Mata sipit Mia tak henti-hentinya
memandangi sederet kata yang tertulis indah dalam sebuah kertas yang ia temukan
tiga hari yang lalu terselip di buku catatannya. Entah berapa lama Mia menatap
tulisan itu, hingga tanpa sadar ia telah membiarkan mie rebus yang ada di
sampingnya tak berkuah lagi.
“Gubrak..!!”, terdengar suara dari
luar jendela. Sontak Mia kaget dan mengalihkan fokusnya ke arah asal suara itu.
“Mia..... ada kabar baru nih....
buka dong!!”, teriak seorang gadis sambil menggedor pintu kamar Mia mencoba
masuk.
Suara yang tak asing terdengar di
telinga Mia tak membuat ia gugup. Mia yang pikirannya masih tertuju pada
tulisan tadi perlahan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
“Kabar baru apa Lus?”, tanyanya
dengan nada datar.
“Lemes banget sih.... biarkan aku
masuk dulu and aku bakal kasih tau kamu, ok?”, ujar Lusi seraya mempermanis
senyumnya.
“Hmm... yaa yaaa..”, Mia membalikkan
badan dan kembali ke kasurnya diikuti Lusi dari belakang.
“Uh.. sedapnyaa...”, kata lusi saat
matanya tertuju pada mie di atas meja.
“Eh, mie enak gini kenapa dibiarin
sih. Mubadzir lo... mending dihibahkan ke yang lagi laper nih, hehe”, rayu
Lusi.
“Hmm... makan aja, itu juga mie dari
tadi”, jawab Mia datar. Gadis yang berhidung mancung ini masih saja menyelami
tulisan yang terpampang di depan mata indahnya.
“Eh, tunggu. Kaya’nya dari kemaren
ada yang beda dari kamu Mi?”, tanya Lusi agak bingung memikirkan tingkah laku
aneh Mia akhir-akhir ini.
“Apanya yang beda? Nggak kog,
mungkin....”
“Srett...”, belum selesai Mia
menjawab, selembar kertas yang sejak tadi menjadi pusat pandangan Mia beralih
tangan ke Lusi.
“Eh... bawa sini!!”, teriak Mia
menginginkan kertas itu kembali.
“Hal yang paling indah di dunia ini
adalah saat aku dan kamu menjadi kita”, ucap Lusi membaca tulisan di kertas
dengan suara yang keras.
“Ciyee........”, goda Lusi.
“Apa’an sih.. ko’ ciye?”, tanya
Faiza berlagak tidak paham.
“Oh... jadi ini yang bikin temenku
yang manis ini nggak selera makan?”, ujar Lusi.
“Hih, bukan lah...”, elak Mia.
“Udah... ngaku aja. Berkali-kali aku
lihat kamu diem aja. Nggak di kelas, di perpus, sampe’ di kamar juga diem trus.
Hayooo ada apa? Barang kali temen baikmu ini bisa membantu”, ujar Lusi kembali menebarkan
senyum manisnya.
“Nggak ada apa-apa ko’. Eh ya, tadi
katanya ada berita baru, apa?”, tanya Mia mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ah... gak jadi. Itu gak penting.
Kamu kenapa sih? Ada hubungannya sama kertas ini ya? Ini dari siapa sih?”,
tanya Lusi serius.
“Hmm.... nah itu aku nggak tau itu
tulisan siapa”, jawab Mia mencoba jujur.
“Loh, ko’ bisa?”, Lusi
bertanya-tanya.
“Owh..... jadi selama ini kamu
bingung itu tulisan siapa? Mau nyari tau? Haha”, cibir Lusi sambil melototkan
matanya ke wajah Mia.
“Hihh....... ko’ malah ketawa? Emang
ada yang salah?”, balas Lusi.
“Nggak sih... heran aja, ngapain
repot-repot nyari tau kaya’ ginian. Ada-ada aja. Hehe”, ucap Lusi.
“Ya kan penasaran. Siapa tau
penggemar rahasiaku. Bisa aja Toni, 4 hari lalu kan dia tiba-tiba pengen pinjem
buku catatanku ini, atau Rio, kamu tau kan kalau dia sering nglihatin akau dari
jauh, atau..... Rizal, hehe aku pengen buktikan aja”, Mia mulai kembali ke
watak aslinya, cerewet.
“Haha, Rizal? Anak kepsek itu?
Ngayal kamu, dia anti cewek tau”, ujar Lusi.
“By the way... jadi itu sebabnya
kemaren kamu buntutin Toni waktu di perpus? Buka-buka tas Rio waktu istirahat?
Trus... pergi ke ruang kepsek cuma untuk tau alamat rumahnya? Oh Mia......”,
Lusi menghela napas panjangnya.
“Hmm........ aku salah ya?”, tanya
Mia sambil menampakkan wajah melasnya.
“Itu bukan salah lagi, tapi salah
banget. Haha, masak gara-gara tulisan yang gak jelas itu sampe buat kamu
melakukan hal-hal bodoh seperti itu. Coba fikir deh. Dua hari kamu nglamun di
kelas sampai ditegur sama guru, waktu istirahat diem di pojok kelas sambil buka
buku, aku kira emang baca eh gak taunya nglihatin tulisan ini kan? Mia...
Mia...”, cibir Lusi dengan senyumnya. Dalam hatinya ia mengungkapkan betapa
polosnya sahabat karibnya itu. Memang Mia adalah seorang gadis yang sejak
dahulu cuek dengan kegemaran anak remaja sekarang. Tapi tanpa sadar, usia yang
semakin menunjukkan kedewasaannya membuat rasa cueknya terkalahkan. Tampak
sekarang, diam-diam Mia mulai perhatian dengan hal yang sekecil itu. Ia
menduga-duga bahwa tulisan itu sengaja ditulis oleh seorang yang menaruh hati
padanya.
Mia diam sejenak. Ia baru merasa
betapa bodohnya hal yang telah dilakukannya. Tapi ia tetap bersikeras.
“Ah.. Lus..... aku kan Cuma
penasaran. Pokoknya aku tetep mau cari tau siapa penulis itu. Dan aku pastikan
kamu akan kaget kalau sudah tau itu coretan tangan siapa”, ujar Mia dengan
serius.
“Hmm.. ya yaa... terserah kamu lah.
Asal jangan nyesel aja kalau ternyata itu tulisan Pak Suryo, hahaha”, kembali
Lusi melontarkan cibirannya.
“Hihh... nggak lah. Guru yang paling
ganas itu? Ada-ada aja”, jawabnya. Mia menganggap Lusi serius dengan ucapannya.
“Hehe... udah ah. Aku mau ngajak
kamu jalan-jalan ke taman sekarang. Mumpung libur. Gak usah dipikirin soal
tulisan itu. Gak penting banget. Hahaha”, Lusi mengeraskan suaranya di
kata-kata terakhir sambil berusaha kabur dari kamar Mia.
“Hiiihhh.... Lusi....... lihat aja
nanti”, balas Mia. Tak tanggung-tanggung ia melempar bantal yang ada di
sampingnya ke arah Lusi. Tapi kaki cepat Lusi telah duluan keluar dari kamar,
hingga bantalnya hanya berhasil mengenai pintu.
“Aku tunggu lima belas menit
lagi...... awas kalau nggak dateng”, teriak Lusi dari depan rumah Mia.
Mia tak membalas lagi teriakan Lusi.
Ia masih bertanya-tanya dengan penulis misterius itu, meski di sisi lain ia
terpengaruh dengan kata-kata Lusi barusan. Ia berkata dalam hatinya, “Apa aku
terlalu penasaran? Tapi kan nggak mungkin kata-kata itu sembarangan ditulis
orang trus nggak sengaja diselipkan di bukuku? Pasti orang yang ada rasa
denganku. Ya.. aku yakin itu. Aku akan buktikan ke Lusi kalau dugaanku pasti
benar”, Mia sangat yakin dengan firasatnya.
Belum sempat Mia menghentikan
lamunannya, suara Ria terdengar memanggil namanya.
“Kak Mia....”, teriak adiknya yang
imut itu dari balik pintu disusul kehadirannya tak berapa lama kemudian.
“Ish.. kamu ganggu aja dek, ada
apa?”, ujar Mia ketus.
“Ibu manggil kakak tuh”, jawab Ria.
“Kakak udah lihat tulisanku itu?”,
tambahnya sambil menunjuk kertas yang dipegang Mia.
“Maksudmu?”, tanya Mia kaget.
“Ituu.... yang kakak pegang, bagus
kan? aku mau nempelkan itu di mading kelas. Tapi sebelumnya aku mau nanya
pendapat kakak dulu”, jelas Ria dengan senyum simpulnya.
Mia terdiam. Ia mendadak lemas. Tak
tau mau berkata apa-apa lagi. “Jadi.........”,gumamnya dalam hati.
“Kakak kenapa? Bagus kan
tulisannya?”, tanya Ria kembali.
Mia masih membisu. “Oh.... tidak,
tulisan yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranku, membuatku risau, mengurangi
nafsu makanku, memaksaku melakukan hal-hal yang konyol, tidak konsen di kelas,
sampai membuang-buang waktuku hanya untuk memandangi tulisan ini, tapi
ternyata..... ini hanya tulisan adikku yang mau ditempelkan di mading. Apa yang
harus kukatakan pada Lusi? Ah.. betapa malunya aku?”, kata Mia dalam hati.
Wajahnya terlihat memerah. Ia membayangkan jika nanti ia memberitahu Lusi yang
sebenarnya, Lusi pasti akan menertawakannya dan mencibirnya kembali. “Huh...”,
desahnya.
“Bagus”, jawab Mia datar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar