Malam itu serasa es terbalut dalam keheningan. Aku terdiam di
bawah pohon yang seakan-akan sejak tadi terus memandangiku seraya berfikir apa
yang sedang kuperbuat. Memang bukan tanpa alasan kuhadirkan tubuhku menembus
kesunyian malam itu, aku teringat dengan kata-kata nenek beberapa tahun silam
yang mungkin entah berapa ribu kali ia lontarkan padaku
Senin, 25 Mei 2015
Tulisan Siapa?
Mata sipit Mia tak henti-hentinya
memandangi sederet kata yang tertulis indah dalam sebuah kertas yang ia temukan
tiga hari yang lalu terselip di buku catatannya. Entah berapa lama Mia menatap
tulisan itu, hingga tanpa sadar ia telah membiarkan mie rebus yang ada di
sampingnya tak berkuah lagi.
“Gubrak..!!”, terdengar suara dari
luar jendela. Sontak Mia kaget dan mengalihkan fokusnya ke arah asal suara itu.
“Ish...”, keluhnya.
Sejuta Makna di Balik Tetesan Peluh Usaha
Bismillahirrohmanirrohim,
Sejenak kulepaskan segala beban yang
ada di pikiranku. Mencoba dengan tenang kugerakkan jemari menelusuri
huruf-huruf di keyboard. Kulayangkan pandanganku ke atas, berharap temukan
sebuah inspirasi yang akan mengantarkan gerakan tanganku memenuhi lembar kerja
kosong yang entah berapa lama terpampang di depan kedua bola mataku. Perlahan satu
kata kuhadirkan di pojok kiri atas. Aku berharap dengan satu kata itu akan menghadirkan
kata-kata yang masih berputar di benakku namun belum hendak memunculkan sosok indahnya.
Kupandangi sejenak tulisan itu, hanya sepertiga dari deretan baris pertama.
Kulihat lagi ke bawah, masih terbalut dengan warna putih bersih. Ya Allah,
berapa kata lagi yang harus kuketik untuk menutupi lembaran tak bernoda ini? Rasanya
hanya 0,000 sekian persen dari satu lembar word. Namun, tak ingin
berhenti sampai di sini, kucoba hilangkan pikiran negatif itu, aku yakin bahwa
optimis akan membuahkan keberhasilan. Yah, satu kata pertama itu yang kan
memancing seribu bahkan sejuta kata-kata yang masih tersembunyi dibalik
jemariku. Bimu’awanatillah, insya Allah.
Langganan:
Postingan (Atom)