Senin, 25 Mei 2015

Tulisan Siapa?


Mata sipit Mia tak henti-hentinya memandangi sederet kata yang tertulis indah dalam sebuah kertas yang ia temukan tiga hari yang lalu terselip di buku catatannya. Entah berapa lama Mia menatap tulisan itu, hingga tanpa sadar ia telah membiarkan mie rebus yang ada di sampingnya tak berkuah lagi.
“Gubrak..!!”, terdengar suara dari luar jendela. Sontak Mia kaget dan mengalihkan fokusnya ke arah asal suara itu.
“Ish...”, keluhnya.
“Mia..... ada kabar baru nih.... buka dong!!”, teriak seorang gadis sambil menggedor pintu kamar Mia mencoba masuk.
Suara yang tak asing terdengar di telinga Mia tak membuat ia gugup. Mia yang pikirannya masih tertuju pada tulisan tadi perlahan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
“Kabar baru apa Lus?”, tanyanya dengan nada datar.
“Lemes banget sih.... biarkan aku masuk dulu and aku bakal kasih tau kamu, ok?”, ujar Lusi seraya mempermanis senyumnya.
“Hmm... yaa yaaa..”, Mia membalikkan badan dan kembali ke kasurnya diikuti Lusi dari belakang.
“Uh.. sedapnyaa...”, kata lusi saat matanya tertuju pada mie di atas meja.
“Eh, mie enak gini kenapa dibiarin sih. Mubadzir lo... mending dihibahkan ke yang lagi laper nih, hehe”, rayu Lusi.
“Hmm... makan aja, itu juga mie dari tadi”, jawab Mia datar. Gadis yang berhidung mancung ini masih saja menyelami tulisan yang terpampang di depan mata indahnya.
“Eh, tunggu. Kaya’nya dari kemaren ada yang beda dari kamu Mi?”, tanya Lusi agak bingung memikirkan tingkah laku aneh Mia akhir-akhir ini.
“Apanya yang beda? Nggak kog, mungkin....”
“Srett...”, belum selesai Mia menjawab, selembar kertas yang sejak tadi menjadi pusat pandangan Mia beralih tangan ke Lusi.
“Eh... bawa sini!!”, teriak Mia menginginkan kertas itu kembali.
“Hal yang paling indah di dunia ini adalah saat aku dan kamu menjadi kita”, ucap Lusi membaca tulisan di kertas dengan suara yang keras.
“Ciyee........”, goda Lusi.
“Apa’an sih.. ko’ ciye?”, tanya Faiza berlagak tidak paham.
“Oh... jadi ini yang bikin temenku yang manis ini nggak selera makan?”, ujar Lusi.
“Hih, bukan lah...”, elak Mia.
“Udah... ngaku aja. Berkali-kali aku lihat kamu diem aja. Nggak di kelas, di perpus, sampe’ di kamar juga diem trus. Hayooo ada apa? Barang kali temen baikmu ini bisa membantu”, ujar Lusi kembali menebarkan senyum manisnya.
“Nggak ada apa-apa ko’. Eh ya, tadi katanya ada berita baru, apa?”, tanya Mia mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ah... gak jadi. Itu gak penting. Kamu kenapa sih? Ada hubungannya sama kertas ini ya? Ini dari siapa sih?”, tanya Lusi serius.
“Hmm.... nah itu aku nggak tau itu tulisan siapa”, jawab Mia mencoba jujur.
“Loh, ko’ bisa?”, Lusi bertanya-tanya.
“Owh..... jadi selama ini kamu bingung itu tulisan siapa? Mau nyari tau? Haha”, cibir Lusi sambil melototkan matanya ke wajah Mia.
“Hihh....... ko’ malah ketawa? Emang ada yang salah?”, balas Lusi.
“Nggak sih... heran aja, ngapain repot-repot nyari tau kaya’ ginian. Ada-ada aja. Hehe”, ucap Lusi.
“Ya kan penasaran. Siapa tau penggemar rahasiaku. Bisa aja Toni, 4 hari lalu kan dia tiba-tiba pengen pinjem buku catatanku ini, atau Rio, kamu tau kan kalau dia sering nglihatin akau dari jauh, atau..... Rizal, hehe aku pengen buktikan aja”, Mia mulai kembali ke watak aslinya, cerewet.
“Haha, Rizal? Anak kepsek itu? Ngayal kamu, dia anti cewek tau”, ujar Lusi.
By the way... jadi itu sebabnya kemaren kamu buntutin Toni waktu di perpus? Buka-buka tas Rio waktu istirahat? Trus... pergi ke ruang kepsek cuma untuk tau alamat rumahnya? Oh Mia......”, Lusi menghela napas panjangnya.
“Hmm........ aku salah ya?”, tanya Mia sambil menampakkan wajah melasnya.
