun bertanya kembali tentang perbedaan adanya
penyembelihan keduanya. Munir pun menjawab lagi, “Kalau Nabi Ismail, ia
disembelih karena adanya mimpi ayahnya yakni Nabi Ibrahim yang mendapatkan
perintah dari Allah untuk menyembelihnya, sedangkan ‘Abdullah disembelih karena
adanya janji yang dilontarkan oleh ayahnya yakni Abdul Mutholib. Ia berjanji
jika anaknya genap sepuluh maka salah satu dari mereka akan disembelih. Agar penentuan
menjadi adil, akhirnya dibuatlah sebuah pengundian di mana salah satu nama yang
keluar maka ia-lah yang harus bersedia untuk disembelih. Dari sepuluh
pengundian, ternyata semua nama yang keluar adalah nama Abdullah. Namun, hampir
semua dari keluarga Bani Hasyim tidak setuju akan hal itu maka ditebuslah janji
Abdul Mutholib untuk menyembelih Abdullah dengan disembelihnya 100 unta. Maka Abdullah
ayah Nabi Muhammad SAW. pun tidak jadi untuk disembelih.
Kemudian Ust. Yaqin
melanjutkan ceritanya tentang sejarah Rasulullah saat disusui oleh Halimah
binti Abi Du’aib yang lebih dikenal dengan nama Halimah Sa’diyah karena berasal
dari Bani Sa’ad. Memang sebuah
kebiasaan orang Arab tatkala anak kecil tidak disusui langsung oleh ibunya
sendiri. Mereka lebih memilih untuk menyusukannya kepada orang pedesaan yang
diakuinya lebih alami, ditambah dengan bahasanya yang lebih halus. Maka dengan
menitipkannya kepada orang desa maka diharapkan anaknya akan menjadi anak yang
baik budi pekertinya dan lembut tutur katanya. Dan saat mencapai umur sekitar 6
tahun, barulah anak tersebut dikembalikan kepada orang tuanya.
Tak seperti bayi-bayi lainnya yang
diperebutkan oleh para calon penyusu, bayi Rasulullah ditolak mentah-mentah
oleh mereka. Alasannya adalah karena Rasulullah anak yatim dan diindikasikan
bahwa keluarganya tidak akan mampu membayar upah kepada mereka. Maka dengan
keikhlasan hati Halimah Sa’diyah, ia menjadi wanita satu-satunya yang mau
menerima Rasulullah untuk disusuinya.
Berbagai keberkahan didapatkan oleh Halimah
sejak pertama kali menimang Rasulullah di atas kedua tangannya. Unta dan
kambing miliknya seketika berubah menjadi gemuk padahal tanah di daerah
tersebut sedang tandus. Sehingga unta yang dikendarainya pun menyalip unta para
penyusu yang dahulunya menolak untuk menyusui Rasulullah. Terlihat raut wajah
yang menyesal dari mereka, apalagi mengetahui banyaknya hal yang didapatkan
oleh Halimah berkat menyusui bayi kecil Rasulullah.
Rasulullah hidup bersama Halimah selama
lima tahun. Beberapa waktu sebelum ia mngembalikan Rasulullah kepada keluarganya,
ada sebuah kejadian yang membuat Halimah sangat panik. Teman-teman sepermainan Rasulullah
yang ketika itu melihatnya, segera memberi kabar Halimah bahwa Muhammad
meninggal. Dengan sangat khawatir Halimah menghampiri tempat di amna Rasulullah
berada. Ternyata ia menemukannya dalam keadaan yang baik-baik saja. Kemudian dipeluknya
erat-erat anak kesayangannya itu. Halimah tidak mengetahui hal yang tengah
terjadi di kala itu. Sejarah menceritakan bahwasanya pada saat itu Nabi telah
didatangi dan dibawa oleh dua malaikat yakni Jibril dan Mika’il. Kedua malaikat
itu membelah dada Rasulullah dan mensucikannya. Demikian pula pada saat
peristiwa iara’ mi’raj, Rasulullah dicuci hatinya sebelum bertemu dengan Allag
SWT. di Sidratul Muntaha. Subahanallah.
Demikian sepenggal cerita yang disampaikan
oleh Ust. Yaqin. Karena hari sudah panas, akhirnya pertemuan dicukupkan. Semangkuk
bakso menjadi penutup perjumpaan kami di hari itu.
Terimakasih Ust. Yaqin, kau telah banyak berbagi ilmu dan pengalaman untuk kami. Perhatianmu mengungkapkan bahwa engkau adalah sosok kakak juga pengajar yang baik. Terimakasih.








Terimakasih Ust. Yaqin, kau telah banyak berbagi ilmu dan pengalaman untuk kami. Perhatianmu mengungkapkan bahwa engkau adalah sosok kakak juga pengajar yang baik. Terimakasih.
----------------
Jum’at, 30 Mei 2015.
Secercah harapanku hampir sirna tatkala
jari manis tak sejalan dengan pikirku. Ratusan kata yang sejak tadi kurangkai,
hanya dengan satu klik kolom yang
bertuliskan “Don’t save” seketika lenyap bagai debu yang tersiram hujan. Ya
Allah, serasa otakku tak mampu lagi menguntai kata-kata pengganti. Haruskah
kuakhiri semua ini?
Hampir
kukehilangan ide untuk kembali merangkai kata yang telah terhapus oleh tanganku
sendiri. Rasa sesal masih tersisa dalam hati. Kumerasa tak mampu lagi mengganti
kata-kata yang telah terhapus dengan yang lebih indah. Rasa kantuk dan pusing
membuatku semakin pasrah dengan gagalku. Tangan dan otakku tak tergerak lagi
untuk kembali menulis. Akhrinya kucoba menenangkan diri, berharap sebuah
semangat kan hadir dalam diriku kembali. Kuraih handphone di sampingku.
“Ibu?”, ketikku dalam lembar pesan dan segera kukirimkan ke ibu. Tak lama HP-ku
berdering. Ibu meneleponku. Senangnya, aku pun mengangkat panggilan itu tanpa
berpikir panjang lagi.
Bagai
stimulus yang sangat mujarrab saat kudengar nasehat darinya, sang
pelipur laraku, ibu. Tak henti-hentinya semangat diberikan untukku. Meski mata
ini tak langsung melihat, namun hati turut merasakan hadirnya. Tutur katanya
seakan menarik semangat yang melayang entah kemana kembali melekat dalam
diriku. Alhamdulillah, terimakasih ibu. Kaulah penyemangat hidupku.
----------------
Prof.
Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag, sebuah nama yang tak asing lagi terdengar, tak
hanya di UIN Sunan Ampel Surabaya, tapi
telah mendunia. Dengan motto hidupnya “Ingin membahagiakan 1 milyar orang”,
dalam aplikasinya jauh melebihi yang ditargetkan. Tak terhitung lagi orang yang
telah dibuat bahagia olehnya. Dengan dakwahnya, lantunannya (ayat-ayat
al-Qur’an), sosok inspiratifnya, goresan penanya bahkan segala yang ada dalam
hidupnya selalu memberikan pelajaran berharga bagi yang mau mengambilnya. Maka
tentulah sebuah kebahagiaan yang tak terlukiskan saat diriku ditakdirkan bisa
menimba ilmu langsung darinya. Tak hanya bertatap muka sebagaimana dosen dengan
mahasiswanya, akan tetapi di berbagai kesempatan aku merasa semakin dekat
dengannya. Atas permintaannya sendiri, berkali-kali kudiberikan apresiasi untuk
berfoto bersanding dengannya dan secara khusus menerima beberapa buku hasil karyanya.
Alhamdulillah.
Teringat
saat ku pertama kali bertatap muka dengannya. Kata-kata yang terucap dari
lisannya begitu bijak, indah, membuat takjub siapapun yang mendengarnya. Bukan hanya
karena retorika bahasa yang merasuk hati, tapi isi dibalik untaian katanya yang
membuat hati serasa bergetar dan reflek membenarkannya. “Oh, iya ya.” selalu ungkapan
itulah yang muncul di bibirku saat menanggapi pernyataannya.
Tak terasa
dua semester telah berlalu. Hari di mana aku bisa menimba ilmu banyak darinya
di ruang kuliah kini hanya tersisa bayangan dalam ingatan. Meski selalu rasa
cemas dan khawatir yang muncul saat akan hadir di kelas mata kuliahnya, namun
berbagai rasa itulah yang membuatku semakin rindu dan haus akan motivasinya. Pikiranku
kadang merasa tertekan dengan tugas yang diberikan olehnya, akan tetapi hasil
yang kuperoleh selalu meyakinkanku akan tantangan selanjutnya. Dengannyalah
kini kumulai yakin dengan potensi yang melekat dalam diriku. Potensi yang sejak
dulu masih saja kuragukan, padahal berkali-kali telah dibuktikannya.
Sungguh
berbeda sebelum dan sesudah kuberjumpa dengannya. Satu masalah yang sering membuatku
takut karena sulit untuk menyampaikan ilmu dengan untaian kata, tapi kini aku
lebih tenang karena bisa berbagi lewat goresan pena. “Menulis, menulis,
menulis, menulis dan menulis.” demikian ujarnya. Dengan tuntutan yang diberikan
padaku mulai semester satu itulah yang kini membuatku semakin nyaman dengan
menulis. Meski awalnya berat, bahkan sangat berat tapi perlahan rasa itu
berbalik bahkan membuatku ketagihan. Aku teringat dengan beberapa hasil
tulisanku beberapa saat yang lalu. Cerita pendek yang berjudul “Mentari
Sepeninggal Senja” dan “Tulisan Siapa?”, keduanya aku tulis karena dituntut
oleh tugas yang harus segera deadline. Meski jadi (membuahkan hasil),
akan tetapi kini aku malah dibuatnya tertawa saat membacanya kembali. Susunan
kata dan retorika bahasa yang terlihat benar-benar pemula. Begitu juga dengan hasil tulisanku di awal penulisan tugas ini, berbeda sekali dengan yang akhir. Dengan seringnya
menulis dan membaca hasil karya teman ini barulah aku lebih mengerti tentang
pengolahan kalimat dan menambah perbendaharaan kata. Alhamdulillah,
semoga pengetahuan itu terus bertambah seiring banyaknya hasil tulisan dan
bacaan.
Terimakasih
ya Rab, Kau telah mengizinkanku hadir di tempat dan waktu yang sama bersama
Prof. Ali, dosen sekaligus motivator, konselor dan inspirator hidupku. Terimakasih
Prof., darimu aku mengerti banyak hal, aku semakin percaya akan potensi yang
ada dalam diriku, aku semakin paham dengan keberadaanku di dunia ini. Terimakasih
atas berbagai nasehat dan motivasimu, juga berbagai apresiasi yang telah kau
berikan untukku. Semoga yang kudapatkan darimu menjadikanku semakin yakin dan
terpacu untuk meraih kesuksesan sepertimu bahkan melampauimu. Semoga Allah senantiasa
selalu memberikan limpahan karunianya untukmu, agar orang-orang di luar sana
bisa merasakan hal yang tak jauh berbeda denganku. Dan semoga setiap langkahmu
selalu diliputi oleh ridho-Nya. Aamiin.
















Lia ,,,,
BalasHapuspenulisannya bagus lia, tingkat kan lagi dan tetap semangat,,,
good job sobat,,
dan juga jangan lupa, kalo bisa pengulangan kata, tanda titik dan koma nya di lihat,,,
. ini temen ane nihhh.... temen gokill anee.... mantap, tulisan sampean dah bagus... tpi EYD .. Ojo lali
BalasHapusTulisannya sudah bahus hanya saja hrus banyak perhatikan pengejaan kata" nya lagi dan tanda" baca
BalasHapusTrimakasih. Semoga bisa menjadi perbaikan untuk saya. :)
BalasHapusBagus dek... perbnyak latihan menulis lagi yah... (y)
BalasHapusiya kak.. makasih :)
Hapusjudul yang langsung membuat hati tertarik
BalasHapustulisannya menarik, membuat pembaca tidak bosan menikmati setiap alur katanya... semoga tulisannya bermanfaat.. terus berkarya plend!
BalasHapusTulisannya sdhh bguss....tetapi satu saran dari saya ...yaitu jangan terlalu cepat puas.... harus lebih banyak menulis lagi .....guru kita saja yg tulisannya sdh sampai keluar negeri masi tetap menulis....apalagi kita yg sebagai pemula....;)
BalasHapusapik ws an siap terbit ui :)
BalasHapussemangat melanjutkan tulisannya lagi ya :)
BalasHapushallo febii.....
BalasHapussiiphh dah tulisannya sudah,,
kembangkan lagi yah karyamu. ok.
(y) sipp,, baguss tulisan.nya mbk veb..
BalasHapustp alangkah lebih baguss.nya kalo ditambah gambar atau apa gitu yg lebih berwarna,, hehe
biar yg baca lebih tertarik gitu.. ;)
@Alpin_
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmenarik banget aku bingung mau komentar apa yang jelas ada satu kata yang seharusnya kamu tulis akan tapi hanya kan. gtou aja koment balik yah
BalasHapusPlok plok plok 5 jempol buat dek febi. 😁
BalasHapusAlurnya pas! Kayanya bakat nulis novel.
tuh kan,, benar dugaan bila. semua orang bisa menulis. apalagi kalau udah bisa bikin cerpen inspiratif kayak mba febi. udah pinter, cantik, gak sombong,, sholelah deh... tetap berbagi yah adek hhe
BalasHapuswih... rapi eg... manteb blog e...
BalasHapusmbak tulisannya bagus., semangat yaa.,
BalasHapusWah..org cerdas ini punya bakat jd penulis hebat....
BalasHapusJd org besar yh..minimal di Bojonegoro....
Wah..org cerdas ini punya bakat jd penulis hebat....
BalasHapusJd org besar yh..minimal di Bojonegoro....
kesan-kesanmu memang selalu menjadi inspirasi bagi kita :)
BalasHapusaduh... feby, tulisannya gak secalm orangnya, tulisannya keren banget.. menginspirasi orang-orang.. good job febi..!!
BalasHapusTidak sia-sia saya berlama-lama membaca blog ini, benar-benar sangat inspiratif. Struktur kata yang tersusun begitu rapi namun tetap tidak terkesan kaku. Hebat!
BalasHapusTerima kasih feb, sudah menginspirasi....
BalasHapusDikembangkan ya....
Tong kosong nyaring bunyinya, kebalikan dari pribahasa tersebut yang bisa menggambarkan pribadi seorang Lia/Veby. Tidak sedikitpun dia terpengaruh dengan lingkungan yang sangat memekakkan telinga. Peraih nilai tertinggi dua kali berturut-turut dan tulisan yang mengalir bagaikan air menjadi bukti bahwa diam bukan berarti hampa. Ada banyak hal yang musti aku dan mereka pelajari dari seorang Veby yang begitu menginspirasi dan memotivasi lewat goresan penanya. Semoga kami cepat mencapai apa yang telah kamu capai, tetap ingat EYD dan tetap semangat berkarya. Ayo sukses bersama.
BalasHapusBagus, Lia. Saya yakin tulisan Lia inilah yang dimaksud dan dinginkan Prof. Ali. Saya gak nyangka minuman yang saya beri ternyata Lia foto. Insya Allah kalau saya punya rejeki, saya akan kasih Lia hadiah lagi jika Lia bisa jawab pertanyaan saya. Keep writing ya? Membaca, membaca, dan membaca, lalu menulis. Sering baca karya sastra ya? agar semakin renyah dan enak dibaca, supaya tulisan Lia semakin cantik, asyik, ciamik, apik, dan menarik. :)
BalasHapusTerimakasih Ustadz. Saya juga gak nyangka ternyata ada bakat menulis juga, yang baru saya sadari setelah dapat tugas menulis dari Prof. Ali ini.
HapusBegitu sayang jika membiarkan sebuah pemberian yang berharga tanpa diabadikan. Terimakasih. :) Saya tunggu pertanyaannya Ustadz. Hehe
perhatiakan tulisan titik dan koma nya.
BalasHapustulisannya bagus mbak bi, sangat menginspirasi bagi pemula sperti saya :v (y) good job, nice writing
BalasHapusUntuk redaksi dan isi materi tulisan sudah bagus. Tapi untuk menjadi penulis tidak hanya butuh kecerdasan dan pintar. Istiqomah adalah yang utama. Ingat juga, bahwa semua anugerah yang sampean dapat adalah untuk menyembuhkan yang sakit jiwanya, menolong yang lemah sosial-kapitalnya, menghibur yang menderita batin dan ruhnya. Selamat Berproses dek!
BalasHapusPotensi menulis anda sangta bagus trus ditingkatkan
BalasHapusTrus smangat hasilnya pasti bagus
BalasHapuslanjutkan feb, sudah ada peningkatan
BalasHapusfebii... tetap semangat yah menulisnya, jangan bsan2. ok
BalasHapuslejitkan namau dengan karyamu
BalasHapusjangan pernah putus semangat ok.
BalasHapusterakhir jangan lupa komen balik. oke
BalasHapusAmazing student....sharelah ilmumuu
BalasHapusJgn lupa..komen blog ku jg yah
BalasHapuskeren bi ...
BalasHapustruslah asah kmampuanmu ! ttep smngat,..
BalasHapusbagus banget,, , seakan membaca karya asma nadia. .
BalasHapusteruskan karyamu, ,
BalasHapusTlisanx udh bgus, pnempatan titik & koma juga udah lmayan pas...
BalasHapusperwajahan blognya sudah bagus
BalasHapusbagus feb tulisannya..... semangat terus yah menulisnya..... jangan patah semangat...
BalasHapuslawan kemalasan mu agar kamu bisa menjadi yg terbaik okeh.....????
BalasHapusSubhanallah ,,,,saya tidak menyangka orang yang pintar MTK tapi bisa menulis sebagus ini,,,saya harap menulisnya tetap dipertahankan dan jika perlu ditingkatkan ya,,,,
BalasHapusMakasih Nang... itupun tak luput karena motivasi darimu.
Hapusmantap ,,,lebih ditingkatkan ketelitiannya,,,subaya lebih enak membacanya,,,,
BalasHapusTerimakasih teman2, kritik dan kalian sangat bermanfaat untukku..
BalasHapusTerimakasih teman2, kritik dan saran kalian sangat bermanfaat untukku..
BalasHapusFebi... karyanya selalu menggambarkan bahwa ia berbadan kecil tapi, karyanya selalu keren keren.... terus berkarya mba feb !!
BalasHapusSemangat lagi menulisnya.. ditunggu terbitannya..
BalasHapushidup masih koma artinya kita masih bisa perbaiki ini semua dengan terus menulis.
BalasHapusgo........go.......go........ terus menulis lagi.
BalasHapusTulisan yang sangat inspiratif... intelektualist namun mudah difahami
BalasHapuslebih perhatikan lagi tanda baca>>> good job
(y)
BalasHapusuntuk selanjutnya tingal mempercantik perwajahan blog feb :)
BalasHapusKeren ukh
BalasHapuspengulangan kata masih mendominasi
Semangat kakak!!!
Remarkable! Tulisannya keren lia, sistematis penyusunan katanya udah dapat, cuma ada sedikit masukan nih, untuk penggunaan kata "nya" agar diminimalisir lagi, selain itu untuk pembendaharaan kata juga masih kurang, jangan terus menerus pakai kalimat umum, coba tarik istilah-istilah yang lebih variatif sehingga bisa membuat pembaca makin tertarik untuk membaca habis ceritamu.
BalasHapusKau memiliki potensi besar, tapi tampaknya belum dapat kau optimalkan, keluarkan!
Kegagalan yang paling besar adalah kegagalan karena tidak berani untuk mencoba.
Sukses! Aku tunggu karya dan pencapain besarmu.
Makasih banyak Jadul untuk masukannya..
BalasHapusAku akan perbaiki lagi :)
the main point is the process to get our success :D
BalasHapusgood job n good luck, continue your skill at writing :)
febi unyu unyu... bukunya ditunggu yah !! tulisannya memotivasi
BalasHapussemoga pengalamanmu menjadikanmu lebih baik dan berilmu serta lebih bersyukur dengan apa yang kamu dapat :)
BalasHapusseamnagt febi nulisnya... semua akn ada hasilnya, kita bareng" berjuang .,... Ganbatte!!
BalasHapussmanagat... tulisannya tambah hari tambah bagus
BalasHapusSO GOOD. BUT NOT SO NICE
BalasHapusso far so good
BalasHapusSemangat!
BalasHapus