“Itu bukan salah lagi, tapi salah banget. Haha, masak gara-gara tulisan yang gak jelas itu sampe buat kamu melakukan hal-hal bodoh seperti itu. Coba fikir deh. Dua hari kamu nglamun di kelas sampai ditegur sama guru, waktu istirahat diem di pojok kelas sambil buka buku, aku kira emang baca eh gak taunya nglihatin tulisan ini kan? Mia... Mia...”, cibir Lusi dengan senyumnya. Dalam hatinya ia mengungkapkan betapa polosnya sahabat karibnya itu. Memang Mia adalah seorang gadis yang sejak dahulu cuek dengan kegemaran anak remaja sekarang. Tapi tanpa sadar, usia yang semakin menunjukkan kedewasaannya membuat rasa cueknya terkalahkan. Tampak sekarang, diam-diam Mia mulai perhatian dengan hal yang sekecil itu. Ia menduga-duga bahwa tulisan itu sengaja ditulis oleh seorang yang menaruh hati padanya.
Mia diam sejenak. Ia baru merasa betapa bodohnya hal yang telah dilakukannya. Tapi ia tetap bersikeras.
“Ah.. Lus..... aku kan Cuma penasaran. Pokoknya aku tetep mau cari tau siapa penulis itu. Dan aku pastikan kamu akan kaget kalau sudah tau itu coretan tangan siapa”, ujar Mia dengan serius.
“Hmm.. ya yaa... terserah kamu lah. Asal jangan nyesel aja kalau ternyata itu tulisan Pak Suryo, hahaha”, kembali Lusi melontarkan cibirannya.
“Hihh... nggak lah. Guru yang paling ganas itu? Ada-ada aja”, jawabnya. Mia menganggap Lusi serius dengan ucapannya.
“Hehe... udah ah. Aku mau ngajak kamu jalan-jalan ke taman sekarang. Mumpung libur. Gak usah dipikirin soal tulisan itu. Gak penting banget. Hahaha”, Lusi mengeraskan suaranya di kata-kata terakhir sambil berusaha kabur dari kamar Mia.
“Hiiihhh.... Lusi....... lihat aja nanti”, balas Mia. Tak tanggung-tanggung ia melempar bantal yang ada di sampingnya ke arah Lusi. Tapi kaki cepat Lusi telah duluan keluar dari kamar, hingga bantalnya hanya berhasil mengenai pintu.
“Aku tunggu lima belas menit lagi...... awas kalau nggak dateng”, teriak Lusi dari depan rumah Mia.
Mia tak membalas lagi teriakan Lusi. Ia masih bertanya-tanya dengan penulis misterius itu, meski di sisi lain ia terpengaruh dengan kata-kata Lusi barusan. Ia berkata dalam hatinya, “Apa aku terlalu penasaran? Tapi kan nggak mungkin kata-kata itu sembarangan ditulis orang trus nggak sengaja diselipkan di bukuku? Pasti orang yang ada rasa denganku. Ya.. aku yakin itu. Aku akan buktikan ke Lusi kalau dugaanku pasti benar”, Mia sangat yakin dengan firasatnya.
Belum sempat Mia menghentikan lamunannya, suara Ria terdengar memanggil namanya.
“Kak Mia....”, teriak adiknya yang imut itu dari balik pintu disusul kehadirannya tak berapa lama kemudian.
“Ish.. kamu ganggu aja dek, ada apa?”, ujar Mia ketus.
“Ibu manggil kakak tuh”, jawab Ria.
“Kakak udah lihat tulisanku itu?”, tambahnya sambil menunjuk kertas yang dipegang Mia.
“Maksudmu?”, tanya Mia kaget.
“Ituu.... yang kakak pegang, bagus kan? aku mau nempelkan itu di mading kelas. Tapi sebelumnya aku mau nanya pendapat kakak dulu”, jelas Ria dengan senyum simpulnya.
Mia terdiam. Ia mendadak lemas. Tak tau mau berkata apa-apa lagi. “Jadi.........”,gumamnya dalam hati.
“Kakak kenapa? Bagus kan tulisannya?”, tanya Ria kembali.
Mia masih membisu. “Oh.... tidak, tulisan yang akhir-akhir ini mengganggu pikiranku, membuatku risau, mengurangi nafsu makanku, memaksaku melakukan hal-hal yang konyol, tidak konsen di kelas, sampai membuang-buang waktuku hanya untuk memandangi tulisan ini, tapi ternyata..... ini hanya tulisan adikku yang mau ditempelkan di mading. Apa yang harus kukatakan pada Lusi? Ah.. betapa malunya aku?”, kata Mia dalam hati. Wajahnya terlihat memerah. Ia membayangkan jika nanti ia memberitahu Lusi yang sebenarnya, Lusi pasti akan menertawakannya dan mencibirnya kembali. “Huh...”, desahnya.
“Bagus”, jawab Mia datar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar